Indonesia mencatat sejarah baru dalam layanan kesehatan dengan keberhasilan transplantasi ginjal berbantuan teknologi robotik pertama di Tanah Air. Prosedur ini dilakukan di Siloam Hospitals Asri, Jakarta, dan menjadi penanda masuknya pendekatan bedah yang lebih presisi ke dalam layanan transplantasi organ di Indonesia.
Operasi tersebut berlangsung melalui kolaborasi tim medis Indonesia dan Asan Medical Center, Korea Selatan. Selain menjalankan tindakan medis, kerja sama ini juga membawa unsur transfer keahlian agar pengembangan teknologi serupa bisa diperkuat di dalam negeri.
Prosedur dilakukan dengan pengawasan tim lintas negara
Transplantasi ginjal itu dikerjakan oleh tim urologi Siloam Hospitals Asri yang dipimpin Prof. DR. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), bersama sejumlah dokter spesialis lain. Tim dari Asan Medical Center turut hadir untuk memberi supervisi dan pendampingan selama prosedur berlangsung.
Keterlibatan rumah sakit Korea Selatan tersebut menjadi bagian penting dari penerapan standar internasional. Kolaborasi itu juga menunjukkan bahwa transplantasi ginjal robotik tidak hanya soal penggunaan alat canggih, tetapi juga soal kesiapan tim medis dalam menjalankan prosedur dengan tingkat presisi tinggi.
Pasien penderita gagal ginjal stadium akhir
Pasien yang menjalani operasi adalah pria berusia 57 tahun dengan penyakit ginjal stadium akhir akibat hipertensi. Sebelum menjalani transplantasi, pasien tersebut diketahui menjalani hemodialisis rutin dua kali setiap pekan sejak didiagnosis mengalami gangguan ginjal pada Juli 2025.
Kondisi ini menggambarkan betapa berat beban penyakit ginjal stadium akhir bagi pasien. Transplantasi kemudian menjadi salah satu opsi terapi yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup dan fungsi ginjal pasien.
Bedah robotik memberi presisi lebih tinggi
Berbeda dari transplantasi konvensional, prosedur ini memanfaatkan sistem bedah robotik yang dikendalikan dokter melalui konsol khusus. Teknologi tersebut memberi visualisasi tiga dimensi dan gerakan instrumen yang lebih presisi selama operasi.
Dengan kemampuan itu, bedah robotik dinilai dapat membantu mengurangi trauma jaringan, menekan risiko perdarahan, dan menurunkan nyeri pascaoperasi. Pendekatan ini juga membuat tindakan pembedahan lebih terkontrol, terutama pada prosedur yang membutuhkan ketelitian tinggi seperti transplantasi ginjal.
Langkah penting bagi layanan transplantasi organ
Prof. Nur Rasyid menyebut keberhasilan ini sebagai tonggak penting bagi tim bedah dan inovasi layanan kesehatan di Indonesia. Ia menegaskan bahwa pencapaian tersebut lahir dari kerja sama multidisiplin antara tenaga medis Indonesia dan Korea Selatan.
Dalam keterangannya, Prof. Nur Rasyid mengatakan, “Keberhasilan pelaksanaan transplantasi ginjal berbantuan robot pertama di Indonesia ini menjadi tonggak penting bagi tim bedah kami, sekaligus bagi inovasi layanan kesehatan di Indonesia.” Pernyataan itu menegaskan bahwa keberhasilan ini dipandang bukan hanya sebagai pencapaian klinis, tetapi juga sebagai kemajuan teknologi medis.
Kondisi pasien stabil usai operasi
Berdasarkan evaluasi pascaoperasi, pasien berada dalam kondisi stabil dan menunjukkan peningkatan fungsi ginjal. Tim medis juga mencatat produksi urin pasien telah mencapai target yang diharapkan sebagai salah satu indikator awal keberhasilan transplantasi.
Temuan awal ini menjadi sinyal positif terhadap proses pemulihan pasien setelah tindakan. Meski demikian, pemantauan medis tetap menjadi bagian penting dalam memastikan fungsi ginjal baru berjalan optimal.
Kolaborasi Siloam Hospitals Asri dan Asan Medical Center diharapkan membuka jalan bagi pengembangan lebih lanjut layanan transplantasi berbasis robotik di Indonesia. Jika kapasitas tenaga medis terus diperkuat melalui transfer keahlian, pilihan terapi bagi pasien penyakit ginjal stadium akhir dapat makin luas tanpa harus selalu mencari tindakan serupa ke luar negeri.
Source: www.suara.com






