Alexander Lukashenko bertemu Kim Jong Un di Pyongyang dan menandatangani perjanjian persahabatan yang menegaskan kedekatan dua sekutu Rusia itu. Dalam pertemuan tersebut, pemimpin Belarus itu juga memberikan sebuah senapan otomatis kepada Kim, yang disambut dengan nada santai oleh keduanya.
Momen itu terjadi di tengah perang Rusia melawan Ukraina yang masih berlangsung dan saat Minsk serta Pyongyang sama-sama berada di bawah sanksi internasional. Pertemuan ini memperlihatkan bagaimana dua negara yang terisolasi dari Barat terus memperkuat hubungan politik dan militer sambil menjaga manfaat strategis bagi Moskow.
Pertemuan yang sarat simbol politik
Lukashenko menyebut hubungannya dengan Korea Utara memasuki tahap baru yang mendasar, menurut kantor berita negara Belarus, Belta. Kim Jong Un juga mengatakan kedua pihak memiliki posisi yang sama dalam banyak isu dan menolak tekanan berlebihan dari Barat terhadap Belarus.
Dalam suasana yang dibuat ringan, Lukashenko bercanda saat menyerahkan senapan itu dan mengatakan, “Just in case enemies appear!” Kim terlihat tertarik, memeriksa senjata tersebut, lalu mencoba mekanisme pengisi ulangnya. Sebagai balasan, Kim memberikan vas dari cangkang laut yang dihiasi gambar Lukashenko.
Kunjungan ini menjadi yang pertama bagi Lukashenko ke Pyongyang selama 33 tahun masa kekuasaannya. Lawatan itu menegaskan upaya Minsk memperluas jaringan hubungan dengan negara-negara yang akrab dengan Rusia dan berseberangan dengan Barat.
Mengapa pertemuan ini penting
Pertemuan di Pyongyang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga mengirim sinyal geopolitik yang jelas. Belarus dan Korea Utara sama-sama menghadapi sanksi berat, dan keduanya punya kepentingan untuk mencari mitra yang bisa membantu bertahan di tengah tekanan internasional.
Hubungan mereka juga terhubung langsung dengan perang di Ukraina. Korea Utara telah memasok jutaan butir amunisi ke Rusia dan mengirim pasukan untuk membantu Moskow mengusir pasukan Ukraina dari wilayah Kursk pada peristiwa yang disebut Reuters terjadi pada 2024.
Belarus ikut berperan sejak awal konflik. Negara itu memberi Rusia wilayahnya sebagai titik awal invasi pada Februari 2022, lalu menyetujui penempatan rudal nuklir taktis Rusia di wilayahnya yang berbatasan dengan tiga negara anggota NATO.
Konteks diplomasi Lukashenko
Langkah Lukashenko ke Pyongyang juga muncul di saat ia mencoba menyeimbangkan hubungan dengan Barat. Sepekan sebelumnya, ia bertemu utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, John Coale, dan membebaskan 250 tahanan politik sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi AS lebih lanjut terhadap Belarus.
Rangkaian langkah itu menunjukkan bahwa Minsk tetap mencari ruang manuver diplomatik, meski kedekatannya dengan Moskow tetap sangat kuat. Dalam konteks itu, hubungan dengan Korea Utara memberi Belarus jalur tambahan untuk memperluas kerja sama di luar orbit Barat.
Berikut sejumlah poin utama dari pertemuan tersebut:
- Belarus dan Korea Utara menandatangani perjanjian persahabatan.
- Lukashenko memberikan senapan otomatis kepada Kim Jong Un.
- Kim membalas dengan vas dari cangkang laut bergambar Lukashenko.
- Keduanya menegaskan penolakan terhadap tekanan Barat.
- Pertemuan ini memperkuat sinyal dukungan terhadap Rusia dalam perang Ukraina.
Apa arti bagi kawasan dan sekutu Rusia
Bagi Moskow, kedekatan Belarus dan Korea Utara memperlihatkan terbentuknya jejaring dukungan dari negara-negara yang sama-sama tersingkir dari arus utama diplomasi Barat. Rusia diuntungkan karena kedua sekutunya menunjukkan kesediaan untuk memperdalam kerja sama di bidang militer dan politik.
Bagi negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, pertemuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa sanksi tidak membuat rezim yang terisolasi menjauh satu sama lain. Justru sebaliknya, tekanan tersebut dapat mendorong mereka membangun aliansi yang lebih rapat, termasuk dalam isu pertahanan dan pasokan militer.
Meski volume perdagangan bilateral Belarus dan Korea Utara masih kecil, pengalaman panjang keduanya dalam menghadapi sanksi membuat kerja sama ini bernilai strategis. Di Pyongyang, sinyal yang muncul tidak hanya soal persahabatan simbolik, tetapi juga soal bagaimana dua rezim itu mencoba bertahan, bernegosiasi, dan menjaga kepentingan masing-masing di tengah persaingan global yang makin keras.









