Presiden Belarus Alexander Lukashenko memberikan senapan otomatis kepada pemimpin Korea Utara Kim Jong Un saat kunjungan perdananya ke Pyongyang. Pemberian itu disampaikan dengan nada bercanda, ketika Lukashenko mengatakan senjata tersebut mungkin dibutuhkan “jika musuh muncul”, menurut media negara yang melaporkan kunjungan tersebut.
Momen itu menarik perhatian karena terjadi di tengah semakin eratnya hubungan Minsk dan Pyongyang dengan Rusia. Kedua negara sama-sama telah membantu perang Rusia di Ukraina, dengan Korea Utara mengirim pasukan darat dan senjata, sementara Belarus menjadi titik awal invasi pada awal konflik.
Hadiah simbolik di tengah pertemuan tingkat tinggi
Video yang dirilis media negara Belarus menunjukkan Lukashenko menyerahkan apa yang tampak seperti senapan otomatis kepada Kim. Kim kemudian menirukan gerakan mengokang senjata sambil mengucapkan terima kasih, sebelum Lukashenko menimpali, “Benar,” lalu menambahkan, “Jika musuh muncul.”
Rekaman itu menampilkan suasana yang cair, namun pesan politiknya tetap jelas. Kedua pemimpin ingin menunjukkan kedekatan hubungan di tengah tekanan Barat terhadap masing-masing negara.
Pertukaran hadiah dan bahasa diplomasi
Kim juga memberikan hadiah balasan kepada Lukashenko berupa vas mosaik berukuran besar dengan potret sang presiden Belarus. Menurut penjelasan Kim yang disampaikan dalam video tersebut, karya itu dibuat dari sekitar 30 cangkang laut.
Berikut ringkasan momen utama yang terekam dalam kunjungan itu:
- Lukashenko menyerahkan senapan otomatis kepada Kim Jong Un.
- Kim menanggapi dengan gerakan bercanda seolah mengisi senjata.
- Lukashenko menyebut hadiah itu berguna “jika musuh muncul”.
- Kim membalas dengan vas mosaik bergambar Lukashenko.
- Kedua pihak menampilkan suasana akrab di hadapan kamera.
Tanda penguatan aliansi politik
Dalam pertemuan itu, Lukashenko dan Kim menandatangani perjanjian “persahabatan dan kerja sama”. Media negara Belarus menyebut kesepakatan itu sebagai tanda masuknya hubungan kedua negara ke “fase baru”.
Lukashenko juga menyampaikan kritik terhadap tatanan internasional yang dipimpin Barat. Ia mengatakan kekuatan besar dunia “mengabaikan dan melanggar norma hukum internasional”, yang dipahami sebagai sindiran kepada Amerika Serikat dan sekutunya.
Kim merespons dengan menyatakan Korea Utara menentang “tekanan yang tidak sah dari Barat” terhadap Belarus. Pernyataan itu memperlihatkan kesamaan posisi kedua negara dalam menghadapi sanksi dan kritik internasional.
Koordinasi dengan Moskwa dan Beijing
Belarus dan Korea Utara sama-sama berada dalam orbit politik Rusia dan Tiongkok. Keduanya mendukung gagasan “dunia multipolar” yang mereka klaim lebih seimbang dan tidak didominasi Barat.
Posisi itu sejalan dengan upaya Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin membangun blok negara yang lebih menantang pengaruh Barat. Dalam konteks ini, kunjungan Lukashenko ke Pyongyang bukan hanya urusan bilateral, tetapi juga sinyal geopolitik yang lebih luas.
Perluasan kerja sama lintas sektor
Selain perjanjian persahabatan, kedua pihak juga sepakat memperluas kerja sama di sejumlah bidang. Media negara Belarus menyebut sektor yang dibahas mencakup pertanian hingga informasi.
Daftar bidang yang disebut dalam kesepakatan itu meliputi:
- Pertanian
- Informasi
- Kerja sama politik
- Hubungan ekonomi dan teknis
- Koordinasi diplomatik yang lebih luas
Penguatan kerja sama tersebut menunjukkan bahwa hubungan Belarus dan Korea Utara kini bergerak melampaui simbol-simbol seremonial. Kunjungan itu ditutup dengan Kim yang лично mengantar Lukashenko ke bandara dalam suasana perpisahan yang digambarkan hangat oleh media setempat.









