5 Poin Penentu Damai AS-Iran, Kesepakatan Nuklir Ini Bisa Menguntungkan Israel

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepakatan damai dengan Iran telah tercapai lewat unggahan di Truth Social. Pernyataan itu segera menarik perhatian karena tidak hanya menyangkut penghentian ketegangan, tetapi juga membuka kembali pembahasan soal program nuklir Iran dan dampaknya bagi Israel.

Dalam penjelasan lanjutan, Trump juga menyebut Selat Hormuz dibuka kembali tanpa biaya tol dan blokade angkatan laut AS terhadap Iran dicabut. Namun, ia menegaskan kepada New York Times bahwa jika kesepakatan akhir terkait nuklir gagal, AS masih bisa melancarkan serangan terhadap Teheran.

Lima isu yang paling menentukan

Menurut analisis The Jerusalem Post, keberhasilan atau kegagalan kesepakatan ini akan ditentukan oleh lima poin krusial. Kelimanya mencakup urusan teknis nuklir, posisi Israel, hingga ancaman rudal balistik yang masih menjadi perhatian utama di kawasan.

1. Nasib uranium 60 persen dan 20 persen

Poin pertama yang paling sensitif adalah stok uranium Iran yang diperkaya hingga 60 persen dan 20 persen. Kerangka kesepakatan yang ditandatangani pada Minggu hingga Senin memulai masa negosiasi selama 60 hari untuk membahas nuklir dan sanksi.

Jika uranium 60 persen berhasil dipindahkan atau diencerkan di bawah pengawasan AS, maka ancaman jangka pendek dari program nuklir Iran dinilai bisa ditekan. Sebaliknya, jika stok itu tetap ada, Iran masih menyimpan kemampuan yang dapat dipakai untuk langkah lebih jauh dalam beberapa tahun ke depan.

Uranium 20 persen juga ikut menjadi perhatian karena level ini bisa menjadi pijakan menuju pengayaan yang lebih tinggi. The Jerusalem Post menilai pengamanan stok uranium tersebut tidak akan cepat, bahkan jika kesepakatan final tercapai setelah masa negosiasi selesai.

2. Pembekuan pengayaan uranium

Isu berikutnya adalah apakah Iran akan membekukan pengayaan uranium selama 15 hingga 20 tahun. Bocoran sebelumnya menyebut opsi itu mungkin disetujui, tetapi pernyataan Trump justru memunculkan tanda tanya karena ia menyebut ada tingkat pengayaan rendah tertentu yang disetujui.

Detail itu penting karena menentukan seberapa besar ruang yang masih dimiliki Iran. Jika pengayaan rendah tetap dibatasi ketat dan sentrifugal tidak bisa dibangun ulang dalam jumlah besar, maka kesepakatan bisa dianggap sangat menguntungkan AS dan Israel.

Sebaliknya, jika Iran masih mendapat kelonggaran untuk mengoperasikan banyak sentrifugal, kekhawatiran lama akan kembali muncul. Kritik terhadap kesepakatan nuklir 2015 juga lahir dari fakta masih adanya ribuan sentrifugal yang bisa diaktifkan kembali.

3. Penarikan pasukan dari Lebanon

Selain isu nuklir, pembahasan juga menyentuh kemungkinan penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan. Israel disebut tidak punya kepentingan untuk mempertahankan kehadiran militer permanen di wilayah itu, tetapi penarikan tetap dikaitkan dengan langkah pembatasan terhadap Hizbullah.

Israel ingin memastikan Hizbullah tidak lagi memperkuat diri di selatan Lebanon dan tidak menyelundupkan senjata presisi jarak jauh baru. Dalam skema yang dibahas, Israel juga berpeluang mempertahankan lima pos pengamatan kecil sebagai zona keamanan.

The Jerusalem Post menilai langkah itu sebaiknya tidak diambil terburu-buru sebelum ada solusi yang lebih menyeluruh terhadap ancaman Hizbullah. Di sisi lain, proses ini juga dinilai bisa membuka jalan ke arah normalisasi hubungan dengan Lebanon.

4. Kembalinya strategi MABAM

Jika kesepakatan nuklir benar-benar berjalan, Israel diperkirakan akan menahan operasi militer terhadap Hizbullah sampai isu uranium 60 persen benar-benar selesai. Setelah itu, Israel disebut kemungkinan kembali ke strategi MABAM, atau perang di antara perang.

Strategi ini merujuk pada serangan terbatas, senyap, dan terarah terhadap jalur penyelundupan senjata di Lebanon dan Suriah. Fokusnya bukan perang besar, melainkan upaya menjaga agar transfer senjata strategis tidak memperkuat lawan secara signifikan.

Menurut analisis The Jerusalem Post, menghentikan operasi terhadap senjata kecil Hizbullah mungkin masih bisa dipertimbangkan. Namun, menghentikan seluruh pencegahan terhadap penyelundupan senjata strategis dinilai terlalu berisiko.

5. Batas toleransi atas rudal balistik Iran

Poin terakhir yang dinilai penting adalah rudal balistik Iran. Israel disebut memiliki ambang toleransi tertentu terhadap jumlah rudal yang dimiliki Teheran, meski angka pastinya tidak diumumkan.

Sejumlah analis memperkirakan batas itu berada di kisaran 4.000 hingga 6.000 rudal. Selama ini, Israel disebut hidup berdampingan dengan fakta bahwa Iran memiliki ribuan rudal balistik, tetapi lonjakan jumlah yang terlalu besar bisa mengganggu keseimbangan pertahanan udara Israel.

Karena itu, The Jerusalem Post menilai Israel perlu menyampaikan batas yang jelas kepada Iran. Jika jumlah rudal melampaui ambang yang dianggap aman, situasi itu dapat dipandang sebagai ancaman langsung yang sulit ditoleransi.

Kelima poin tersebut akan menentukan apakah kesepakatan damai AS-Iran benar-benar membawa stabilitas baru atau justru menyisakan risiko lanjutan bagi Israel dan kawasan Timur Tengah. Nasib uranium yang diperkaya, pembekuan pengayaan, penarikan pasukan dari Lebanon, strategi militer Israel, dan batas rudal balistik Iran menjadi ukuran utama yang akan terus diawasi dalam pembahasan berikutnya.

Source: www.beritasatu.com

Terkait