Jose Antonio Kast resmi menjabat sebagai Presiden Chile setelah tiga kali mencoba. Ia dikenal sebagai pemimpin paling sayap kanan di negara itu dalam lebih dari tiga dekade dengan janji menegakkan keamanan dan ketertiban secara tegas.
Kast, seorang pengacara berusia 60 tahun dan ayah dari sembilan anak, berjanji akan mendeportasi ratusan ribu migran tanpa dokumen, kebanyakan berasal dari Venezuela. "Siapkan barang-barangmu dan pergi," katanya kepada para migran menjelang pemilu.
Ia menuduh imigrasi sebagai skenario yang dirancang oleh “kiri radikal” untuk menghilangkan kebebasan. Menurut Kast, para migran mengambil tempat tinggal, fasilitas kesehatan, dan dana pemerintah yang seharusnya untuk warga Chile.
Kast mengkritik kebijakan perbatasan yang dinilainya terlalu longgar. "Mereka bilang tidak bisa menutup perbatasan, tapi sekarang kita tidak bisa buka jendela karena takut kekerasan," ujarnya.
Pesannya mendapat sambutan dari pemilih yang mengaitkan kenaikan angka migran dengan meningkatnya rasa tidak aman. Meski statistik menunjukkan Chile tetap menjadi salah satu negara paling aman di Amerika Latin.
Latar Belakang dan Karier Politik
Jose Antonio Kast lahir di Santiago dan menempuh pendidikan hukum di Universitas Katolik Santiago. Dia telah terjun di dunia politik selama 30 tahun tanpa banyak legislasi besar selain beberapa regulasi minor seperti pembangunan patung dan pengaturan penjualan kacamata baca.
Sejak 2016, Kast memisahkan diri dari partai konservatif utama Chile untuk mendirikan Partai Republik yang lebih radikal. Keyakinan agamanya sangat kuat, sebagai Katolik taat, ia menolak aborsi termasuk kasus pemerkosaan, serta menentang kontrasepsi darurat, perceraian, pernikahan sesama jenis, dan euthanasia.
Ia bahkan pernah melarang istrinya menggunakan pil KB. Kast juga mengagumi rezim diktator Augusto Pinochet (1973-1990) yang bertanggung jawab atas kematian lebih dari 3.000 warga Chile.
Kontroversi dan Identitas Keluarga
Kast adalah anak bungsu dari 10 bersaudara dan mewarisi bisnis sosis keluarganya dari orang tua yang berdarah Jerman. Investigasi media mengungkapkan ayahnya pernah menjadi anggota Partai Nazi dan bertempur dalam Perang Dunia II. Kast menyatakan bahwa keterlibatan ayahnya adalah akibat wajib militer dan ia tidak mendukung ideologi Nazi.
Selama kampanye, Kast terlihat berada di balik kaca peluru dan mengakui membawa senjata revolver sebagai perlindungan diri.
Perbandingan dengan Pemimpin Sayap Kanan Lain
Biografer Amanda Marton menggambarkan Kast sebagai sosok yang lebih tenang dan pragmatis dibandingkan dengan pemimpin sayap kanan lainnya seperti Jair Bolsonaro, Javier Milei, atau Donald Trump. Robert Funk, ilmuwan politik dari Universitas Chile, mengatakan Kast “jauh lebih konservatif dan kurang karismatik.”
Pendukung Kast melihat sikap tenangnya sebagai kelebihan. Namun, beberapa mantan kolega menggambarkannya sebagai sosok otoriter dengan mentalitas “bersama dia atau melawan dia”.
Agenda Pemerintahan dan Penunjukan Kabinet
Dalam kampanye kemenangan, Kast menekankan fokus pada masalah keamanan dan migrasi sambil meredam agenda konservatif ekstrimnya. Namun, beberapa penunjukan kabinetnya menimbulkan kekhawatiran mengenai mundurnya hak-hak dasar. Ia mengangkat dua pengacara yang pernah membela rezim Pinochet sebagai Menteri Pertahanan dan Kehakiman.
Kementerian Urusan Wanita dijabat oleh seorang aktivis evangelis yang anti aborsi, semakin memperlihatkan kecenderungan konservatif dalam kabinetnya.
Konteks Regional dan Hubungan Internasional
Kast muncul di tengah gelombang konservatisme yang tengah melanda Amerika Latin setelah kemenangan Trump di Amerika Serikat. Ia juga menghadiri KTT "Perisai Amerika" yang digelar di Florida yang dipimpin Trump, bersama 11 pemimpin Amerika Latin lain.
Isu geopolitik juga kompleks karena Kast menghadapi tekanan memilih antara mempererat hubungan dengan China, mitra dagang utama Chile, dan Amerika Serikat yang berusaha memperkuat pengaruhnya di kawasan.
Dengan profil sebagai presiden yang keras dan konservatif, Jose Antonio Kast membawa arah baru yang signifikan bagi politik dan kebijakan dalam di Chile. Namun, tantangan besar menunggu terkait pengelolaan isu migrasi, hak asasi manusia, dan peran Chile dalam dinamika geopolitik Amerika Latin.
