Pasukan junta di Mali pada Sabtu terlibat pertempuran melawan apa yang mereka sebut sebagai “kelompok teroris” setelah serangan mendadak terjadi di sekitar ibu kota Bamako dan sejumlah wilayah lain. Laporan dari saksi mata menyebut baku tembak berlangsung intens di kota dekat Bamako, sementara tembakan terdengar di beberapa pusat penting di negara Afrika Barat itu.
Situasi keamanan di Mali kembali memanas di tengah konflik bersenjata yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade. Di saat yang sama, kelompok Tuareg dalam koalisi Front Pembebasan Azawad atau FLA mengklaim telah menguasai kota Kidal di utara, meski klaim itu belum bisa segera diverifikasi oleh AFP.
Serangan menyebar ke sejumlah titik penting
Militer Mali menyatakan serangan pada dini hari itu menyasar “titik-titik tertentu dan barak” di ibu kota serta wilayah pedalaman. Dalam pernyataannya, tentara juga menyerukan warga agar tetap waspada karena pasukan pertahanan dan keamanan sedang “menghancurkan para penyerang”.
Baku tembak dilaporkan terjadi di sekitar Bamako, Gao, Kidal, dan kota pusat Sevare. Suara senjata berat juga terdengar di Kati, kawasan pinggiran Bamako tempat pemimpin junta, Jenderal Assimi Goita, memiliki kediaman.
Meski militer menyebut “situasi telah terkendali”, tembakan masih terdengar dan helikopter terus berputar di atas Bamako. Tentara kemudian mengatakan beberapa penyerang telah “dinetralkan” dan peralatan mereka dihancurkan.
Seorang warga mengatakan kelompok bersenjata telah merebut sebuah kamp militer di lingkungan Samakebougou, Kati, dan pertempuran berlangsung “hebat”. Hingga laporan ini disusun, keberadaan Goita belum diketahui.
Kekhawatiran atas keamanan pejabat tinggi
Spekulasi juga muncul terkait Menteri Pertahanan Jenderal Sadio Camara setelah warga menyebut sebuah ledakan besar menghancurkan sebagian besar rumahnya di Kati. Namun, rombongan Camara menegaskan ia tidak berada di lokasi saat kejadian dan dalam keadaan aman.
Helikopter dilaporkan melintas di atas Bamako dan kawasan sekitar bandara internasional. Pertempuran juga terjadi di dekat sebuah pangkalan militer di sekitar bandara, sementara jalan-jalan ibu kota tampak sepi akibat tembakan sporadis.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Mali kemudian mengeluarkan peringatan keamanan dan meminta warga AS di dalam maupun sekitar Bamako untuk “berlindung di tempat”.
Kidal, FLA, dan pertarungan di utara Mali
Dalam pernyataan di Facebook, FLA menyebut “kota Kidal telah berada di bawah kendali pasukan kami.” Juru bicara FLA, Mohamed Elmaouloud Ramadane, mengatakan kepada AFP bahwa pasukan mereka menguasai Kidal dan sebagian besar wilayah kota itu, sementara gubernur Kidal disebut berlindung bersama pasukannya di bekas kamp MINUSMA, misi PBB yang dulu bertugas di Mali.
Ramadane juga mengunggah foto yang menurutnya memperlihatkan sebuah kamp militer di Kidal yang ditempati “tentara bayaran Rusia” dan tentara Mali. Di sisi lain, junta Mali telah melabeli FLA sebagai kelompok “teroris”.
Pemerintah militer Mali saat ini terlibat konflik dengan dua pihak sekaligus, yakni FLA dan kelompok jihad. Pengamat menilai Group for the Support of Islam and Muslims atau JNIM, kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, belakangan berupaya menjalin kerja sama dengan FLA.
Tekanan jihad dan krisis bahan bakar
Sejak September, JNIM menyerang konvoi truk tangki bahan bakar yang menuju ibu kota. Puncak tekanan itu sempat membuat Bamako lumpuh pada Oktober, dan warga kembali menghadapi kelangkaan solar pada Maret dengan pasokan diprioritaskan untuk sektor energi.
Krisis ini memperlihatkan betapa rentannya Mali terhadap gangguan keamanan di jalur logistik vital. Negara yang kaya emas dan mineral lain itu sejak 2012 bergulat dengan serangan kelompok jihad yang terkait Al-Qaeda dan Islamic State, serta kelompok kriminal berbasis komunitas dan separatis.
Militer memanfaatkan krisis keamanan itu sebagai alasan untuk mengambil alih kekuasaan. Sejak kudeta pada 2020 dan 2021, junta juga memutus hubungan dengan bekas penguasa kolonial Prancis serta beberapa negara Barat, lalu mendekat secara politik dan militer ke Rusia.
Rusia sebelumnya menempatkan Wagner Group untuk membantu pasukan Mali melawan jihadis sejak 2021. Namun, kelompok itu menghentikan keterlibatannya pada Juni 2025 dan kemudian bertransformasi menjadi Africa Corps di bawah kendali langsung kementerian pertahanan Rusia.
Konflik berkepanjangan dan tanda-tanda perpecahan
Junta sempat berjanji menyerahkan kekuasaan kepada warga sipil pada Maret 2024, tetapi pada Juli 2025 Goita diberi masa jabatan presiden lima tahun yang dapat diperbarui “sebanyak yang diperlukan” tanpa pemilu. Langkah itu memperkuat kendali militer di tengah situasi keamanan yang terus memburuk.
Sejak gelombang kekerasan jihad meletus, ribuan orang tewas di Mali dan puluhan ribu warga mengungsi ke negara tetangga, termasuk Mauritania. Di tengah pertempuran yang masih berlangsung, tanda-tanda perebutan wilayah dan ketidakpastian politik kembali menekan ibu kota serta wilayah utara negara itu.
