Ancaman Trump Dibalas, Iran Siagakan Angkatan Bersenjata di Garis Depan

Author: Qoo Media

Iran menyatakan angkatan bersenjatanya dalam kesiapan penuh untuk menghadapi ancaman serangan fisik dari Amerika Serikat. Sikap itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan bernada keras yang kembali menaikkan suhu hubungan kedua negara.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan Washington agar berhati-hati dalam menyampaikan ancaman dan sanksi. Ia menegaskan bahwa tekanan militer tidak akan membuat Teheran tunduk, apalagi di tengah perundingan yang masih berlangsung di Swiss.

Kesiapan militer Iran di tengah tekanan

Ghalibaf menyampaikan bahwa angkatan bersenjata Iran siap merespons dengan cara lain jika ancaman terus dilontarkan. Ia menyebut sikap keras dari Washington menunjukkan kegagalan upaya intimidasi yang selama ini dipakai untuk menekan Iran.

Pernyataan itu juga menandai bahwa Teheran tidak ingin posisi tawarnya dalam diplomasi digerakkan oleh ancaman senjata. Dalam pandangan Ghalibaf, jika tekanan Amerika Serikat benar-benar efektif, kondisi saat ini tidak akan memanas seperti sekarang.

Peringatan keras kepada Washington

Melalui akun media sosial X, Ghalibaf meminta pihak Amerika Serikat menjaga ucapan mereka di ruang publik. Ia mengatakan angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siaga tertinggi dan siap memberikan respons bila situasi memburuk.

Ungkapan itu muncul saat Ghalibaf memimpin delegasi Iran dalam dialog penting dengan pihak Amerika Serikat. Pertemuan tersebut berlangsung di resor Buergenstock, Swiss bagian tengah, yang menjadi lokasi pembicaraan tingkat tinggi kedua negara.

Trump kembali memicu ketegangan

Ketegangan meningkat setelah Trump mengeluarkan pernyataan provokatif melalui Truth Social. Ia mengancam akan melancarkan serangan militer besar terhadap Iran dalam waktu dekat.

Ancaman itu dikaitkan dengan tuduhan bahwa Iran terus mendukung Hezbollah di Timur Tengah. Dalam unggahannya, Trump juga menyerukan agar Iran dihantam lebih keras bila tidak segera menghentikan dukungannya terhadap kelompok tersebut.

Diplomasi yang bergerak di bawah bayang-bayang ancaman

Situasi ini memperlihatkan betapa rapuhnya jalur diplomatik yang sedang ditempuh kedua negara. Di satu sisi ada upaya perundingan, tetapi di sisi lain muncul ancaman terbuka yang justru mempersempit ruang kompromi.

Hubungan Iran dan Amerika Serikat memang telah lama dibayangi ketegangan. Keadaan makin memburuk sejak Washington keluar sepihak dari perjanjian nuklir dan menjatuhkan sanksi ekonomi berlapis terhadap Teheran.

Dalam konteks itu, dukungan Iran terhadap jaringan poros perlawanan di kawasan terus menjadi sumber utama perselisihan dengan Amerika Serikat. Saling ancam yang kembali mencuat kini membuat pembicaraan di Swiss berjalan dalam suasana yang jauh dari tenang.

Source: www.suara.com
Terbaru