Perang antara Amerika Serikat dan Iran terus menguras dana besar dari kas AS. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengungkapkan bahwa operasi militer ini membutuhkan anggaran yang sangat besar, mencapai US$200 miliar atau sekitar Rp3.386 triliun. Angka tersebut belum final dan masih akan diajukan kembali ke Kongres untuk penyesuaian sesuai dengan kebutuhan operasi.
Sejak dimulainya konflik pada 28 Februari 2026, biaya yang dikeluarkan sudah mencapai angka fantastis. Dalam enam hari pertama, biaya operasi militer tercatat sekitar US$11,3 miliar. Dana sebesar ini diperlukan karena penggunaan peralatan militer berteknologi tinggi dan intensitas serangan yang tinggi dari berbagai satuan militer.
Faktor Penyebab Biaya Perang yang Membengkak
Menurut Daniel Schneiderman, Direktur Program Kebijakan Global di Penn Washington, biaya besar berasal dari berbagai elemen pertempuran modern, seperti:
- Pemakaian amunisi presisi tinggi.
- Sistem pertahanan anti-rudal seperti THAAD.
- Banyaknya misi penerbangan tempur (sortie).
- Konsumsi bahan bakar yang besar.
- Operasional dua kelompok kapal induk di wilayah konflik.
- Biaya dukungan logistik dan tenaga ahli militer ahli.
Schneiderman menilai bahwa perang saat ini sangat mahal dan dapat menjadi salah satu intervensi militer termahal yang pernah dilakukan Amerika Serikat.
Permintaan Dana dan Respons Pemerintah
Hegseth menyatakan bahwa permintaan dana sebesar US$200 miliar masih dapat berubah. Pemerintah AS akan mengajukan kembali ke Kongres untuk memastikan dana mencukupi tidak hanya untuk operasi yang sedang berjalan tetapi juga untuk kebutuhan pengisian amunisi dan cadangan di masa depan.
Presiden Donald Trump menegaskan bahwa anggaran besar tidak hanya difokuskan pada perang dengan Iran, tetapi juga untuk menghadapi ketidakpastian global. Trump menganggap pengadaan persenjataan dan amunisi dalam jumlah besar sebagai investasi penting untuk mempertahankan keunggulan militer Amerika.
Dampak Ekonomi yang Meluas
Selain biaya langsung dari operasi militer, perang ini juga menyebabkan dampak ekonomi global. Iran menutup Selat Hormuz secara efektif, jalur penting pengangkutan minyak dunia. Penutupan tersebut memicu lonjakan harga minyak global yang berpotensi menambah tekanan terhadap perekonomian dunia yang sedang tidak stabil.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa konflik antara AS dan Iran tidak hanya berdampak pada aspek militer, tetapi juga memberikan konsekuensi besar pada sektor energi dan perekonomian global. Pemerintah dan pelaku pasar kini harus menghadapi ketidakpastian yang luar biasa akibat resonansi konflik ini.
Secara keseluruhan, pembengkakan anggaran dan dampak ekonomi global menjadi indikator besarnya beban yang dihadapi AS dalam konflik ini. Pengawasan terhadap alokasi dana dan strategi pengelolaan sumber daya menjadi kunci agar operasi militer dapat berjalan efektif tanpa membebani anggaran negara secara berlebihan.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com




