Serangan Drone Israel Bunuh Lima Polisi di Gaza Tengah dan Selatan, Upaya Perdamaian Kembali Terancam

Serangan pesawat tak berawak Israel menewaskan sedikitnya lima warga Palestina dalam serangan yang menargetkan pos-pos polisi di kamp pengungsi Bureij di Gaza tengah dan wilayah al-Mawasi di Khan Younis, Gaza selatan. Serangan ini menjadi bagian dari konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun, dengan intensitas yang terus meningkat.

Hamas mengecam aksi militer ini sebagai penghalang upaya mediasi selama fase gencatan senjata yang nyaris tidak pernah dihormati oleh Israel sejak awal Oktober. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menyatakan bahwa peningkatan jumlah korban tewas menunjukkan sikap tanpa kompromi Israel terhadap peran Dewan Perdamaian dan mediator internasional.

Korban dan Kerusakan di Gaza Tengah dan Selatan

Di Khan Younis, tiga mayat dan sejumlah korban luka-luka dilarikan ke Kompleks Medis Nasser setelah serangan drone Israel menghantam pos pemeriksaan polisi di persimpangan al-Maslakh, kawasan di luar kendali militer Israel. Beberapa korban luka dilaporkan dalam kondisi kritis sehingga membutuhkan penanganan segera.

Sementara di Gaza tengah, dua warga Palestina tewas dan puluhan lain luka-luka akibat serangan serupa yang menargetkan pos polisi di pintu masuk kamp pengungsi Bureij. Serangan-serangan ini menambah penderitaan penduduk Gaza yang sudah mengalami blokade dan serangan berkepanjangan.

Dampak Terhadap Organisasi Kemanusiaan

Dalam situasi yang semakin memburuk, Israel memerintahkan 37 organisasi bantuan untuk menghentikan kegiatan kemanusiaannya di wilayah pendudukan. Pemerintah Israel menuntut pengungkapan data pribadi staf Palestina pada batas waktu yang ditetapkan, yang berpotensi membahayakan keamanan para pekerja tersebut.

Sebanyak 17 LSM internasional, termasuk Doctors Without Borders, Oxfam, Norwegian Refugee Council, dan CARE International, menolak perintah ini dan mengajukannya ke Mahkamah Agung Israel. Oxfam memperingatkan bahwa penutupan operasi bantuan akan berdampak luas, memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza dan wilayah lainnya.

Krisis Kemanusiaan dan Tekanan Militer

Bantuan internasional menjadi sangat penting bagi keluarga-keluarga di Gaza yang masih bergantung pada pasokan eksternal, terutama di tengah pembatasan masuknya bantuan dan serangan di daerah padat penduduk. Di wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur, aksi militer Israel seperti penggusuran, perluasan permukiman, dan kekerasan dari pemukim terus memperparah kebutuhan kemanusiaan masyarakat Palestina.

Sejak kejadian 7 Oktober lalu, tekanan Israel terhadap lembaga kemanusiaan internasional meningkat tajam, menghambat operasi bantuan dan memperbesar kesengsaraan warga sipil. Situasi ini menunjukkan bagaimana konflik berkepanjangan berdampak tidak hanya pada korban langsung serangan militer, tetapi juga pada sistem bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan di wilayah tersebut.

Berita Terkait

Back to top button