Terpilihnya Khalil Al Hayya sebagai kepala biro politik Hamas menempatkannya di pusat kepemimpinan kelompok tersebut pada saat konflik dengan Israel terus membayangi. Tokoh yang lama menangani negosiasi gencatan senjata ini juga memiliki riwayat menghadapi sejumlah serangan yang menewaskan anggota keluarganya.
Hamas mengumumkan Al Hayya menggantikan Yahya Al Sinwar, pemimpin yang tewas dalam serangan Israel pada Oktober 2024. Jabatan itu akan diembannya hingga 2027, ketika pemilihan pemimpin baru dijadwalkan digelar.
Dalam pernyataannya pada Senin (20/7), Hamas menyebut Al Hayya sebagai “saudara mujahid” yang dipilih untuk memimpin biro politik gerakan tersebut. Pernyataan itu dikutip AFP dalam laporan www.cnnindonesia.com.
Peran Sentral dalam Negosiasi dan Hubungan Regional
Sebelum menjadi kepala biro politik, Khalil Al Hayya dikenal sebagai negosiator utama Hamas dalam pembicaraan gencatan senjata tidak langsung dengan Israel. Peran itu membuatnya berada pada salah satu jalur politik paling penting bagi Hamas di tengah perang berkepanjangan.
Ia juga disebut mengelola hubungan Hamas dengan Iran, yang menjadi sekutu regional kelompok tersebut. Posisi tersebut memperlihatkan keterlibatannya bukan hanya dalam urusan internal Gaza, melainkan juga hubungan politik Hamas di kawasan.
Al Hayya lahir di Kota Gaza pada 5 November 1960 dan tumbuh setelah Perang Arab-Israel 1967 serta pendudukan Israel. Sejak kecil, ia disebut menyaksikan penggerebekan militer di rumah keluarganya dan penangkapan sejumlah anggota keluarga.
Ketertarikannya pada politik berkembang menjadi aktivisme terorganisir setelah pertemuannya dengan pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, pada Maret 1980. Ia kemudian tercatat sebagai salah satu anggota pendiri Hamas pada 1987.
Latar Pendidikan dan Perjalanan Politik
Al Hayya menempuh pendidikan Islam di beberapa negara sebelum aktif penuh di arena politik Palestina. Ia juga tergabung dalam Asosiasi Cendekiawan Palestina.
| Tahun | Pendidikan | Institusi/Lokasi |
|---|---|---|
| 1983 | Gelar sarjana studi Islam | Universitas Islam Gaza |
| 1986 | Gelar master | Universitas Yordania |
| 1997 | Doktor ilmu hadits | Sudan |
Pada masa Intifada pertama, Al Hayya berulang kali dipenjara Israel dan disebut mengalami penyiksaan berat selama penahanan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di dalam gerakan Hamas.
Ia secara resmi masuk ke dunia politik pada 2006 setelah memperoleh kursi di Dewan Legislatif Palestina. Setelah itu, Al Hayya memimpin blok parlemen Hamas.
Rentetan Serangan terhadap Keluarga
Perjalanan politik Al Hayya juga diwarnai kehilangan besar dalam keluarganya akibat serangan Israel. Serangan udara pada Mei 2007 yang menghantam rumahnya menewaskan tujuh kerabat, termasuk dua saudara laki-lakinya.
Setahun kemudian, putranya bernama Hamza yang tergabung dalam Brigade Qassam juga tewas. Pada serangan-serangan berikutnya, ia kembali kehilangan anggota keluarga lain, termasuk putra sulung, istri, dan tiga anak mereka.
Al Hayya sendiri dilaporkan selamat dalam serangan di Doha, Qatar, pada September 2025. Rentetan serangan dan kehilangan tersebut tidak menghentikan perannya sebagai salah satu tokoh sentral politik Hamas.
Kini, kepemimpinannya akan diuji oleh tanggung jawab besar di tengah konflik Israel-Palestina dan kebutuhan Hamas mempertahankan jalur politiknya. Latar belakangnya sebagai negosiator, anggota parlemen, serta penghubung regional menjadi modal utama dalam masa kepemimpinannya hingga 2027.
