Panglima tertinggi militer Ukraina memerintahkan batas waktu wajib dua bulan bagi tentara yang bertugas di posisi garis depan. Langkah ini ditujukan untuk mengatasi beban besar yang dihadapi pasukan Kyiv dalam perang yang sudah memasuki tahun kelima melawan Moskow.
Perintah itu datang saat laporan tentang prajurit Ukraina yang bertahan di bawah tembakan selama berbulan-bulan terus memicu sorotan. Kondisi tersebut muncul di tengah tekanan pasukan Rusia yang bergerak perlahan tetapi konsisten di sejumlah titik pertempuran.
Aturan rotasi baru bagi pasukan depan
Oleksandr Syrskyi menyebut komando harus memastikan prajurit dapat tetap bertugas hingga dua bulan di pos mereka. Setelah itu, rotasi wajib harus dilakukan dalam waktu satu bulan.
Ia menegaskan bahwa rotasi tepat waktu bukan hanya soal pengaturan dinas, tetapi juga soal menjaga nyawa tentara dan stabilitas pertahanan. Pernyataan itu mencerminkan upaya militer Ukraina menyeimbangkan kebutuhan tempur dengan kondisi fisik dan mental pasukan di lapangan.
Syrskyi juga memasukkan kewajiban evaluasi medis dalam perintah tersebut. Selain itu, ia menuntut pasokan makanan dan amunisi bagi pasukan garis depan diberikan tepat waktu.
Perang drone ubah medan tempur
Dalam keterangan resminya, Syrskyi mengatakan dominasi drone telah membuat logistik di medan perang jauh lebih sulit. Ia menyebut perubahan itu telah “secara signifikan mengubah” konsep operasi tempur.
Para ahli menilai penggunaan drone telah menciptakan zona bunuh yang luas, sehingga pergerakan pasukan dan suplai menjadi makin berisiko. Situasi ini ikut memperberat tantangan rotasi prajurit yang bertahan di posisi maju.
Tekanan di garis depan juga membuat isu pergantian personel menjadi semakin sensitif. Jika pergantian terlambat, prajurit berisiko kelelahan berkepanjangan dan menghadapi kondisi tempur yang terus menurun.
Sorotan publik setelah gambar prajurit kurus
Pengumuman Syrskyi muncul beberapa hari setelah foto-foto prajurit dari Brigade Mekanis Terpisah ke-14 Ukraina beredar luas. Gambar yang dibagikan keluarga mereka itu memicu kemarahan publik karena memperlihatkan kondisi fisik tentara yang sangat memprihatinkan.
Sorotan tersebut menambah tekanan pada pimpinan militer untuk memperbaiki perlakuan terhadap pasukan garis depan. Di tengah perang yang panjang, isu kesehatan prajurit kini menjadi bagian penting dari kesiapan pertahanan Ukraina.
Ukraina sendiri telah lama menghadapi kekurangan personel selama perang berlangsung. Minat untuk bertugas menurun seiring laporan tentang pelatihan yang buruk, dukungan yang lemah, serta pendekatan petugas wajib militer yang dinilai keras oleh sebagian warga.
Dalam situasi itu, kebijakan rotasi dua bulan menjadi salah satu langkah paling jelas dari Kyiv untuk menjaga daya tahan pasukannya. Keputusan tersebut menempatkan perlindungan prajurit dan kesinambungan pertahanan sebagai prioritas utama di garis depan.
