Sunat atau sirkumsisi merupakan prosedur medis untuk mengangkat kulit kulup di ujung penis. Pertanyaan utama yang sering muncul di kalangan orang tua adalah, pada usia berapa anak laki-laki sebaiknya disunat? Menurut berbagai sumber medis, seperti Mayo Clinic dan American Academy of Pediatrics (AAP), ada beberapa pertimbangan mengenai waktu yang tepat untuk melakukan sunat, mengingat faktor kesehatan dan mental pada anak.
Manfaat Sunat untuk Kesehatan Anak
Sunat memiliki berbagai manfaat kesehatan. Salah satunya adalah mengurangi risiko infeksi saluran kemih (ISK), terutama pada bayi yang tidak disunat. Penelitian menunjukkan bahwa bayi memiliki peluang lebih tinggi terkena ISK dalam tahun pertama kehidupannya jika tidak disunat. Selain itu, sunat dapat menurunkan risiko penyakit menular seksual (PMS) hingga 60%, termasuk infeksi HIV, HPV, dan herpes genital.
Sunat juga dapat mencegah masalah seperti fimosis, di mana kulit kulup tidak dapat ditarik kembali, dan parafimosis yang bisa menyebabkan nyeri. Meski kanker penis jarang terjadi, risiko terkena kanker pada pria disunat juga lebih rendah. Melakukan sunat juga mempermudah kebersihan, meski pria yang tidak disunat masih bisa menjaga kebersihan jika diajarkan dengan benar. Meskipun ada beberapa risiko, seperti perdarahan dan infeksi, tingkat kejadian komplikasi ini cukup rendah, yaitu antara 1-2%.
Usia Ideal untuk Sunat
Secara umum, sunat dapat dilakukan pada usia berapa pun, tetapi ada beberapa periode usia yang lebih ideal. Berikut penjelasan mengenai masing-masing kelompok usia:
-
Bayi (0-12 Bulan):
Sunat pada bayi, terutama dalam 10 hari pertama setelah lahir, adalah waktu yang paling umum. Bayi memiliki regenerasi sel yang lebih cepat, sehingga luka yang dihasilkan dari sunat dapat sembuh dalam 3-10 hari. Pembuluh darah yang lebih kecil juga mengurangi risiko perdarahan yang mungkin terjadi. Selain itu, bayi tidak akan mengingat prosedur ini, sehingga lebih kecil kemungkinan terjadi trauma psikologis. Namun, penting untuk memastikan kondisi kesehatan bayi dalam keadaan baik. -
Balita dan Anak Pra-Sekolah (1-5 Tahun):
Pada usia ini, sunat masih dapat dilakukan, meskipun kurang umum. Beberapa tantangan yang dihadapi adalah anak mulai memahami prosedur, sehingga mungkin mengalami ketakutan. Hal ini dapat menyebabkan trauma psikologis dan memperlambat penyembuhan jika luka tergesek atau tergores. -
Anak Sekolah (6-12 Tahun):
Di Indonesia, usia ini sering kali menjadi waktu yang ideal untuk sunat, terutama saat libur sekolah. Namun, anak-anak pada usia ini lebih memiliki ingatan dan pengalaman, sehingga dapat merasakan nyeri dan ketakutan lebih kuat. Luka sunat di usia ini juga membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh (7-14 hari) dan mungkin memerlukan jahitan. - Remaja dan Dewasa:
Sunat pada usia remaja atau dewasa biasanya dilakukan karena alasan medis atau pilihan pribadi. Walaupun prosedur ini aman, luka yang lebih besar dan waktu pemulihan yang bisa mencapai 2-4 minggu menjadi pertimbangan. Rasa malu dan kecemasan bisa menjadi lebih besar, terutama jika dilakukan karena masalah medis.
Penting bagi orang tua untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis sebelum memutuskan waktu dan metode sunat yang paling sesuai. Prosedur ini aman dilakukan selama kondisi kesehatan anak memenuhi syarat dan dilakukan oleh tenaga medis yang profesional. Dengan pemahaman yang tepat, diharapkan orang tua dapat membuat keputusan yang terbaik bagi buah hati mereka.
