Pembentukan serikat pekerja di Starbucks Korea menjadi perubahan besar bagi jaringan kedai kopi tersebut, yang telah beroperasi di Korea Selatan sejak 1999. Langkah ini muncul setelah polemik promosi gelas pakai ulang “Tank Day” memicu kemarahan publik dan berakhir dengan pengunduran diri CEO perusahaan.
Serikat itu menyatakan ingin melindungi hak pekerja serta mendorong lingkungan kerja yang lebih baik. Mereka menilai berbagai upaya sebelumnya untuk memperbaiki kondisi kerja belum memperoleh respons yang memadai dari manajemen.
Starbucks Korea mengonfirmasi pembentukan serikat tersebut pada Minggu, 19 Juli 2026. Perusahaan tidak mengungkapkan jumlah pekerja yang sudah bergabung dalam organisasi itu.
Polemik promosi pada hari bersejarah
Kontroversi bermula dari promosi “Tank Day” yang digelar pada 18 Mei. Tanggal itu bertepatan dengan peringatan ke-46 Pemberontakan Gwangju, gerakan prodemokrasi yang ditindak secara represif oleh pemerintah pada 1980.
Promosi tersebut dikecam karena dinilai membangkitkan ingatan kelam terkait peristiwa Gwangju. Data resmi menyebut 165 warga sipil tewas dalam peristiwa tersebut.
| Peristiwa | Waktu | Rincian |
|---|---|---|
| Promosi “Tank Day” | 18 Mei | Digelar bertepatan dengan peringatan Pemberontakan Gwangju |
| Pernyataan serikat | 16 Juli 2026 | Menjelaskan tujuan melindungi hak pekerja dan kondisi kerja |
| Konfirmasi perusahaan | 19 Juli 2026 | Starbucks Korea mengonfirmasi pembentukan serikat pekerja |
Dampak polemik tidak berhenti pada kritik publik. CEO Starbucks Korea kemudian mengundurkan diri, sementara penjualan perusahaan dilaporkan menurun dalam beberapa hari pertama setelah insiden itu mencuat.
Perusahaan juga sempat menutup lebih dari 2.000 gerainya di seluruh Korea Selatan lebih awal. Penutupan itu dilakukan untuk memberi edukasi kepada karyawan mengenai makna historis Pemberontakan Gwangju.
Tuntutan atas beban kerja
Dalam pernyataan yang dipublikasikan di situs Federasi Serikat Pekerja Kimia, Tekstil, dan Pangan Korea pada 16 Juli 2026, serikat menyoroti beban kerja yang mereka rasakan. Menurut mereka, Starbucks Korea terus meluncurkan program promosi yang justru semakin membebani karyawan.
Serikat tidak secara langsung menyebut “Tank Day” dalam pernyataannya. Namun, kemunculannya terjadi setelah kontroversi promosi tersebut memperbesar perhatian terhadap relasi perusahaan dan pekerja.
“Waktunya telah tiba bagi kami untuk memperjuangkan hak-hak kami dan membangun kembali hubungan antara pekerja dan manajemen secara setara,” demikian pernyataan serikat tersebut. Pernyataan itu menegaskan keinginan pekerja untuk memiliki posisi yang lebih setara dalam dialog dengan manajemen.
Seorang pejabat Starbucks Korea menyatakan perusahaan akan tetap berkomunikasi dengan serikat pekerja sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Sikap itu menjadi respons awal perusahaan terhadap organisasi pekerja pertama sejak bisnis Starbucks mulai beroperasi di negara tersebut.
Pasar besar dengan puluhan ribu pekerja
Starbucks Korea saat ini mempekerjakan sekitar 23.000 orang. Menurut laporan Beritasatu.com yang mengutip AFP, pasar Korea Selatan merupakan yang terbesar ketiga bagi Starbucks di dunia setelah Amerika Serikat dan China.
Skala operasi yang besar membuat pembentukan serikat pekerja ini menjadi perhatian penting bagi perusahaan. Komunikasi antara manajemen dan serikat akan menentukan bagaimana tuntutan mengenai hak pekerja serta beban promosi ditangani ke depan.
