Kesepakatan AS-Iran Mengguncang Israel, Netanyahu Dihadapkan pada Krisis Baru

Author: Qoo Media

Kesepakatan yang ditempuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meredakan ketegangan dengan Iran memunculkan kekhawatiran baru di Israel. Di Jerusalem, para pejabat tinggi menilai langkah itu bisa mengurangi tekanan terhadap Teheran sekaligus memperlemah posisi Israel dalam menghadapi Iran dan Hizbullah di Libanon.

Kekhawatiran itu juga berkaitan dengan belum jelasnya rincian kesepakatan yang rencananya ditandatangani akhir pekan ini. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut berupaya keras meminta pertemuan mendesak dengan Trump agar posisi kedua pihak tetap sejalan dalam isu-isu strategis yang semakin berbeda.

Divergensi kepentingan Washington dan Jerusalem

Pada awal konflik, AS dan Israel bergerak dalam garis yang relatif sama. Namun, arah kepentingan mulai berbeda setelah Iran menutup Selat Hormuz dan memicu gangguan besar terhadap pasokan minyak serta gas global.

Trump dinilai ingin segera menghentikan perang yang tidak populer di mata konsumen Amerika. Sebaliknya, Netanyahu justru mendorong tekanan yang lebih besar terhadap rezim Iran.

Sikap itu terlihat pula saat Trump mengkritik serangan Israel ke Beirut melalui media sosial. Ia meminta Israel menghentikan serangan di Libanon, meski kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi AS pada Juni lalu hanya mewajibkan penghentian serangan jika Hizbullah juga berhenti menyerang.

Kekhawatiran utama Israel

Di Israel, kekhawatiran terbesar bukan hanya soal diplomasi, tetapi juga dampak praktis dari pelonggaran tekanan terhadap Teheran. Salah satu sorotan utama adalah kemungkinan Iran menerima bantuan finansial senilai miliaran dolar AS tanpa komitmen penyerahan uranium yang diperkaya.

Para pejabat dan pengamat juga menyoroti risiko Iran membangun kembali kemampuan militernya bersama jaringan proksinya. Selain itu, kesepakatan ini dinilai bisa memberi legitimasi internasional yang lebih besar bagi rezim Iran.

Tekanan politik yang menimpa Netanyahu

Di dalam negeri, Netanyahu menghadapi kritik dari banyak arah. Sejumlah pihak menuduhnya membawa Israel ke perang yang salah arah dan gagal menjaga hubungan dengan mitra terpentingnya, yakni Amerika Serikat.

Mantan penasihat keamanan nasional Chuck Freilich bahkan menilai Netanyahu sedang menjalankan politik murni untuk menyelamatkan posisinya menjelang pemilu Israel di musim gugur mendatang. Di depan publik, Netanyahu memang tidak secara terbuka menyerang kesepakatan AS-Iran dan tetap menyebut tujuan perang Israel sebagian besar telah tercapai.

Namun, di lingkaran dalam pemerintahan, kekecewaan disebut cukup besar. Harapan bahwa perang dapat menghasilkan perubahan fundamental di kawasan, termasuk kemungkinan menggulingkan rezim Iran, kini dinilai semakin tidak realistis.

Sikap militer Israel dan batas pengaruh ke Washington

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa militer akan tetap mempertahankan zona keamanan di Libanon tanpa batas waktu. Ia menyebut langkah itu perlu untuk melindungi komunitas di utara Israel.

Katz juga menyatakan Israel akan bertindak sendiri jika perlu untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Di sisi lain, Trump mencoba menenangkan kekhawatiran itu lewat wawancara dengan The Wall Street Journal.

Trump mengatakan, “Bibi baik-baik saja dengan ini. Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam kondisi apa pun.” Meski begitu, para analis menilai Iran masih memiliki berton-ton material yang diperkaya, cukup untuk bahan bakar hampir 11 senjata nuklir.

Ketergantungan Israel pada amunisi dan sistem pertahanan udara AS selama tiga tahun terakhir juga menjadi faktor yang membatasi ruang gerak Israel. Mantan duta besar Israel untuk AS, Michael Herzog, menilai Trump akan tetap mengambil keputusan yang dianggapnya terbaik, terlepas dari apakah itu menguntungkan Israel atau tidak.

Source: mediaindonesia.com
Terbaru