Delapan Tahun Tragedi Kapal Selam Argentina, Sidang Dimulai, Siapa Bertanggung Jawab atas Ledakan Mematikan?

Pengadilan Argentina resmi dimulai untuk mengusut tragedi implosi kapal selam ARA San Juan yang menewaskan 44 awak pada November 2017. Kejadian ini menjadi bencana maritim terburuk Argentina dalam beberapa dekade terakhir yang hingga kini masih menyisakan banyak misteri dalam penyebabnya.

Kapal selam ARA San Juan ditemukan terlindungi di kedalaman lebih dari 900 meter di Samudra Atlantik Selatan, sekitar 400 kilometer dari pantai provinsi Santa Cruz. Lokasi persidangan pun dilakukan di daerah yang berdekatan dengan tempat penemuan bangkai kapal tersebut, guna mengkaji lebih dalam insiden yang terjadi saat kapal sedang dalam perjalanan pulang menuju pangkalan Mar del Plata.

Kronologi Peristiwa

ARA San Juan hilang kontak sekitar satu minggu setelah meninggalkan pelabuhan Ushuaia di ujung selatan Argentina. Laporan terakhir kapal menunjukkan bahwa air laut masuk ke sistem ventilasi, menyebabkan korsleting pada baterai kapal diesel-elektrik tersebut dan memicu kebakaran.

Pencarian kapal melibatkan lebih dari 12 negara yang bergabung mencari hingga bangkai kapal ditemukan. Namun, tidak ada satu pun dari 43 pria dan satu wanita awak kapal yang selamat dari kecelakaan mahadahsyat ini.

Perjuangan Keluarga Korban

Mayoritas keluarga korban tidak hadir dalam persidangan yang kini bergulir. Mereka menghadapi keterbatasan dana sehingga sulit untuk membiayai perjalanan dan akomodasi ke tempat sidang. Pengacara yang mewakili 34 keluarga korban menegaskan bahwa proses pengadilan ini menjadi langkah penting meski ada perasaan ketidakadilan yang mendalam.

Menurut pengacara Valeria Carreras, keluarga korban merasa terabaikan selama delapan tahun terakhir. "Mereka seperti orang yang tidak diperhatikan," ujarnya, menyoroti ketidakadilan yang selama ini dialami oleh para korban dan keluarganya.

Terdakwa dan Dakwaan

Empat pejabat militer senior menjadi terdakwa dalam kasus ini, yaitu mantan kepala Komando Latihan Luis Lopez Mazzeo, mantan komandan Pasukan Kapal Selam Claudio Villamide, mantan kepala staf Komando Kapal Selam Hector Alonso, dan mantan kepala operasi Hugo Correa. Mereka menghadapi tuduhan kelalaian dan perusakan yang disengaja dengan ancaman hukuman penjara antara satu hingga lima tahun.

Pada sidang pengadilan militer tahun 2021, Claudio Villamide dinyatakan lalai dan dihukum dengan pemecatan. Sementara pejabat lain harus menjalani hukuman penjara singkat karena menyembunyikan informasi penting mengenai kecelakaan.

Budaya Diam dan Hambatan Proses Hukum

Pengacara Carreras menuduh Angkatan Laut Argentina memiliki budaya diam yang menghambat penanganan kasus. Upaya menyelidiki akar penyebab pun terkendala, salah satunya karena tidak adanya pengangkatan bangkai kapal selam yang memerlukan biaya sangat besar.

Keluarga korban lainnya menilai lokasi persidangan yang jauh dari ibu kota dan lokasi kru kapal merupakan upaya penyembunyian fakta. Mereka juga mengekspresikan kemarahan terkait skandal pengawasan ilegal terhadap korban oleh mantan presiden Argentina Mauricio Macri, yang akhirnya dihentikan oleh Mahkamah Agung.

Fokus Persidangan

Sidang akan berlangsung selama empat hari berturut-turut, diselingi jeda satu minggu. Hipotesis utama kecelakaan adalah kegagalan katup yang memungkinkan air masuk ke ruang baterai, sehingga menyebabkan kebakaran dan ledakan yang menghancurkan kapal.

Namun, sejauh ini teori tersebut belum dapat diuji secara menyeluruh tanpa melakukan pengangkatan bangkai kapal. Kesulitan pembuktian dianggap mempersulit proses pengadilan hingga adanya putusan yang definitif.

Salah satu pengacara korban menyampaikan perjuangan keluarga yang belum usai meski ada rasa pasrah. "Saya masih berjuang demi janji kepada anak saya," ujarnya, menegaskan komitmen untuk mencari kebenaran di balik tragedi ini.

Terkait