Militer Israel membangun tanggul tanah sepanjang lebih dari 23 kilometer di Jalur Gaza, melintasi kawasan permukiman Palestina yang telah hancur akibat operasi militer. Penghalang ini membentang lebih dari separuh panjang wilayah pesisir Gaza yang sekitar 40 kilometer.
Pembangunan tersebut memicu kekhawatiran bahwa garis kuning, yang semula dirancang sebagai batas sementara penarikan pasukan Israel, dapat berubah menjadi perbatasan baru di dalam Gaza. Warga Palestina kini banyak terkonsentrasi di kawasan pesisir barat garis itu, termasuk di kamp-kamp tenda yang bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Garis Kuning dan Zona Keamanan
Militer Israel mengonfirmasi kepada Associated Press bahwa penghalang fisik itu dibangun di sekitar garis kuning. Garis tersebut merupakan batas penarikan pasukan Israel berdasarkan kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas pada Oktober yang didukung Amerika Serikat.
Dalam kesepakatan itu, pasukan Israel seharusnya ditarik lebih jauh dari Gaza pada tahap berikutnya. Namun, proses pelaksanaan gencatan senjata mengalami kebuntuan selama berbulan-bulan.
Israel menyatakan tanggul dan zona keamanan di sekitarnya dibuat untuk mencegah penyusupan serta melindungi pasukan dan komunitas Israel yang berada dekat Gaza. Area tersebut juga disebut dilengkapi perangkat intelijen dan teknologi, tetapi militer Israel tidak menjelaskan jalur lengkap pembangunan tanggul.
Penandaan garis kuning di lapangan disebut belum konsisten dan tidak dijelaskan secara rinci dalam kesepakatan maupun pernyataan pejabat Israel dan AS. Militer Israel mengatakan sedang memperjelas penanda garis itu untuk mengurangi gesekan dan mencegah korban dari kalangan yang tidak terlibat.
| Lokasi | Perkembangan Tanggul | Periode |
|---|---|---|
| Gaza selatan | Bertambah dari sekitar 500 meter menjadi 2,4 kilometer | 1 Juli hingga 15 Juli |
| Dekat Khan Younis | Bertambah lebih dari 1 kilometer | 21 Juni hingga 7 Juli |
| Khan Younis hingga dekat Kota Gaza | Membentang hampir tanpa putus sekitar 17 kilometer | Pembangunan dimulai pada Februari |
Pembangunan Cepat di Tengah Reruntuhan
Citra satelit Planet Labs PBC memperlihatkan pembangunan tanggul berlangsung cepat di sejumlah titik. Salah satu ruas di Gaza selatan bertambah panjang lebih dari 2 kilometer dalam dua pekan pada bulan ini.
Ruas tersebut memisahkan reruntuhan Rafah yang dikuasai Israel dari Muwasi, kawasan yang menampung sejumlah kamp tenda Palestina terbesar. Jika terus dibangun ke arah yang sama, jalur itu berpotensi tersambung dengan bentangan penghalang terpanjang yang telah ada.
Jalur sepanjang sekitar 17 kilometer membentang dari Khan Younis di selatan hingga mendekati Kota Gaza di utara. Berdasarkan citra satelit, pekerjaan untuk memperpanjangnya ke arah selatan masih berjalan.
Di dekat Bani Suheila, tanggul terlihat membentang di sekitar pangkalan militer Israel yang dibangun di atas reruntuhan kawasan tersebut. Sementara itu, beberapa ruas yang belum tersambung juga terlihat di luar Beit Lahia, kota di utara Gaza yang sebagian besar telah rata dengan tanah.
Belum diketahui berapa tinggi penghalang tanah itu. Di beberapa titik, tanggul tampak dibangun melewati garis kuning yang menjadi batas penarikan pasukan.
Wilayah Dikuasai Israel Mengalami Perubahan Besar
Di sisi timur garis kuning, citra satelit menunjukkan banyak bangunan telah diratakan dengan buldoser dan bahan peledak. Sejumlah kota terdampak berat, termasuk Rafah yang sebelumnya dihuni lebih dari 250.000 orang.
Pasukan Israel juga membuka jaringan jalan baru dan mendirikan pangkalan militer di atas reruntuhan kota-kota Palestina. Lahan pertanian di wilayah yang dikuasai turut mengalami kerusakan, sementara Israel menyatakan penghancuran itu menyasar infrastruktur yang digunakan Hamas.
Menurut laporan yang dikutip www.liputan6.com, sejumlah warga Palestina tewas setelah mendekati atau melintasi garis kuning. Militer Israel menyatakan tembakan diarahkan kepada orang-orang yang dianggap sebagai anggota kelompok bersenjata dan mengancam pasukannya.
Namun, korban juga mencakup anak-anak serta warga sipil lain yang diyakini tidak mengetahui letak garis tersebut. Sejumlah tentara Israel mengaku tidak selalu mengetahui identitas orang yang mereka tembak dan mengatakan mendapat perintah menembak siapa pun yang melintasi batas.
Korban Terus Bertambah Saat Gencatan Senjata Mandek
Sejak gencatan senjata berlaku, pasukan Israel telah menewaskan lebih dari 1.100 warga Palestina, terutama akibat serangan udara dan pesawat nirawak di berbagai wilayah Gaza. Dalam periode yang sama, serangan kelompok bersenjata menewaskan lima tentara Israel.
Pada Selasa dini hari, serangan Israel di Kota Gaza menewaskan Firas al-Masri, istrinya, serta empat anak mereka yang berusia 6 hingga 13 tahun, menurut Rumah Sakit Shifa. Militer Israel menyatakan mereka menyerang anggota Hamas di kawasan yang sama.
Ahmad al-Masri, saudara Firas yang tinggal dekat lokasi, mengatakan mendengar anak-anak itu memanggilnya ketika ledakan terjadi. “Mereka memanggil saya, ‘Paman! Paman!’,” katanya.
Berdasarkan kesepakatan, pasukan Israel pada akhirnya harus ditarik hingga tepi Gaza dan digantikan pasukan keamanan internasional. Seorang mantan diplomat PBB yang mengoordinasikan gencatan senjata menyebut kebuntuan terjadi karena Hamas belum melucuti senjata, sementara Hamas menuduh Israel melanggar kesepakatan.
Perang bermula setelah serangan kelompok bersenjata pimpinan Hamas ke sejumlah komunitas Israel pada 7 Oktober 2023 yang diklaim menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang disandera. Operasi militer Israel setelah itu, menurut otoritas Gaza, telah menewaskan lebih dari 73.000 orang.
Source: www.liputan6.com






