Gempa bumi kembar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang wilayah utara Venezuela dan menewaskan lebih dari 1.400 orang. Dampak bencana itu tidak berhenti pada korban jiwa, karena jaringan jalan, jembatan, dan akses logistik di daerah terdampak ikut lumpuh total.
Di kota pelabuhan La Guaira, kerusakan infrastruktur membuat distribusi pangan dan air bersih terhenti. Warga kemudian berusaha bertahan dengan mengambil kebutuhan pokok dari toko-toko yang masih bisa diakses.
Akses bantuan terputus
Runtuhnya jembatan dan jalan utama membuat tim penyelamat kesulitan menjangkau wilayah terdampak. Situasi ini memperlambat evakuasi dan mempersulit pengiriman bantuan ke kawasan yang paling parah terkena gempa.
Ketika suplai bantuan tak kunjung lancar, keluarga korban memilih menggali reruntuhan secara mandiri. Dalam kondisi itu, waktu pencarian terus berjalan di bawah cuaca tropis yang menambah tekanan bagi para penyintas.
Presiden Pelaksana Delcy Rodríguez menyampaikan bahwa rakyat Venezuela tidak sendirian menghadapi bencana ini. Namun di lapangan, warga melihat respons darurat berjalan lambat dan belum cukup menjawab kebutuhan mendesak.
Warga mencari keluarga mereka sendiri
Banyak keluarga masih belum mengetahui nasib kerabat mereka yang hilang. Di sejumlah lokasi, bau menyengat dari puing-puing yang membusuk membuat warga harus memakai masker saat mendekati reruntuhan.
Mileidy Duque, warga lokal berusia 43 tahun, mengatakan keluarganya ikut turun langsung membongkar puing demi mencari sanak saudara. Ia menyebut ibunya yang berusia 82 tahun, saudara laki-laki, putri, dan kekasih putrinya masih belum ditemukan.
“Situasi ini sungguh menyedihkan, bukan hanya bagi saya, melainkan bagi seluruh Venezuela,” kata Duque kepada CNN. Ia juga mengaku tak berdaya menghadapi ketakutan bahwa keluarganya mungkin masih terjebak di bawah reruntuhan.
Di wilayah padat penduduk hingga kawasan elite, ketidakpastian mengenai ribuan orang hilang memicu ketegangan besar. Harapan keluarga korban semakin menipis seiring berjalannya masa emas evakuasi 72 jam.
Kritik atas kesiapan negara
Bencana ini memunculkan kritik keras terhadap kesiapan pemerintah dalam menghadapi keadaan darurat. Warga menilai fasilitas evakuasi, peralatan pemadam kebakaran, dan dukungan logistik tidak memadai untuk skala bencana sebesar ini.
Pengarsipan data korban hilang juga disebut masih dilakukan secara manual di atas kertas tanpa sistem digital yang layak. Gustavo Quintero mengatakan warga bahkan harus mencari nama orang terkasih mereka pada lembaran tulisan tangan, sementara petugas tidak memiliki sumber daya yang cukup.
“Sungguh tak masuk akal bahwa saat ini sudah tahun 2026, namun negara ini masih beroperasi dengan cara seperti ini,” ujar Quintero kepada CNN. Keluhan serupa mencerminkan rapuhnya manajemen tanggap darurat di tengah krisis ekonomi yang sudah lama membebani negara itu.
Ingatan lama tentang tragedi serupa
Bagi warga La Guaira, gempa kali ini menghidupkan kembali ingatan pada tragedi tanah longsor besar di Desember 1999. Universitas Sentral Venezuela pernah memperkirakan hampir 15.000 orang tewas dalam peristiwa itu, meski tidak ada angka resmi pemerintah.
Lindomar Milla, salah satu warga yang kehilangan saudara, menyebut kehancuran kali ini terasa lebih masif dan sulit dipahami. Ia mengatakan banyak keluarga masih mencari kepastian apakah kerabat mereka hidup atau sudah meninggal.
“Situasi ini jauh lebih buruk daripada bencana tanah longsor,” kata Milla kepada CNN. Ia juga menggambarkan kepedihan warga yang datang ke La Guaira dan mendapati bangunan-bangunan sudah rata dengan tanah.
Relawan bergerak dari dalam dan luar negeri
Di tengah keterbatasan bantuan resmi, gerakan solidaritas muncul dari mahasiswa dan anak muda di ibu kota. Mereka mengumpulkan obat-obatan, pakaian, serta makanan kering untuk disalurkan langsung kepada warga terdampak.
Mariana Sanchez, mahasiswa berusia 20 tahun, mengatakan kelompoknya memilih bergerak cepat dengan cara swadaya. Ia melihat kelompok mahasiswa lain juga melakukan hal serupa, dan dukungan dari masyarakat terus mengalir.
Solidaritas juga datang dari komunitas diaspora Venezuela di Miami, New York, dan Madrid. Mereka mengirim kebutuhan pokok bayi, senter, pakaian, dan perlengkapan darurat untuk meringankan beban korban di tanah air.
“Tidak peduli berapa tahun berlalu sejak saya meninggalkan Venezuela, saya akan selalu merasakan penderitaan negara itu,” kata Marcos Mirabal, warga Miami, saat menyalurkan donasi. Ia membawa popok, senter, dan pakaian untuk keluarga yang kehilangan banyak hal.
Bencana yang memperlihatkan rapuhnya infrastruktur
Gempa ini datang ketika Venezuela sudah lama berada dalam tekanan ekonomi kronis. Inflasi tinggi membuat banyak warga kesulitan membeli kebutuhan pangan dasar, sehingga bencana alam memperburuk kondisi yang sebelumnya sudah rapuh.
Tekanan ekonomi global dan iklim politik yang represif juga telah mendorong jutaan warga bermigrasi ke negara tetangga seperti Kolombia dan Amerika Serikat. Dalam kondisi seperti itu, gempa bumi kembar menjadi ujian besar bagi ketahanan sosial dan kapasitas negara menghadapi krisis.
Di tengah puing-puing yang masih harus dibersihkan, warga terus menunggu kepastian tentang keluarga mereka dan berharap bantuan bisa menjangkau lebih cepat. Sementara itu, kelumpuhan jalan, jembatan, dan logistik masih menjadi penghalang utama bagi upaya penyelamatan dan pemulihan di Venezuela.
Source: www.suara.com






