India dan Brazil tengah memperkuat kerja sama pada sektor mineral kritis dan logam tanah jarang melalui pertemuan antara Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva di New Delhi. Kedua pemimpin membahas peluang menandatangani nota kesepahaman yang fokus pada mineral penting bagi berbagai teknologi seperti kendaraan listrik dan panel surya.
Brazil memiliki cadangan mineral kritis terbesar kedua di dunia, yang sangat dibutuhkan India untuk mengurangi ketergantungan pada impor dari China. India sedang mengembangkan produksi domestik serta upaya daur ulang, sambil mencari sumber pasokan baru dari negara lain termasuk Brazil.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh delegasi Brazil yang terdiri dari lebih dari selusin menteri dan pemimpin bisnis. Lula mengunjungi monumen Mahatma Gandhi sebelum diskusi guna memberikan penghormatan dan menunjukkan simbolik pentingnya hubungan kedua negara.
Dua negara juga berencana untuk memperluas hubungan dagang yang saat ini mencapai nilai lebih dari 15 miliar dolar AS pada 2025, dengan target peningkatan menjadi 20 miliar dolar pada 2030. Hal ini sejalan dengan kebijakan India untuk memperkuat jaringan suplai dan kerjasama ekonomi global.
Berikut beberapa poin penting mengenai hubungan India-Brazil terkait mineral kritis dan perdagangan:
- Cadangan Mineral: Brazil menguasai cadangan mineral kritis terbesar kedua, termasuk rare earth yang sangat krusial bagi teknologi modern.
- Diversifikasi Pasokan: India berusaha mengurangi ketergantungan impor dari China dengan memperluas kerja sama bilateral.
- Nilai Perdagangan: Perdagangan bilateral telah mencapai 15 miliar dolar AS dan ditargetkan 20 miliar dolar AS pada 2030.
- Investasi dan Industri: Perusahaan Brazil seperti Embraer berencana membangun fasilitas produksi pesawat di India bekerja sama dengan Adani Group.
- Kerja Sama Global: India juga mempererat hubungan dengan AS, UE, dan Prancis untuk akses teknologi dan pemrosesan mineral canggih.
Pakarnya dari Council on Energy, Environment and Water, Rishabh Jain, mengatakan bahwa kemitraan ini menjadi bagian penting dalam strategi India untuk menstabilkan rantai pasok mineral kritis secara global. Aliansi antara negara-negara Global South seperti India dan Brazil memberi keuntungan akses langsung ke sumber daya dan membawa pengaruh dalam aturan perdagangan baru.
Diskusi juga mencakup tantangan ekonomi global dan tekanan pada sistem perdagangan multilateral akibat tarif impor yang diterapkan oleh Amerika Serikat pada kedua negara pada tahun lalu. Namun, Washington telah berjanji untuk mencabut beberapa tarif terhadap produk India dalam kesepakatan perdagangan baru-baru ini.
Selain mineral, Brazil menjadi mitra dagang utama India di kawasan Amerika Latin dengan produk ekspor utama antara lain gula, minyak mentah, minyak nabati, kapas, dan bijih besi. Permintaan bijih besi dari Brazil didorong oleh pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi India yang pesat.
Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, menyatakan optimisme bahwa kunjungan Presiden Lula akan memberikan dorongan signifikan terhadap kemitraan strategis kedua negara. Hal ini terbukti dari penandatanganan proyek bersama serta tingkat kepercayaan yang ditingkatkan antar pemimpin.
Dalam kesempatan lain, Lula juga menyampaikan pentingnya membangun kerangka kerja global yang inklusif dan multilateral untuk pengelolaan kecerdasan buatan dalam sambutannya di AI Impact Summit. Ia dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Korea Selatan untuk pertemuan tingkat tinggi dan forum bisnis.
Langkah penguatan kerja sama mineral kritis ini menunjukkan upaya strategis India dan Brazil dalam memanfaatkan kekuatan masing-masing serta menghadapi tantangan perdagangan global yang dinamis. Inisiatif ini juga mencerminkan pergeseran geopolitik dalam pengelolaan sumber daya alam vital bagi teknologi masa depan.
