
Sebuah serangan misil mematikan yang menewaskan lebih dari 165 orang, termasuk banyak anak-anak di sebuah sekolah dasar di Iran, diperkirakan disebabkan oleh intelijen usang yang digunakan oleh militer Amerika Serikat. Penemuan ini diperoleh dari hasil penyelidikan awal militer AS yang berpotensi mengungkap bahwa AS bertanggung jawab atas insiden tragis tersebut.
Serangan terjadi di pagi hari saat sekolah sedang penuh dengan siswa yang memulai minggu ajaran baru. Koordinat target serangan berasal dari data lama yang disediakan oleh Defense Intelligence Agency, sehingga mengakibatkan kesalahan fatal dalam penentuan sasaran. Kejadian ini menjadi salah satu peristiwa dengan jumlah korban sipil tertinggi akibat operasi militer AS dalam dua dekade terakhir.
Kesalahan Intelijen dan Implikasi Serangan
Pihak U.S. Central Command menggunakan koordinat yang tidak diperbarui dari Defense Intelligence Agency untuk melakukan serangan. Informasi ini menyebabkan misil Tomahawk menghantam kompleks militer yang juga meliputi sekolah dasar Shajareh Tayyebeh. Padahal, sekolah tersebut telah dipisahkan secara fisik dengan kompleks militer sejak sekitar tahun 2017, termasuk penambahan tembok pembatas dan penghilangan menara pengawas.
Selain itu, sekolah ini memiliki tanda-tanda visual dari udara yang jelas sebagai lokasi sipil, seperti mural berwarna cerah pada dinding yang bisa dilihat dari citra satelit. Situs online sekolah itu juga memuat informasi lengkap tentang guru dan siswa, menandakan keberadaannya sebagai fasilitas pendidikan yang sah dan dilindungi menurut hukum internasional.
Tantangan pada Kebijakan dan Perlindungan Sipil
Aturan perang internasional melarang serangan terhadap objek sipil, termasuk sekolah dan fasilitas medis. Dalam kasus ini, fakta bahwa sekolah berada di dekat pangkalan militer bukan menjadi pembenaran untuk menyerangnya. Senator Tim Kaine menyatakan bahwa jika penanganan ini adalah akibat perubahan aturan target militer atau kesalahan intelijen, maka hasilnya akan sangat tragis jika perlindungan sipil dikurangi.
Beberapa anggota parlemen dari kedua partai juga menyuarakan keprihatinan mereka. Lebih dari 45 senator menyerukan pertanggungjawaban dan transparansi dari Pentagon mengenai insiden tersebut dan kebijakan yang mengurangi sumber daya untuk mencegah korban sipil.
Keterbatasan Institusi Pencegah Korban Sipil
Pada akhir tahun sebelumnya, Kongres AS telah mengesahkan pembentukan Civilian Protection Center of Excellence guna memperkuat perlindungan terhadap warga sipil dalam operasi militer. Namun, di bawah administrasi saat ini, kantor tersebut mengalami pengurangan anggaran dan personel secara signifikan, termasuk penghentian pembaruan daftar "no-strike" untuk situs-situs penting seperti rumah sakit dan sekolah.
Wes Bryant, Kepala Seksi Penilaian Kerugian Sipil, mengungkapkan bahwa kantor tersebut saat ini hampir tidak memiliki anggaran dan personel yang memadai. Hal ini berdampak pada efektivitas misi dalam mencegah korban tak berdosa akibat serangan militer.
Tuntutan Transparansi dan Upaya Pencegahan Kesalahan
Para pejabat dan politisi menuntut agar penyelidikan lebih mendalam segera dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dari kesalahan tersebut. Senator Kevin Cramer menyatakan bahwa militer harus mengakui dan memperbaiki kesalahan untuk mencegah terulangnya tragedi serupa.
Meski demikian, konsekuensi dari serangan ini tidak dapat diputar kembali. Kesalahan intelijen dan kebijakan yang mengurangi perlindungan sipil dapat memicu keretakan dukungan publik terhadap keterlibatan militer AS dalam konflik tersebut. Hal ini menjadi tantangan signifikan bagi pihak yang bertanggung jawab untuk mempertahankan legitimasi dan tujuan operasi.
Penyelidikan masih berlangsung dan Pentagon menyatakan bahwa mereka akan terus memberikan informasi setelah kajian selesai. Namun, temuan awal ini telah menimbulkan kekhawatiran serius tentang bagaimana operasi militer AS terhadap Iran dijalankan dan dampaknya terhadap warga sipil yang rentan.









