Dokter spesialis anak sekaligus konselor laktasi, dr Lucky Yogasatria, mengingatkan bahwa kekurangan zat besi pada anak dapat menambah risiko stunting. Namun, ia menegaskan kondisi itu tidak otomatis membuat semua anak stunting mengalami kekurangan zat besi.
Stunting sendiri umumnya muncul akibat kekurangan gizi kronis atau infeksi berulang. Kondisi ini membuat asupan kalori dan energi yang diterima tubuh tidak cukup untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Zat besi bukan satu-satunya penyebab
dr Lucky menjelaskan, penyebab stunting perlu ditelusuri lebih jauh karena bisa berkaitan dengan kekurangan mikronutrisi maupun makronutrisi. Mikronutrisi yang dimaksud antara lain zat besi dan zinc, sedangkan makronutrisi mencakup karbohidrat dan protein.
Ia menilai tanda kekurangan mikronutrisi sering kali tidak tampak jelas. Berbeda dengan kekurangan protein yang biasanya lebih mudah terlihat karena anak cenderung kurus dan pertumbuhannya tidak berjalan baik.
“Kalau anak yang kekurangan protein sudah pasti pertumbuhannya tidak oke,” ujar dr Lucky. Ia menambahkan bahwa kekurangan mikronutrisi kadang tidak langsung terlihat meski dampaknya tetap mengganggu tumbuh kembang anak.
Dampak pada pertumbuhan dan otak
Menurut dr Lucky, anak dengan stunting perlu segera mendapat penanganan, terutama pada 2 tahun pertama kehidupan. Pada masa itu, kebutuhan nutrisi sangat penting karena stunting juga berkaitan dengan kondisi otak yang berisiko ikut kekurangan nutrisi.
Ia mengingatkan bahwa kekurangan zat besi dapat menghambat perkembangan anak secara luas. Dampaknya bisa berupa anemia, gangguan perkembangan otak, hingga penurunan tingkat kecerdasan.
Pemeriksaan perlu dilakukan sebelum diagnosis
Untuk memastikan penyebab stunting, dokter perlu memantau apakah anak mengalami kekurangan zat besi, zinc, atau nutrisi lain. Pemeriksaan kadar zat besi dalam tubuh anak menjadi langkah penting sebelum diagnosis ditegakkan.
Jika terbukti mengalami kekurangan, anak biasanya akan mendapat terapi zat besi atau suplemen tambahan. Pemeriksaan juga dapat mencakup kadar zinc dan vitamin D, tergantung kondisi yang ditemukan dokter.
Asupan makanan dan pencegahan sejak ibu hamil
Sebagai pencegahan, dr Lucky menyarankan pemberian makanan yang kaya zat besi sejak dini. Sumber yang disebutkan antara lain hati ayam, daging ayam, dan daging sapi.
Ia juga menekankan pentingnya pemenuhan zat besi pada ibu hamil. Langkah ini diperlukan untuk membantu mencegah bayi lahir dalam kondisi anemia, yang dapat berdampak pada tumbuh kembang berikutnya.
