Ketika konflik antara Amerika Serikat dan Israel melibatkan Iran memasuki pekan kedua, serangan yang menghancurkan sebuah sekolah perempuan di Iran menjadi sorotan utama. Pada tanggal 28 Februari, sebuah rudal menghantam sekolah Shajareh Tayyebeh di kota Minab, Iran bagian selatan, menewaskan lebih dari 170 orang, mayoritas adalah siswi.
Lokasi sekolah dekat dengan pangkalan Angkatan Pengawal Revolusi Islam (IRGC) yang menambah ketegangan mengenai siapa pihak yang bertanggung jawab. Sekolah tersebut hancur akibat ledakan, atap bangunan runtuh menimpa siswa dan guru yang sedang mengikuti pelajaran pada jam sibuk pagi hari.
Reaksi dan Tuduhan Iran terhadap AS dan Israel
Iran dengan tegas menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pelaku serangan ini. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengunggah foto-foto kejadian yang menampilkan kehancuran sekolah dan kematian “anak-anak yang tak berdosa”. Pihak Kementerian Luar Negeri Iran juga meminta tindakan dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengutuk serangan tersebut.
Meskipun demikian, kedua negara yang dituding – AS dan Israel – membantah tuduhan dan menyangkal keterlibatan mereka dalam insiden ini. Israel secara resmi menyatakan tidak ada hubungan antara militer mereka dengan insiden serangan di sekolah tersebut.
Bukti dan Dugaan Kesalahan Target
Analisis awal dari rekaman di lokasi menyatakan bahwa serangan dilakukan menggunakan rudal Tomahawk, jenis senjata yang umumnya digunakan oleh pasukan Amerika Serikat. Para ahli menduga bahwa serangan terjadi karena kesalahan dalam penentuan sasaran, dimana data target yang digunakan tidak diperbarui sehingga bangunan yang awalnya menjadi fasilitas militer berubah menjadi sekolah, namun masih tercantum dalam daftar target militer.
Mark Cancian, mantan kolonel Korps Marinir AS dan penasihat senior di Center for Strategic and International Studies, mengatakan, “Kelihatannya Komando Pusat AS tidak memperbarui daftar targetnya.” Ia menambahkan bahwa gedung tersebut telah beralih fungsi beberapa tahun lalu, namun kesalahan administrasi menyebabkan serangan terjadi.
Pernyataan AS dan Penyidikan yang Sedang Berlangsung
Presiden AS pada saat itu menyebut kemungkinan Iran melakukan serangan tersebut, meskipun tidak ada bukti kuat yang mendukung klaim itu. Sekretaris Pertahanan AS mengaku investigasi sedang berjalan, dan sumber media besar seperti The New York Times melaporkan temuan awal bahwa rudal yang menghantam sekolah kemungkinan besar adalah milik AS akibat kesalahan target.
Pemerintah AS menolak untuk mengonfirmasi atau mengomentari hasil penyidikan yang masih berlangsung. Para pejabat menegaskan bahwa mereka tidak pernah bermaksud menargetkan bangunan sipil seperti sekolah tersebut.
Desakan dari Senat AS untuk Penyelidikan Mendalam
Sebagian besar Senator Partai Demokrat di Amerika Serikat meminta penyelidikan cepat dan transparan atas serangan tersebut. Mereka menyoroti fakta bahwa mayoritas korban adalah anak perempuan berusia antara 7 hingga 12 tahun, dan hingga kini belum ada satu pihak pun yang bertanggung jawab secara resmi.
Surat yang ditandatangani oleh 46 senator juga meminta klarifikasi apakah operasi militer AS terlibat dalam serangan itu dan langkah-langkah apa yang telah diambil untuk menghindari dan mengurangi kerugian sipil. Mereka juga menanyakan peran teknologi kecerdasan buatan dalam operasi militer tersebut.
Sejarah Kesalahan Serangan Militer AS Terhadap Objek Sipil
Kasus serangan sekolah di Minab bukanlah pertama kali militer AS terkait dengan kesalahan fatal yang menimbulkan korban sipil besar. Contohnya, selama intervensi NATO di Yugoslavia, gedung kedutaan besar China di Belgrade salah dibombardir karena menggunakan peta intelijen yang usang, menyebabkan kematian tiga jurnalis.
Kasus lain yang terkenal adalah pengeboman bunker Amiriyah di Baghdad pada operasi Desert Storm, yang menewaskan lebih dari 400 warga sipil. Serangan ini juga dilakukan berdasarkan informasi intelijen yang salah mengenai fungsi gedung tersebut.
Dalam beberapa insiden lain, termasuk tragedi My Lai pada Perang Vietnam, pasukan AS terlibat dalam pembunuhan massal warga sipil, yang kemudian diikuti oleh penyelidikan dan beberapa bentuk penuntutan.
Kemungkinan Tindak Lanjut dan Dampak pada Konflik
Meski investigasi atas serangan di sekolah Minab masih berlangsung, para ahli memperkirakan bahwa pengakuan resmi atas kesalahan ini mungkin hanya berujung pada tindakan disipliner yang terbatas. Komando militer AS diketahui memberikan perlindungan kuat kepada personel yang terlibat.
Situasi ini menunjukkan kompleksitas dan bahaya kesalahan intelijen dalam operasi militer modern, sekaligus menyoroti dampak tragis bagi warga sipil yang tidak berdosa dalam konflik bersenjata. Insiden ini semakin memperburuk ketegangan regional dan mendorong seruan internasional untuk peninjauan lebih ketat terhadap aturan dan mekanisme perang.







