Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendorong negaranya untuk mengurangi ketergantungan pada bantuan militer Amerika Serikat yang selama ini mencapai US$ 3,8 miliar per tahun. Dalam wawancara dengan program “60 Minutes” CBS, Netanyahu mengatakan Israel sebaiknya mulai melepaskan diri dari dukungan militer Washington secara bertahap dalam satu dekade ke depan.
Ia menegaskan proses itu tidak perlu dilakukan secara mendadak. “Kita menerima US$ 3,8 miliar per tahun, dan saya pikir sudah saatnya kita melepaskan diri dari dukungan militer yang tersisa. Saya katakan, mari kita mulai sekarang dan lakukan selama dekade berikutnya,” kata Netanyahu kepada jurnalis CBS, Major Garrett.
Tekanan Dukungan Publik AS
Selain soal bantuan militer, Netanyahu juga menyoroti perubahan sikap publik Amerika Serikat terhadap Israel. Ia menilai dukungan itu ikut melemah dan mengaitkannya dengan pengaruh media sosial yang semakin besar dalam membentuk opini.
Netanyahu menyebut ada negara-negara yang memanipulasi media sosial secara cerdas untuk merugikan Israel. Ia mengatakan langkah tersebut berdampak langsung pada citra Israel di dunia internasional.
“Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya perdebatan global mengenai perang di Timur Tengah serta pengaruh media sosial dalam membentuk opini publik internasional,” demikian konteks yang melatari komentar Netanyahu dalam wawancara tersebut.
Sorotan ke China dan Iran
Dalam percakapan yang sama, Netanyahu juga menyinggung keterlibatan China di kawasan Timur Tengah. Ia menyebut Beijing diduga memberi dukungan tertentu kepada Iran, termasuk komponen untuk pembuatan rudal.
“China memberikan sejumlah dukungan dan komponen tertentu untuk pembuatan rudal. Namun, saya tidak bisa mengatakan lebih dari itu,” ujarnya.
Laporan CNN sebelumnya menyebut intelijen AS melihat China tengah bersiap mengirim sistem pertahanan udara baru ke Iran. Meski begitu, pemerintah China membantah tuduhan bahwa mereka membantu Iran memperkuat militernya.
Program Nuklir Iran Masih Jadi Fokus
Netanyahu kembali menekankan bahwa pembatasan kemampuan nuklir Iran tetap menjadi prioritas. Ia mengatakan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan terkait program nuklir Teheran, terutama soal stok uranium yang diperkaya tinggi.
Ia juga menilai Presiden AS Donald Trump memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya menghilangkan persediaan uranium Iran demi menjaga stabilitas kawasan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa isu nuklir Iran tetap menjadi salah satu titik utama dalam kalkulasi keamanan Israel.
Gencatan Senjata dan Negosiasi yang Terpisah
Di tengah upaya gencatan senjata antara AS dan Iran, Netanyahu menilai proses itu tidak boleh digabung dengan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hezbollah di Lebanon selatan. Menurut dia, Iran justru ingin kedua isu itu dibahas sebagai satu paket.
“Yang ingin dilakukan Iran adalah mengatakan, ‘Tidak, Anda tahu, jika kita mencapai gencatan senjata di sini, kita menginginkan gencatan senjata di sana,’” kata Netanyahu.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ketegangan antara Israel, Iran, dan kelompok proksi di kawasan masih jauh dari reda. Situasi ini membuat perdebatan soal ketergantungan militer Israel pada AS, pengaruh media sosial, dan ancaman keamanan regional terus menjadi perhatian utama di panggung internasional.
Source: www.beritasatu.com






