Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran meskipun pembicaraan nuklir antara Washington dan Teheran masih berlangsung. Serangan ini menandai eskalasi ketegangan yang sangat serius setelah serangkaian dialog yang berusaha menahan program nuklir Iran.
Iran membalas serangan tersebut dengan meluncurkan misil dan serangan udara di beberapa negara kawasan, seperti Israel, Bahrain, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Irak. Israel menutup ruang udaranya dan mengambil langkah-langkah darurat demi keselamatan warganya.
Serangan dan Balasan Awal
Pada pertengahan Juni, Israel memulai serangan masif ke fasilitas militer dan nuklir Iran. Iran merespons dengan peluncuran misil dan drone ke serangkaian kota di Israel. Beberapa minggu kemudian, AS menargetkan fasilitas nuklir utama Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan, mengklaim berhasil menghambat program nuklir Tehran.
Iran kemudian menembakkan misil ke pangkalan udara AS di Qatar sebagai balasan. Meskipun misil tersebut berhasil diintercept, serangan ini menunjukkan ketegangan yang semakin meningkat antara kedua belah pihak.
Gencatan Senjata dan Sikap Politik Iran
Setelah dua belas hari konflik, gencatan senjata yang dimediasi oleh AS mengakhiri pertempuran antara Iran dan Israel. Iran melaporkan sekitar 610 korban jiwa dalam konflik tersebut, sementara Israel mengakui 28 korban jiwa. Namun, ketegangan politik tetap tinggi.
Beberapa waktu setelah itu, Iran mengambil langkah untuk menghentikan kerjasama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Pemerintah Iran membatasi akses inspeksi sebagai upaya mempertahankan program nuklirnya tanpa pengawasan internasional yang ketat.
Pembicaraan Nuklir dan Ancaman Sanksi
Negosiasi nuklir antara Iran dan negara-negara Barat berlangsung dalam beberapa tahap dan dipimpin oleh Oman sebagai mediator. Meskipun ada sejumlah kemajuan signifikan yang dilaporkan pada beberapa sesi perundingan di Jenewa dan Vienna, perbedaan mendasar tetap membayangi kesepakatan.
Pada akhir Agustus, tiga negara Eropa, yaitu Inggris, Prancis, dan Jerman, memicu mekanisme yang mengaktifkan kembali sanksi PBB terhadap Iran untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Tindakan tersebut dilakukan meskipun Iran tetap menegaskan tidak akan menghentikan pengayaan uranium.
Protes dan Ketegangan Dalam Negeri di Iran
Krisis ekonomi yang diperparah oleh jatuhnya nilai rial dan sanksi menyebabkan gelombang protes di beberapa kota besar Iran. Pemerintah merespons dengan penahanan massal ribuan warga serta pemadaman internet nasional selama dua minggu, berusaha meredam gelombang ketidakpuasan yang membesar.
Dalam situasi yang kompleks ini, Presiden Trump sempat mendukung aksi protes dari luar, dan secara terbuka menyatakan kemungkinan operasi militer terhadap Iran sambil membangun kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah.
Negosiasi Nuklir yang Berkelanjutan
Pada beberapa kesempatan di awal tahun berikutnya, runding nuklir antara AS dan Iran kembali digelar dengan optimisme meski perbedaan tetap tajam. Pemerintah Iran setuju untuk mengurangi cadangan nuklirnya ke tingkat minimal, dan AS menyatakan pilihan diplomasi tetap prioritas walaupun semua opsi terbuka.
Namun, ketegangan terus meningkat ketika Israel melancarkan serangan terkoordinasi ke berbagai target Iran di dalam dan sekitar Tehran. Balasan Iran tak kalah dahsyat dengan melancarkan serangan udara dan misil ke sejumlah negara di kawasan Teluk Persia.
Ringkasan Kronologi Penting Serangan dan Perundingan
- 13 Juni – Israel serang fasilitas nuklir dan militer Iran; Iran balas dengan serangan misil dan drone ke Israel.
- 22 Juni – AS serang fasilitas nuklir Natanz, Fordow, dan Isfahan.
- 23 Juni – Iran balas dengan misil ke pangkalan AS di Qatar.
- 24 Juni – Gencatan senjata dimediasi AS antara Iran dan Israel.
- 2 Juli – Iran hentikan kerjasama dengan IAEA.
- Agustus – Iran ditahan dalam gelombang protes besar, sanksi PBB diaktifkan ulang.
- November – Januari – Negosiasi kembali berlangsung; protes dalam negeri meningkat.
- Februari – Putaran baru negosiasi di Jenewa; serangan AS dan Israel terhadap Iran; balasan Iran menyebar ke kawasan.
Serangkaian peristiwa ini mencerminkan ketegangan mendalam antara Iran dengan AS dan sekutunya di tengah upaya diplomasi yang penuh tantangan. Situasi ini terus menjadi fokus pengawasan dunia atas keamanan dan stabilitas kawasan Timur Tengah.







