Seorang pria berusia 60 tahun di Prancis menjadi salah satu di antara segelintir orang yang mengalami efek langka setelah menerima vaksin Covid-19 AstraZeneca, dengan gejala yang mencakup radang otak dan bahkan kambuh dua kali. Kejadian ini menggarisbawahi pentingnya pemantauan terhadap efek samping pasca-vaksinasi.
Empat minggu setelah menerima vaksin AstraZeneca, pria tersebut yang sebelumnya tidak memiliki riwayat kesehatan serius, mulai mengalami kesulitan berjalan dan kebingungan mental. Dia segera mencari pertolongan medis di Paris, di mana hasil pemindaian otak menunjukkan adanya kondisi serius bernama meningoensefalitis, yaitu radang pada otak dan jaringan sekitarnya. Menurut laporan yang dimuat dalam jurnal JAMA Neurology, dokter menemukan bahwa satu-satunya penyebab potensial adalah reaksi sistem imun terhadap vaksin.
Setelah diagnosis, pria ini diberikan obat imunosupresan selama enam bulan, yang mengakibatkan perbaikan kondisi awal. Namun, setelah tiga bulan masa pengobatan, gejalanya kembali muncul dengan kesulitan berjalan dan disorientasi. Ini menunjukkan bahwa efek pasca-vaksinasi bisa sangat fluktuatif dan membahayakan jika tidak ditangani dengan cepat.
Dari studi yang dilakukan pada 2023, diketahui bahwa vaksin AstraZeneca sering dikaitkan dengan kasus ensefalitis, menyumbang lebih dari sepertiga kasus yang dilaporkan. Penelitian menunjukkan, mekanisme di balik reaksi ini berkaitan dengan komponen vaksin yang berbasis virus flu simpanse yang dimodifikasi, yang dapat memicu reaksi imun abnormal pada protein darah bernama platelet factor 4. Dalam beberapa situasi ekstrem, reaksi ini dapat menyebabkan pembekuan darah, kondisi yang pernah menjadi perhatian di awal peluncuran vaksin.
Tentu saja, peringatan ini tidak baru. Pada tahun 2021, banyak negara Eropa sempat menghentikan penggunaan vaksin AstraZeneca setelah laporan mengenai Thrombosis with Thrombocytopenia Syndrome (TTS), suatu kombinasi pembekuan darah dan rendahnya jumlah trombosit. Meskipun kemudian vaksin ini dibatasi untuk individu berusia di atas 40 tahun, manfaat vaksin tetap dianggap lebih besar daripada risikonya, terutama dalam konteks pencegahan kematian akibat Covid-19.
Sebagai tambahan informasi, vaksin AstraZeneca menggunakan teknologi vektor virus—sebuah metode yang memanfaatkan virus simpanse yang telah dimodifikasi dan dikodekan untuk menghasilkan protein spike virus Covid-19 sebagai mekanisme pelatihan sistem imun. Meskipun kejadian radang otak pasca-vaksin masih dianggap langka, kasus ini menambah daftar efek samping serius yang seharusnya terus dipantau.
Dokter yang menangani kasus ini menekankan pentingnya deteksi dini dan pengobatan agresif, yang berhasil menyelamatkan pasien dari komplikasi neurologis yang serius. Meskipun tiga tahun setelah kejadian itu, pria tersebut kini hampir pulih total, dia masih mengalami gangguan konsentrasi ringan.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat dan otoritas kesehatan untuk tetap waspada terhadap kemungkinan efek samping vaksin, meskipun keuntungan vaksinasi jauh lebih penting dalam memerangi pandemi Covid-19. Transparansi data dan komunikasi yang jelas tentang potensi risiko dan manfaat sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik dalam program vaksinasi yang berkelanjutan.
