Damai Di Meja, Ledekan Trump Membayangi Iran Dan Mengguncang Kepercayaan

Amerika Serikat dan Iran sama-sama menunjukkan sinyal ingin meredakan ketegangan, tetapi proses itu belum berjalan mulus. Di tengah upaya diplomasi yang intensif, Presiden Donald Trump justru memicu tanda tanya lewat unggahan media sosial yang dinilai provokatif.

Situasi ini membuat publik melihat dua wajah yang berbeda dari Washington. Di satu sisi, ada pembicaraan damai yang disebut terus bergerak, tetapi di sisi lain ada gestur politik yang bisa mengganggu kepercayaan Teheran.

Perundingan damai mulai bergerak

Dari Washington, kabar yang muncul menunjukkan bahwa pembahasan nota kesepahaman untuk gencatan senjata telah mencapai tahap lanjut. Trump bahkan menyebut draf Memorandum of Understanding itu sudah “sebagian besar dinegosiasikan” dan tinggal menunggu finalisasi.

Proses ini tidak berdiri sendiri karena melibatkan banyak jalur diplomasi. Trump dikabarkan melakukan komunikasi dengan para pemimpin Arab Saudi, Qatar, dan Turki untuk membantu menjembatani proses yang masih punya banyak celah.

Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, juga disebut baru mengunjungi Teheran. Menurut catatan Al-Jazeera, kunjungan itu dinilai “sangat produktif” karena ikut membantu mempersempit perbedaan pandangan yang masih tersisa.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, juga menyampaikan nada yang serupa. Ia menyebut ada progres yang sedang dikerjakan terus-menerus dalam upaya menyusun kesepakatan.

Cuitan yang justru menimbulkan keraguan

Namun, optimisme itu terganggu oleh unggahan Trump di Truth Social. Ia membagikan gambar bendera Amerika Serikat yang menutupi peta Iran secara penuh, lalu menambahkan pertanyaan provokatif: “United States of the Middle East?”.

Unggahan itu dipandang bertolak belakang dengan pernyataan resmi pemerintahannya yang menyebut tidak ingin melakukan pendudukan atau perubahan rezim secara paksa di Iran. Karena itu, banyak pihak menilai pesan yang disampaikan Trump justru merusak kesan bahwa AS benar-benar serius menempuh jalur damai.

Pakar hubungan internasional Vali Nasr menilai tindakan itu aneh dan berisiko besar. Ia menyebut sikap seperti itu bisa menyatukan masyarakat Iran dalam semangat دفاع negara sekaligus mengikis kepercayaan terhadap niat Amerika dalam diplomasi.

Iran tetap berhati-hati

Teheran merespons dinamika ini dengan sikap yang sangat hati-hati. Meski mengakui ada kemajuan dalam penyusunan draf 14 poin kesepakatan, Iran menegaskan masih ada perbedaan pandangan yang “dalam dan signifikan”.

Juru bicara kementerian luar negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa draf memang sedang difinalisasi. Namun, ia juga menegaskan bahwa Iran tidak bisa menaruh kepercayaan penuh pada pihak yang dinilai tidak jujur dalam proses negosiasi.

Sikap waspada ini menunjukkan bahwa pembicaraan di tingkat tinggi belum otomatis menghapus kecurigaan lama. Selama sinyal dari Washington masih bercampur antara ajakan damai dan provokasi, Iran tampak memilih menahan diri.

Dampaknya terasa sampai ke urusan olahraga

Ketidakpercayaan Iran terhadap Amerika Serikat tidak berhenti di meja perundingan. Federasi Sepak Bola Iran memindahkan basis latihan tim nasional untuk Piala Dunia 2026 dari Arizona ke Tijuana, Meksiko.

Keputusan itu sudah disetujui FIFA dan diambil untuk menghindari masalah visa serta kekhawatiran keamanan bagi delegasi Iran. Langkah tersebut memperlihatkan bahwa keraguan terhadap AS masih kuat, bahkan dalam agenda non-politik.

Di tengah upaya diplomasi yang terus berjalan, keputusan itu menjadi penanda bahwa hubungan kedua negara masih rapuh. Selama pesan resmi dan gestur politik di Washington belum sejalan, Iran tampaknya akan tetap menjaga jarak dan mengurangi risiko di setiap bidang yang dianggap sensitif.

Source: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button