Seekor piton Burma yang ditangkap secara manusiawi di Everglades City, Florida, kini dapat ditukar dengan pizza ukuran besar. Skema tidak lazim itu dijalankan oleh Wildman’s Pizza, Pasta and Python, sebuah restoran milik Dustin Crum.
Restoran tersebut menerima ular piton sebagai pembayaran untuk pizza spesial ukuran besar, dengan pilihan pizza yang tetap dapat ditentukan pelanggan. Crum menyebut tempat usahanya sebagai yang pertama di dunia yang menerima piton sebagai mata uang.
Praktik barter itu menempatkan hewan invasif yang menjadi persoalan lingkungan dalam transaksi sehari-hari yang sangat berbeda. Bagi pemburu lokal, hasil tangkapan tidak hanya berkaitan dengan kompetisi atau pengendalian satwa, tetapi juga dapat ditukar dengan makanan.
Berawal dari perburuan di Everglades
Menurut laporan www.liputan6.com yang mengutip New York Post, ide tersebut berkaitan dengan Florida Python Challenge. Ajang ini mempertemukan pemburu untuk menangkap piton sebanyak mungkin di kawasan Everglades.
Kompetisi itu menawarkan hadiah utama sebesar USD 10.000 atau Rp178,7 juta. Turnamen yang berakhir pada 19 Juli tersebut digelar sebagai upaya mengubah perjuangan menghadapi hama menjadi sebuah permainan.
Crum juga merupakan pemburu ular dan menyebut dirinya sebagai “swampepreneur”. Ia menerima piton yang telah dibunuh secara manusiawi sebagai bentuk pembayaran untuk pesanan pizza spesial berukuran besar.
Skema ini tidak membatasi pelanggan pada satu jenis menu tertentu. Setelah menyerahkan piton sesuai ketentuan, pelanggan dapat memilih pizza yang mereka inginkan.
Menjadi pilihan bagi warga setempat
Crum mengatakan barter piton dengan pizza cukup lazim, terutama di kalangan anak-anak setempat. Menurutnya, mereka terkadang menangkap ular, tidak tahu harus melakukan apa setelahnya, lalu ingin membeli pizza karena lapar.
“Kalian bisa barter piton dengan pizza,” kata Crum. Pernyataan itu menggambarkan cara restoran tersebut menghubungkan hasil tangkapan piton dengan produk makanan yang dijualnya.
Ular yang diterima restoran tidak berhenti sebagai alat tukar. Crum mengolah bagian-bagian hewan tersebut menjadi berbagai produk bertema reptil.
Sisik piton digunakan untuk membuat aksesori. Lemaknya dimanfaatkan menjadi minyak ular untuk kulit, krim, dan sabun, sedangkan tulangnya dijadikan bahan aksesori.
“Lemaknya aku gunakan untuk minyak ular untuk kulit, krim, dan sabun. Tulangnya kupakai untuk aksesoris, semuanya terpakai,” ujar Crum.
Masalah spesies invasif yang sulit ditangani
Piton Burma dapat tumbuh hingga sekitar 6 meter. Reptil besar ini memangsa fauna lokal dan bersaing dengan satwa setempat di wilayah Everglades.
Pejabat konservasi satwa liar menilai keberadaan piton tersebut sebagai salah satu persoalan spesies invasif yang paling sulit diatasi di Bumi. Dalam konteks itu, Florida Python Challenge dan barter pizza di restoran Crum menjadi bagian dari respons yang memanfaatkan hasil penangkapan piton.
Model barter ini membuat piton memiliki nilai langsung bagi pemburu setelah ditangkap. Namun, dasar penerimaannya tetap mengacu pada syarat bahwa ular tersebut telah dibunuh secara manusiawi sebelum diserahkan ke restoran.
Source: www.liputan6.com






