Puasa 72 jam menarik perhatian karena dikaitkan dengan proses perbaikan tubuh yang lebih dalam daripada sekadar membatasi makan. Sejumlah temuan yang dikutip dari peneliti USC menyebutkan bahwa puasa berkepanjangan dapat memicu regenerasi sel punca dan membantu sistem kekebalan tubuh memulai ulang proses kerjanya.
Gagasan ini berangkat dari cara tubuh beradaptasi saat asupan makanan dihentikan dalam periode tertentu. Dalam kondisi tersebut, tubuh disebut masuk ke fase pembersihan biologis, ketika sel mulai mengurai komponen yang rusak dan memanfaatkan kembali sisa-sisa yang masih bisa dipakai.
Autofagi jadi kunci proses perbaikan sel
Salah satu mekanisme yang disorot adalah autofagi, yakni proses saat sel “memakan” protein rusak dan mitokondria yang bermasalah. Proses ini membantu tubuh membersihkan limbah di tingkat molekuler dan memberi ruang bagi pembaruan sel yang lebih sehat.
Dalam artikel referensi, puasa ini digambarkan bukan sebagai kelaparan, melainkan sebagai kondisi yang memaksa tubuh membangun ulang dirinya dari dalam. Pada titik tertentu, proses tersebut disebut bisa melemahkan metabolisme sel kanker dan memberi keuntungan bagi sel sehat dalam regenerasi.
Apa yang terjadi di hari pertama hingga jam ke-36
Pada hari pertama, rasa lapar biasanya masih kuat, tetapi hormon ghrelin mulai menurun menjelang akhir hari. Pada fase ini, otak juga mulai beralih dari glukosa ke keton sebagai sumber energi.
Sekitar jam ke-36, tubuh disebut memasuki tahap yang lebih stabil. Keton membanjiri otak, kabut pikiran berkurang, dan fokus bisa meningkat, sementara hormon pertumbuhan dilaporkan melonjak 300% untuk membantu mempertahankan otot saat tubuh membakar lemak.
Setelah 48 jam, respons tubuh makin berubah
Saat puasa melewati 48 jam, sumber referensi menyebut nyeri kronis dapat mereda. Hal itu dikaitkan dengan penurunan sitokin inflamasi, yaitu molekul yang berhubungan dengan kelelahan, kekakuan sendi, dan penuaan dini.
Pada fase ini, tubuh dipahami mulai bekerja lebih efisien. Adaptasi tersebut membuat sebagian orang merasa lebih tenang, lebih ringan, dan lebih fokus, meski respons tubuh tetap bisa berbeda pada tiap individu.
Peran hidrasi dan elektrolit tidak bisa diabaikan
Selama puasa, air saja tidak selalu cukup untuk menjaga kondisi tubuh tetap stabil. Elektrolit seperti natrium dan magnesium juga disebut penting karena membantu menjaga jantung tetap stabil, otot tetap bekerja, dan energi tidak mudah turun.
Karena itu, puasa berkepanjangan tidak bisa dipisahkan dari pemantauan kondisi tubuh. Asupan cairan dan elektrolit menjadi bagian penting agar proses puasa tidak justru mengganggu fungsi tubuh yang sedang beradaptasi.
Cara mengakhiri puasa juga menentukan hasilnya
Referensi menekankan bahwa cara membuka puasa sama pentingnya dengan proses puasanya. Jika langkah awal dilakukan sembarangan, manfaat yang dicapai bisa berkurang dan tubuh justru kesulitan menyesuaikan diri kembali ke pola makan normal.
Langkah yang disebutkan antara lain memulai dengan kaldu tulang, lalu menambahkan telur atau alpukat secara bertahap. Karbohidrat juga disarankan dihindari selama 24 jam pertama setelah puasa agar proses pemulihan berjalan lebih teratur.
Puasa 72 jam memang dikaitkan dengan peluang aktivasi ulang sistem kekebalan, tetapi efeknya bergantung pada proses biologis tubuh, kecukupan hidrasi, serta cara mengakhiri puasa. Karena itu, pembahasan soal manfaat puasa berkepanjangan selalu perlu melihatnya sebagai proses yang kompleks, bukan sekadar menahan lapar selama tiga hari.
Source: lifestyle.bisnis.com






