Sejumlah pasien HIV di Senegal kini mulai menghindari fasilitas kesehatan karena takut ikut terseret dalam gelombang penangkapan terhadap kelompok LGBTQ. Data pemerintah yang dilihat Reuters menunjukkan kunjungan ke beberapa pusat perawatan HIV turun tajam setelah operasi penindakan itu meluas.
Situasi ini memicu kekhawatiran baru bagi upaya Senegal menahan penularan HIV. Para petugas kesehatan, aktivis, dan badan internasional menilai tekanan hukum dan stigma bisa membuat pasien berhenti minum obat antiretroviral, padahal pengobatan itu penting untuk menekan virus.
Penindakan memicu efek ke layanan kesehatan
Senegal memperberat hukuman atas hubungan sesama jenis pada bulan lalu, dengan menaikkan ancaman penjara maksimal menjadi 10 tahun dan memperluas larangan atas apa yang disebut sebagai upaya mempromosikan homoseksualitas. Denda maksimum juga dinaikkan menjadi 10 juta CFA francs atau sekitar $18,000.
Sejak awal Februari, menurut aktivis hak asasi manusia lokal dan laporan media, 86 orang telah ditangkap dalam rangkaian penindakan tersebut. Dalam satu penggerebekan di Linguere pada 19 April, 18 orang ditangkap, sementara dua vonis sudah dijatuhkan di bawah aturan baru itu.
Menurut laporan Reuters, mereka yang ditangkap dituduh melakukan “acts against nature” dan dalam beberapa kasus dituduh sengaja menularkan HIV kepada orang lain. Pemerintah tidak merinci jumlah penangkapan saat diminta memberikan komentar.
Kunjungan pasien turun 25,6%
Dewan Nasional Senegal untuk Melawan AIDS atau CNLS menggelar survei ke 22 pusat pengobatan HIV/AIDS selama tiga hari pada akhir Februari. Hasilnya menunjukkan 1.803 pasien datang pada Februari, turun dari 2.425 pada Januari.
Penurunan itu mencapai 25,6% dan menjadi sinyal bahwa rasa takut warga mulai mengganggu akses layanan kesehatan. Kepala unit riset CNLS, Dr. Cheikh Bamba Dieye, mengatakan temuan tersebut memperjelas kaitan antara penangkapan dan menurunnya kunjungan pasien.
Interviu lanjutan CNLS dengan lebih dari 50 pria yang berhubungan seks dengan pria menunjukkan alasan utama mereka tidak datang ke fasilitas kesehatan. Mereka takut dilaporkan, ditangkap, atau mengalami pelecehan verbal maupun fisik.
Kekhawatiran pasien dan petugas kesehatan
Seorang pekerja kesehatan komunitas queer di Dakar mengatakan banyak orang kini memilih bersembunyi karena takut menjadi target berikutnya. Ia menyebut dirinya tidak berani keluar rumah dan mengunci pintu serta jendela rapat-rapat untuk menghindari penangkapan.
Ia juga memperingatkan bahwa penindakan ini bisa mengurangi kepatuhan pasien terhadap terapi HIV. “Some won’t even want to continue their treatment for fear of being seen or associated with it,” kata dia, mengacu pada kekhawatiran bahwa obat atau kunjungan ke klinik bisa membuat seseorang dicap sebagai homoseksual.
Dr. Safiatou Thiam, mantan menteri kesehatan yang kini memimpin CNLS, mengatakan publikasi nama lengkap dan status HIV orang-orang yang ditangkap oleh beberapa media Senegal memperburuk risiko stigmatisasi. Ia menegaskan petugas kesehatan tetap berkomitmen menjaga kerahasiaan pasien dan mendorong aparat penegak hukum melakukan hal yang sama.
“Ini pasti akan berdampak pada pekerjaan kami,” ujarnya, sambil menekankan bahwa kekhawatiran itu sudah terbukti di lapangan.
Risiko bagi pengendalian HIV di Senegal
Senegal memang memiliki tingkat prevalensi HIV nasional yang rendah, hanya 0,3%, jauh di bawah banyak negara lain di Afrika. Namun, UNAIDS mencatat infeksi baru di Senegal naik 36% antara 2010 dan 2024.
Di negara itu, HIV terkonsentrasi pada kelompok yang disebut populasi kunci, terutama pria yang berhubungan seks dengan pria atau MSM. Menurut data pemerintah, prevalensi pada kelompok ini mencapai 27,6%.
Jika pasien berhenti menerima pengobatan, virus menjadi lebih mudah menular. Karena itu, badan kesehatan dunia dan lembaga HIV internasional selama beberapa tahun terakhir menekankan pentingnya menghapus hukum yang menghukum, mengurangi diskriminasi, dan menekan kekerasan homofobik.
UNAIDS menanggapi hukum baru Senegal dengan pernyataan singkat: “Evidence shows that criminalization causes people to turn away from health services.” WHO juga sebelumnya memperingatkan munculnya kembali wabah HIV di kalangan MSM dan meminta pemerintah mengambil langkah yang lebih melindungi akses layanan.
Layanan komunitas ikut terdampak
Dampak penindakan tidak berhenti pada pasien. Dalam email bertanggal 23 Februari yang dilihat Reuters, National Alliance Against AIDS atau ANCS mengatakan pihaknya menangguhkan intervensi yang menyasar kelompok yang paling rentan terhadap HIV/AIDS, terutama MSM dan transgender.
Organisasi itu menyebut keputusan tersebut diambil karena “difficult working environment” yang tercipta akibat penangkapan. Walau hukum baru memasukkan ketentuan bahwa kegiatan organisasi kesehatan tidak dianggap ilegal, suasana di lapangan tetap membuat banyak pihak berhati-hati.
Sebagian MSM dilaporkan melarikan diri ke negara lain seperti Mauritania, Gambia, dan Ivory Coast. Mereka yang masih tinggal di Senegal memilih tidak menonjolkan diri, sementara fasilitas kesehatan menghadapi lebih banyak pasien yang hilang dari pemantauan karena takut datang untuk mengambil obat.
Di sisi lain, Reuters juga melaporkan sebelumnya bahwa para pendukung rancangan undang-undang anti-LGBTQ di Senegal berdiskusi strategi dengan kelompok berbasis di Amerika Serikat yang menyebut homoseksualitas sebagai ancaman kesehatan publik. Dalam situasi seperti ini, kekhawatiran para petugas kesehatan makin besar karena rasa takut dan stigma bisa menghambat penanganan HIV pada kelompok yang paling membutuhkan layanan tersebut.
