Ganti Rokok ke Vape? Waspadai Risiko Penyakit Paru yang Mengancam

Beralih dari rokok tembakau ke vape dianggap oleh banyak orang sebagai langkah positif untuk kesehatan. Namun, para ahli kesehatan menyatakan bahwa kebiasaan ini tetap menyimpan risiko penyakit paru-paru yang signifikan. Menurut Dr. Sanjay Sethi dari University at Buffalo, zat kimia yang terkandung dalam vape, seperti nikotin dan akrolein, dapat merusak jaringan paru-paru, meningkatkan produksi lendir, serta memicu peradangan. Dalam jangka panjang, paparan terhadap unsur-unsur ini bisa mengakibatkan gangguan pernapasan kronis, yang dikenal sebagai PPOK (penyakit paru obstruktif kronik).

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa beberapa cairan vape, terutama yang mengandung THC, dapat mengandung vitamin E asetat, yang berhubungan dengan penyakit paru-paru serius seperti EVALI (E-cigarette or Vaping product use-associated Lung Injury). Gejala dari EVALI berupa batuk, sesak napas, hingga detak jantung yang cepat, yang semuanya dapat mengancam kesehatan secara serius.

Zat Berbahaya dalam Vape

Salah satu komponen yang sering digunakan dalam vape adalah propylene glycol. Walaupun dianggap aman saat dimakan, zat ini berpotensi menjadi racun ketika dipanaskan dan dihirup. Menurut Dr. Sethi, ketika propylene glycol dipanaskan, ia dapat menghasilkan zat berbahaya yang mirip dengan yang ada dalam rokok konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa, meski vape mungkin terlihat sebagai alternatif yang lebih aman, ia tetap membawa risiko kesehatan yang serupa.

Sebuah studi besar yang dilakukan pada 2020 menegaskan bahwa pengguna vape memiliki risiko 43% lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan, seperti asma dan bronkitis kronis, dibandingkan dengan non-pengguna. Data ini menunjukkan dampak negatif yang signifikan dari penggunaan vape, meskipun sering kali lebih banyak dianggap sebagai langkah untuk berhenti merokok.

Kombinasi Merokok dan Vaping

Dr. Daniel R. Ouellette dari Henry Ford Health menegaskan bahwa dampak jangka panjang dari vaping belum sepenuhnya dipahami. Kombinasi antara merokok dan vaping dapat meningkatkan risiko kesehatan. Saat individu terpapar dua kelompok zat kimia secara bersamaan, risiko untuk kesehatan paru-paru dapat meningkat secara drastis. "Kombinasi ini bisa jauh lebih berbahaya," jelas Dr. Ouellette.

Populasi Rentan

Vape semakin populer di kalangan anak muda, meskipun beberapa kebijakan pelarangan rasa telah diterapkan di Amerika Serikat. Data menunjukkan bahwa sekitar 15,5% orang dengan usia 21 hingga 24 tahun menggunakan vape, sedangkan hanya 3,3% dari mereka yang berusia di atas 50 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna muda menjadi kelompok yang paling rentan terhadap risiko yang ditimbulkan oleh vaping. Dr. Jorge M Mercado dari NYU Langone Hospital – Brooklyn memperingatkan bahwa vape tidak hanya menyebabkan kecanduan nikotin, tetapi juga dapat merusak paru-paru, bahkan pada individu yang masih muda.

Kasus Nyata

Tragedi yang mencolok terjadi pada tahun 2019, ketika seorang remaja berusia 16 tahun menjadi pasien pertama di AS yang harus menjalani transplantasi paru-paru akibat kerusakan parah yang disebabkan oleh vaping. Kasus ini menjelaskan dengan jelas bahaya yang menyertai penggunaan produk vaping, dan mengingatkan banyak pihak bahwa vaping bukanlah solusi bebas risiko untuk kebiasaan merokok.

Melihat semua informasi ini, sangat jelas bahwa meskipun vaping mungkin memberikan ilusi sebagai alternatif yang lebih aman daripada rokok tembakau, risiko penyakit paru-paru tetap mengintai. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan menyadari keseimbangan antara apa yang dianggap aman dan bahaya yang mungkin didapat dari kebiasaan tersebut. Vaping, meskipun tidak seberat merokok konvensional, tetap menimbulkan ancaman yang tidak dapat diabaikan bagi kesehatan paru-paru dalam jangka panjang. Informasi lebih lanjut tentang dampak vaping terhadap kesehatan paru-paru sangat penting agar masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih terinformasi terkait kebiasaan ini.

Exit mobile version