Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyetujui kerangka kesepakatan dengan Amerika Serikat, tetapi keputusan itu disertai keberatan. Dalam surat yang dibagikan media negara pada Kamis, ia menegaskan bahwa dirinya pada prinsipnya tidak setuju dengan kesepakatan tersebut.
Khamenei menyebut persetujuannya muncul karena rasa tanggung jawab terhadap rakyat Iran dan sekutu-sekutunya. Ia juga menilai Presiden Donald Trump mengambil langkah itu מתוך “keputusasaan”.
Iran kini menunggu pemenuhan syarat-syarat yang disebutkan dalam surat tersebut. Dokumen itu juga menegaskan bahwa negosiasi langsung di masa depan tidak berarti Iran menerima posisi pihak lawan.
Sikap hati-hati di balik persetujuan
Pernyataan itu menunjukkan bahwa dukungan Teheran tidak datang tanpa batas. Khamenei memberi lampu hijau pada kerangka kesepakatan, tetapi tetap menjaga jarak dari isi dan arah politiknya.
Bahasa yang dipakai juga mengisyaratkan bahwa Iran ingin menempatkan dirinya sebagai pihak yang masih menuntut pemenuhan komitmen terlebih dahulu. Dengan begitu, kesepakatan tersebut belum diperlakukan sebagai penerimaan penuh atas tuntutan Washington.
Latar kepemimpinan baru di Tehran
Mojtaba Khamenei disebut berusia 56 tahun dan ditunjuk sebagai penerus ayahnya, Ali Khamenei, pada 8 Maret 2026. Penunjukan itu dilakukan setelah Ali Khamenei tewas sepekan sebelumnya dalam serangan udara AS-Israel ke Tehran.
Sejak mulai menjabat sebagai otoritas politik tertinggi di Iran, pemimpin tertinggi baru itu belum muncul di depan umum. Ketidakhadirannya memicu spekulasi mengenai kondisi kesehatannya.
Ada pula laporan yang belum terkonfirmasi bahwa ia selamat dari serangan tersebut dengan luka serius dan masih menjalani perawatan medis. Klaim itu tidak dapat diverifikasi secara independen.







