
Sebuah pelarian massal terjadi di kamp penampungan al-Hol di Suriah yang menampung keluarga-keluarga terkait kelompok Islamic State (ISIS). Insiden ini terjadi setelah pasukan Kurdi, yang sebelumnya menjaga kamp tersebut, melakukan penarikan diri tanpa koordinasi dengan pemerintah Suriah maupun koalisi pimpinan AS.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Suriah, Nureddin Baba, menyatakan bahwa pasukan Kurdi atau Syrian Democratic Forces (SDF) mundur tanpa pemberitahuan. Hal ini menyebabkan ribuan orang, termasuk keluarga anggota ISIS, berhasil melarikan diri dari kamp al-Hol.
Pihak SDF membantah tuduhan dari pemerintah Suriah dan menganggap pernyataan itu sebagai upaya untuk mengalihkan tanggung jawab. Mereka menuduh faksi yang terkait dengan rezim Damaskus masuk ke kamp dan menarik keluar keluarga-keluarga ISIS.
SDF menegaskan bahwa penarikan pasukannya dilakukan untuk menghindari konflik bersenjata di dalam kamp. “Penarikan kami merupakan konsekuensi langsung dari serangan militer dan mobilisasi oleh pasukan pro-Damaskus yang menyasar kamp dan area sekitarnya,” kata pernyataan resmi SDF.
Sebelumnya, SDF mengungkapkan penarikan tersebut juga didorong oleh ketidakpedulian internasional terhadap ancaman ISIS. Mereka mengkritik kegagalan komunitas internasional dalam menangani isu penting ini.
Pihak Suriah menyebut telah menemukan lebih dari 100 titik pelanggaran di dinding pembatas kamp al-Hol. Titik-titik ini diduga dimanfaatkan untuk operasi penyelundupan dan memungkinkan tahanan melarikan diri.
Sebuah dokumen internal yang beredar di kalangan negara Uni Eropa mengkhawatirkan bahwa ribuan orang kemungkinan besar telah kabur dari kamp al-Hol. Sebagian besar penghuninya adalah warga sipil yang terkait dengan ISIS. Status warga negara dari luar Suriah yang melarikan diri saat ini masih belum jelas.
Data dari Wall Street Journal mengutip intelijen Amerika Serikat menyebutkan bahwa antara 15.000 hingga 20.000 orang, termasuk anggota ISIS, kini berkeliaran bebas di beberapa wilayah Suriah. Namun, jumlah tersebut belum dikonfirmasi secara independen oleh pihak lain.
Menurut PBB, kamp al-Hol menampung lebih dari 30.000 jiwa, termasuk keluarga tahanan ISIS. Otoritas internasional dan pemerintah masih belum menemukan solusi efektif untuk mengelola situasi pengungsi ini.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan serius tentang nasib ribuan tahanan dan keluarganya di timur laut Suriah. Beberapa wilayah yang sebelumnya dikendalikan oleh pasukan Kurdi kini dikuasai oleh pemerintah Suriah. Hal ini memperbesar ketidakpastian tentang pengawasan dan keamanan kamp-kamp penahanan.
Dalam beberapa bulan terakhir, tahanan juga kabur dari penjara al-Shaddadi yang menahan ribuan anggota ISIS. Situasi semakin rumit dengan mundurnya SDF, yang sebelumnya menjadi mitra utama AS dalam memerangi ISIS.
Pasukan SDF menuding koalisi pimpinan AS gagal memberikan dukungan yang cukup untuk mencegah serangan faksi pemerintah Suriah. Mereka menjadi terpojok setelah penarikan pasukan AS dan perubahan rezim di Damaskus.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan telah menyelesaikan misi selama 23 hari untuk mentransfer lebih dari 5.700 tahanan ISIS dari wilayah timur laut Suriah ke penahanan di Irak. Upaya ini dilakukan untuk menjamin keamanan para tahanan dan mencegah kebangkitan ISIS di kawasan tersebut.
Latar Belakang ISIS di Suriah
ISIS terbentuk dari sisa-sisa al-Qaeda di Irak dan sempat menguasai sekitar sepertiga wilayah Suriah, dengan Raqqa sebagai ibu kotanya. Pada 2017, SDF bersama koalisi pimpinan AS berhasil membebaskan Raqqa dari kendali ISIS.
Kelompok ini mengalami kekalahan besar pada 2019, namun masih beroperasi secara tersembunyi di Suriah dan Irak. Keterpurukan rezim Assad pada akhir 2024 dikhawatirkan membuka peluang kebangkitan ISIS di tengah kekacauan politik.
Presiden Suriah, Ahmad al-Sharaa, yang bersekutu dengan koalisi anti-ISIS, terus mengintensifkan operasi untuk memburu sisa-sisa anggota kelompok tersebut. Namun, ancaman keamanan tetap tinggi di wilayah tersebut.
Tantangan Repatriasi dan Keamanan Internasional
Tekanan meningkat terhadap negara-negara seperti Australia, AS, dan Inggris agar memulangkan warga negara mereka yang terjebak di kamp-kamp penahanan di Suriah. Sebagian besar tahanan merupakan perempuan dan anak-anak yang merupakan keluarga anggota ISIS.
Lebih dari setengah penghuni kamp al-Hol adalah anak-anak di bawah usia 12 tahun, menurut laporan CNN. Meski demikian, beberapa negara menyatakan penolakan untuk merelokasi warganya, mengutip kekhawatiran keamanan nasional.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menegaskan bahwa negaranya tidak akan memulangkan warga yang memiliki hubungan dengan ISIS. Hal ini menyusul kembalinya 34 wanita dan anak-anak Australia yang ditolak oleh otoritas Suriah ketika mencoba meninggalkan kamp al-Roj.
Kamp al-Roj juga dikenal sebagai tempat penahanan Shamima Begum, wanita asal Inggris yang bergabung dengan ISIS saat berusia 15 tahun dan kemudian kehilangan kewarganegaraan Inggris.
Situasi di kamp-kamp penahanan ISIS di Suriah tetap menjadi isu kritis bagi keamanan regional dan internasional. Kondisi ini menuntut perhatian dan koordinasi lebih kuat antarnegara serta organisasi internasional untuk mengurangi risiko kebangkitan kelompok ekstremis di masa depan.





