AS Kesulitan Hadapi Serangan Drone Iran, Cadangan Amunisi Mulai Menipis

Author: Qoo Media

Militer Amerika Serikat mengakui kesulitan untuk menangkis seluruh gelombang serangan drone yang diluncurkan oleh Iran. Dalam pertemuan tertutup dengan anggota parlemen, Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dan beberapa pejabat tinggi menyatakan bahwa AS mungkin tidak bisa menembak jatuh seluruh drone Iran yang menyerang instalasi serta aset militer mereka.

Iran menggunakan ribuan drone serang tipe Shahed yang berbiaya rendah dan sistem satu arah dalam setiap serangan balasan. Drone ini terbang rendah dan lambat sehingga sulit dideteksi dan dikalahkan oleh sistem pertahanan udara konvensional AS seperti Patriot dan THAAD.

AS berupaya menahan serangan dengan menembak jatuh sebagian besar drone, namun kekhawatiran muncul bahwa kemampuan pertahanan mulai menipis akibat tingginya konsumsi amunisi pencegat. Jenderal Caine menyatakan dalam konferensi pers bahwa persediaan amunisi presisi masih cukup, tetapi tidak memerinci jumlah dan kondisi terkini.

Para pejabat senior menyebut strategi Iran adalah memaksa AS menghabiskan pencegat tercanggihnya agar kehabisan amunisi. Hal ini membuat AS fokus memburu lokasi-lokasi peluncuran drone serta rudal Iran untuk mengurangi intensitas serangan secara cepat.

Tingkat penggunaan sistem pencegat di medan pertempuran sangat tinggi, di mana biaya operasional mencapai sekitar 1 miliar dolar AS per hari saat ini, turun dari awal konflik yang tembus hingga 2 miliar dolar. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan Kongres tentang keberlanjutan pasokan amunisi dalam jangka panjang.

Meski demikian, pemerintah AS tetap optimistis mampu mempertahankan operasi militer secara berkepanjangan. Sekretaris pers Gedung Putih menegaskan bahwa persediaan senjata AS sangat besar dan tersebar di lokasi-lokasi rahasia, siap digunakan untuk melawan Iran.

Sementara itu, komentar mantan Presiden Trump menyebutkan bahwa persediaan amunisi “kelas menengah dan menengah atas” hampir tidak terbatas, namun amunisi “tingkat tertinggi” masih belum memadai seperti yang diharapkan. Hal ini memberi gambaran bahwa meski sumber daya besar, tantangan logistik dan teknis tetap ada.

Di sisi lain, serangan AS dan sekutunya ke wilayah pemukiman Iran dalam operasi militer berimbas pada kerugian peralatan militer AS senilai hampir 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33,7 triliun. Kerugian ini berkontribusi pada kebutuhan pengelolaan amunisi dan sistem pertahanan yang lebih cermat.

Strategi Iran menekankan penggunaan drone Shahed yang murah, efektif meloloskan sistem pertahanan, dan memaksa AS menghabiskan amunisinya terus berlangsung. Situasi ini mengindikasikan perlombaan teknologi dan logistik antara kedua pihak yang berpotensi menentukan kelangsungan konflik dan kestabilan di kawasan.

Berbagai pihak di AS kini memantau perkembangan pasokan amunisi dan kesiapan sistem pertahanan udara dengan seksama. Ketersediaan amunisi pencegat menjadi kunci utama untuk menghadapi ancaman gelombang drone yang tak kunjung surut dari Iran.

Terbaru