Studi terbaru menunjukkan bahwa penggunaan ganja dapat meningkatkan risiko terkena strok dan serangan jantung, bahkan di kalangan orang muda yang sebelumnya tampak sehat. Sebuah penelitian besar yang menganalisis data dari 200 juta orang mengungkapkan bahwa pengguna ganja berisiko dua kali lipat kematian akibat penyakit jantung, termasuk diantaranya serangan jantung yang meningkat hingga 29% dan risiko strok yang meningkat 20% dibandingkan dengan non-pengguna.
Menurut Profesor Émilie Jouanjus dari Universitas Toulouse, temuan ini meresahkan karena banyak pasien yang mengalami masalah kesehatan akibat penggunaan ganja tidak memiliki faktor risiko kardiovaskular lainnya. Ini menunjukkan bahwa dampak negatif ganja terhadap jantung bisa muncul secara tiba-tiba. Dr. Lynn Silver, seorang ahli kesehatan masyarakat dari Universitas California, San Francisco, juga menegaskan perlunya kesadaran terhadap bahaya ganja bagi kesehatan jantung. “Kita sering kali menganggap ganja aman, namun risikonya nyata dan bisa berakibat fatal,” ujarnya.
Regulasi dalam penggunaan ganja saat ini juga menjadi sorotan. Dr. Silver mencatat bahwa banyak fokus saat ini adalah pada legalisasi dan bisnis ganja, tanpa memberikan perhatian yang cukup pada masalah kesehatan. Ganja yang beredar saat ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan yang ada pada tahun 1970-an. Beberapa produk ganja legal bahkan mengandung THC hingga 99%, jauh lebih tinggi daripada kadar ganja konvensional. THC adalah senyawa psikoaktif utama yang berpotensi memicu gangguan jantung.
Bentuk konsumsi ganja juga berperan penting dalam dampaknya terhadap kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa baik merokok maupun mengonsumsi produk makanan yang mengandung THC—seperti permen dan kue—semuanya dapat merugikan kesehatan jantung. Pengguna ganja yang merokok mengalami penurunan fungsi pembuluh darah sebesar 42%, sementara pengguna edibles mengalami penurunan hingga 56%.
Tingginya kadar THC dalam produk ganja modern dapat meningkatkan risiko kecanduan dan gangguan mental. Menurut data dari CDC, sekitar 30% pengguna ganja di Amerika Serikat mengalami “gangguan penggunaan ganja”, yang merupakan istilah medis untuk ketergantungan. Dr. Silver juga memperingatkan bahwa banyak pengguna, termasuk yang lebih tua yang menggunakan ganja untuk meredakan nyeri atau kesulitan tidur, mungkin tidak menyadari risiko kesehatan yang mereka ambil.
Stigma negatif terhadap ganja telah berkurang seiring dengan legalisasi di banyak negara, tetapi para ahli mendesak agar kita tidak menganggap semua yang “alami” sama dengan aman. Bukti ilmiah yang terus berkembang menunjukkan bahwa ganja, terutama dalam bentuk yang lebih kuat saat ini, bisa berdampak serius pada kesehatan jantung.
Dengan semakin tingginya data dan riset mengenai efek negatif ganja, masyarakat dan tenaga kesehatan diharapkan lebih waspada. Penting untuk menyadari bahwa meski ganja dianggap legal dan mungkin aman oleh sebagian orang, penggunaan ganja tetap membawa risiko yang tak bisa diabaikan, terutama bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Masyarakat diminta untuk lebih memperhatikan informasi kesehatan yang akurat dan terukur, agar dapat membuat keputusan yang lebih baik terkait penggunaan ganja.
