Iran Balas Serangan AS, Pangkalan Militer Di Tiga Negara Jadi Sasaran Sekaligus

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Serangan itu disebut sebagai balasan langsung atas serangan AS ke pelabuhan dan pulau-pulau Iran di Selat Hormuz.

Dalam keterangan resmi yang dikutip pada Rabu, 10 Juni 2026, IRGC menyatakan operasi dilakukan dengan drone dan rudal jarak jauh. Iran juga menegaskan serangan tersebut menjadi respons atas eskalasi militer yang dinilai terus menekan wilayah kedaulatannya.

Serangan balasan Iran meluas ke tiga negara

Menurut pernyataan IRGC, target yang diserang mencakup markas armada kelima AS di Bahrain, Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, serta sebuah pangkalan udara di Azraq, Yordania. Iran menyebut rudal jarak jauhnya diarahkan ke fasilitas militer di Yordania, sementara drone digunakan untuk menyerang titik lain di kawasan Teluk.

Melansir Al Jazeera, IRGC mengklaim telah menghantam 21 target milik Amerika Serikat dan merusak empat di antaranya. Salah satu yang disebut hancur adalah hanggar jet tempur F-35 di pangkalan militer di Yordania.

Klaim tembakan jatuh drone dan serangan ke fasilitas Iran

Iran juga menyampaikan klaim lain, yakni berhasil menembak jatuh sebuah drone MQ-9 milik AS di langit Kota Jam, Iran. Di sisi lain, Teheran menyebut serangan Amerika sebelumnya telah merusak menara telekomunikasi di Kota Sirik dan menghancurkan dua tangki penampungan air di wilayah tersebut.

Ketegangan terbaru ini muncul setelah militer Amerika Serikat menyerang Pulau Qeshm dan sejumlah pelabuhan di pesisir Iran di kawasan Selat Hormuz. Washington disebut melancarkan serangan itu setelah menuduh Iran menjatuhkan helikopter Apache milik AS pada Selasa sebelumnya.

Sirene berbunyi di Bahrain, Kuwait, dan Yordania

Respons cepat juga terlihat di sejumlah negara yang menjadi lokasi pangkalan AS. Di Yordania, militer setempat mengatakan telah mencegat dan menembak jatuh lima rudal yang mengarah ke Azraq.

Militer Yordania menyebut serpihan rudal jatuh ke daratan, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan material. Sementara itu, Kuwait sebelumnya mengumumkan sedang mencegat target udara yang dianggap bermusuhan di wilayah udaranya, tanpa merinci lebih jauh.

Di Bahrain dan Kuwait, sirene peringatan juga dilaporkan berbunyi saat situasi keamanan memburuk. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Amerika Serikat terkait klaim serangan Iran tersebut.

Iran kirim sinyal peringatan keras

IRGC menegaskan pasukannya berada dalam kondisi siap penuh untuk merespons setiap aksi militer AS. Teheran juga menyatakan Washington harus menanggung seluruh konsekuensi bila konflik terus meningkat.

Pernyataan itu menunjukkan Iran ingin memberi pesan bahwa setiap serangan terhadap wilayahnya akan dibalas. Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, menilai respons cepat Iran mencerminkan pendekatan baru dalam doktrin pertahanannya.

“Mereka percaya harus merespons secara proporsional, tetapi sangat keras dan cepat terhadap setiap serangan Amerika,” ujar Parsi. Ia menambahkan bahwa Iran ingin mencegah situasi yang membuat AS merasa bisa menyerang tanpa konsekuensi berarti.

Parsi juga menilai kepercayaan kedua pihak terhadap peluang kesepakatan damai semakin turun setiap kali eskalasi seperti ini terjadi. Menurutnya, rangkaian bentrokan terbaru justru membuat jalan menuju deeskalasi semakin sulit ditempuh.

Eskalasi kawasan makin rumit

Gelombang serangan ini terjadi sehari setelah Iran dan Israel kembali saling melancarkan serangan dalam eskalasi yang disebut paling serius sejak gencatan senjata mulai berlaku pada April lalu. Konflik yang dimulai dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari itu juga telah mengguncang perekonomian global.

Dampaknya meluas ke pasar energi dan pangan, dengan kenaikan harga bahan bakar serta kebutuhan pokok. Upaya menuju kesepakatan damai masih berjalan lambat, sementara situasi regional semakin rumit setelah Israel meningkatkan operasi militernya di Lebanon terhadap Hezbollah.

Source: www.viva.co.id

Berita Terkait

Back to top button