Serangan Balasan Mematikan Iran dan Gelombang Serangan Balik Israel, Apakah Perang Timur Tengah Akan Meledak Lebih Dahsyat?

Author: Qoo Media

Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat dengan serangkaian serangan dan serangan balasan antara Israel dan Iran yang berlangsung intens. Militer Israel melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka diaktifkan untuk merespons serangan rudal asal Iran yang memicu peringatan serangan di seluruh negara. Iran mengklaim serangannya sebagai balasan atas kampanye bersama AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Di perbatasan Lebanon-Suriah, bentrokan terjadi ketika Israel mencoba operasi pendaratan, melibatkan kelompok militan Hezbollah Lebanon. Sejak serangan rudal oleh Hezbollah ke Israel, Tel Aviv telah mengirim pasukan ke wilayah Lebanon. Kejadian ini menandai eskalasi konflik yang juga melibatkan Saudi Arabia yang berhasil mencegat rudal balistik yang menargetkan pangkalan udara dengan personel militer AS. Selain itu, Saudi Arabia juga melaporkan upaya serangan drone terhadap ladang minyak dekat perbatasan Uni Emirat Arab.

Militer Israel menerapkan serangan berskala luas ke target-target di Tehran menyusul ledakan yang dilaporkan di bagian barat ibukota Iran. Israel Defense Forces (IDF) mengonfirmasi terdeteksinya gelombang rudal Iran yang mengarah ke wilayah mereka, sementara suara ledakan terdengar di Tel Aviv, pusat bisnis Israel. Israel juga menuduh Iran menggunakan bom cluster, yang disebut-sebut meledak di udara dan menyebarkan bom-bom kecil berbahaya, meski kedua negara tidak termasuk dalam konvensi internasional yang mengatur pelarangan senjata tersebut.

Terkait keterlibatan Rusia, laporan menyebutkan bahwa Rusia memberi intelijen mengenai posisi aset militer AS kepada Iran. Namun, pejabat AS menyatakan bahwa pihak mereka sudah mengetahui dan memantau situasi tersebut secara menyeluruh. Di sisi diplomatik, Iran menolak intervensi dari Presiden Trump terkait pemilihan pengganti Khamenei, menegaskan bahwa proses tersebut adalah murni urusan dalam negeri menurut konstitusi Iran.

AS meningkatkan produksi senjata canggih sebagai respons atas konflik, dengan perusahaan pertahanan berjanji melipatgandakan kapasitasnya. Dalam pekan pertama perang, AS telah menyerang lebih dari 3.000 target. Perang ini turut berimbas signifikan pada harga minyak dunia, di mana West Texas Intermediate (WTI) naik 12 persen mencapai $90,92 per barel, menandai kenaikan mingguan terbesar yang pernah tercatat.

Serangan roket juga menyasar kompleks bandara Baghdad yang menjadi lokasi pangkalan militer serta fasilitas diplomatik AS. Kelompok kecil Saraya Awliyaa al-Dam yang terafiliasi dengan Resistansi Islam yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab. Sementara itu, Presiden Trump menyatakan akan hadir dalam pemulangan jenazah enam tentara AS yang gugur akibat serangan drone Iran di Kuwait, menandai korban pertama militer AS dalam konflik wilayah ini.

Sementara itu, anggota pasukan perdamaian PBB asal Ghana mengalami luka-luka akibat serangan di Lebanon selatan, tanpa keterangan jelas mengenai pelaku. Israel juga terus menyerang Lebanon selatan dalam usaha melawan milisi Hezbollah yang didukung Iran. Dalam pernyataannya, Trump menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Iran sebagai satu-satunya cara mengakhiri perang, sekaligus menawarkan bantuan membangun kembali ekonomi Iran jika memenuhi tuntutan tersebut.

Sekjen PBB Antonio Guterres mengecam berbagai serangan yang melanggar hukum internasional dan mengingatkan potensi konflik yang dapat meluas dan tidak terkendali. Ia juga menyoroti dampak krisis terhadap penderitaan manusia dan risiko serius terhadap ekonomi global. Perang ini juga menyebabkan jalur laut strategis Selat Hormuz yang biasanya dilalui hampir 20 persen minyak dunia dan LNG, kini sangat terbatas dengan hanya sembilan kapal komersial tercatat melintas.

Negara-negara lain turut merespons konflik ini. Prancis mengirim kapal induk helikopter ke Laut Tengah dan sebelumnya sudah mengerahkan kapal induk dan fregat sebagai langkah pengamanan. Situasi yang terus berkembang ini menunjukkan ketegangan di Timur Tengah berpotensi terus meningkat seiring dengan berbagai aktor regional dan global yang terlibat dalam konflik bersenjata dan serangan-serangan strategi di wilayah tersebut.

Terbaru