
Pertemuan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing menjadi sorotan karena berlangsung saat ketegangan di kawasan Teluk masih tinggi. Kunjungan itu dinilai bukan sekadar agenda diplomatik rutin, tetapi juga momen yang bisa menunjukkan seberapa jauh China sanggup memengaruhi arah konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Situasi ini menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penghentian sementara operasi militer AS terkait pembukaan Selat Hormuz. Langkah tersebut memunculkan harapan baru bahwa ruang dialog antara Teheran dan Washington masih terbuka, meski dinamika di lapangan tetap rapuh.
Beijing Didorong Ambil Peran Lebih Besar
Waktu kunjungan Araghchi ke Beijing dianggap strategis karena terjadi saat Selat Hormuz kembali menjadi titik tekanan utama. Jalur perairan itu memegang peran penting dalam arus energi dunia, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada stabilitas pasar global.
Dalam pertemuan itu, Wang Yi menyampaikan pesan tegas bahwa gencatan senjata menyeluruh tidak boleh terus ditunda. Ia juga menekankan bahwa melanjutkan permusuhan bukan pilihan bijak, sementara perundingan tetap menjadi langkah paling penting saat ini.
Selat Hormuz Jadi Pusat Krisis
Ketegangan antara Teheran dan Washington berkembang seiring pembatasan pelayaran di Selat Hormuz oleh Iran setelah perang pecah. Amerika Serikat kemudian memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pasca gencatan senjata April lalu untuk menekan Teheran agar menerima syarat dalam perundingan.
Selat Hormuz dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, sehingga gangguan di kawasan itu memicu efek berantai ke ekonomi global. Kondisi tersebut juga memperumit hubungan Washington dan Beijing karena China termasuk negara yang paling terdampak oleh tersendatnya aliran energi dari Teluk ke Asia Timur.
Mengapa China Sulit Menghindar dari Konflik Ini
Bagi China, krisis ini menyentuh kepentingan ekonomi langsung, bukan hanya soal diplomasi kawasan. Jalur Hormuz berfungsi sebagai arteri vital bagi impor energi dan perdagangan Beijing, sehingga ketidakstabilan berkepanjangan bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi yang masih berjalan cepat.
Jodie Wen dari Center for International Security and Strategy (CISS) Universitas Tsinghua, Beijing, mengatakan bahwa pesan utama China selama ini berfokus pada pencegahan eskalasi lebih lanjut di sekitar Selat Hormuz. Ia menilai Beijing kemungkinan akan berupaya mendorong Iran kembali ke meja perundingan dan membuka kembali jalur pelayaran seperti semula.
Tekanan ekonomi juga dirasakan Washington karena kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri ikut menjadi perhatian menjelang pemilihan paruh waktu. Situasi itu membuat kedua kekuatan besar memiliki kepentingan yang sama untuk meredakan gangguan di jalur energi utama tersebut.
Iran Mencari Jaminan dari Mitra Terbesarnya
China tetap menjadi penopang ekonomi paling penting bagi Iran setelah bertahun-tahun sanksi Amerika Serikat membatasi ruang gerak Teheran. Beijing membeli sebagian besar minyak Iran, kerap dengan harga diskon, sementara Iran menggunakan pendapatannya untuk membeli produk dan jasa dari China.
Hubungan itu makin dalam setelah kedua negara menandatangani kemitraan strategis 25 tahun pada 2021, yang mencakup infrastruktur, perdagangan, dan kerja sama keamanan. Karena itu, kunjungan Araghchi juga dipahami sebagai upaya Teheran mencari kepastian dukungan diplomatik China di tengah situasi yang sensitif.
Iran diduga ingin mengetahui sejauh mana Beijing bersedia tetap mendukungnya bila Teheran memilih meredakan ketegangan di Selat Hormuz. Teheran juga ingin membaca sikap China menjelang pembicaraan Xi Jinping dengan Trump, termasuk kemungkinan adanya konsesi Beijing kepada Washington yang bisa berdampak pada kepentingan Iran.
Laporan media AS bahkan menyebut China sedang mempertimbangkan opsi meningkatkan dukungan militer kepada Iran. CBS News melaporkan bahwa analis intelijen Pentagon menilai Beijing tengah menimbang pemberian sistem radar canggih dan pertahanan udara, meski belum jelas apakah transfer itu benar-benar terjadi.
Kepentingan China Tidak Hanya Soal Energi
Di sisi lain, China juga tidak ingin Iran melemah terlalu jauh karena Teheran berperan sebagai penyeimbang strategis terhadap pengaruh AS di Timur Tengah. Bagi Beijing, stabilitas kawasan tetap penting, tetapi posisi Iran sebagai mitra juga memberi keuntungan geopolitik yang lebih luas.
Iran semakin aktif mendorong penggunaan yuan China dalam transaksi minyak, sejalan dengan ambisi Beijing memperluas peran mata uangnya di tengah dominasi dolar AS. Dari sudut pandang itu, krisis ini bukan hanya ujian diplomasi, tetapi juga peluang bagi China untuk menunjukkan pengaruhnya di luar Asia Timur.
Pakistan bahkan disebut telah meminta China memainkan peran mediasi yang lebih besar dalam ketegangan regional ini. Jika Beijing berhasil membantu meredakan konflik, pengaruhnya di antara negara-negara produsen energi Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga dapat meningkat.
Langkah Diplomasi Masih Dibuka
Amerika Serikat bersama sekutu-sekutu Teluk dilaporkan sedang menyusun resolusi PBB untuk menjamin keselamatan pelayaran di Selat Hormuz. Draf itu, menurut laporan kantor berita Jerman DPA, berisi tuntutan agar Iran menghentikan serangan terhadap kapal, menyingkirkan ranjau laut, dan menghentikan pemungutan biaya transit.
Usulan tersebut juga dilaporkan telah direvisi agar bisa mengamankan dukungan Rusia dan China. Dalam konteks ini, Beijing berada pada posisi yang menentukan karena setiap sikapnya dapat memengaruhi arah negosiasi, baik di PBB maupun dalam pembicaraan langsung antara para pihak terkait.
Krisis ini memberi China kesempatan langka untuk tampil sebagai perantara utama dalam konflik global, seperti saat Beijing membantu memulihkan hubungan Arab Saudi dan Iran pada 2023. Dengan AS dan China sama-sama ingin menghindari guncangan ekonomi yang lebih dalam, ruang bagi diplomasi masih ada, meski sempit dan sangat bergantung pada langkah lanjutan dari Teheran, Washington, dan Beijing.
Source: www.beritasatu.com








