Ini Kesalahan Fatal yang Perburuk Cedera Lutut, Waspadai Dampaknya!

Banyak orang beranggapan bahwa mereka dapat kembali berolahraga setelah rasa sakit pada lutut menghilang. Namun, dokter spesialis olahraga Zeth Boroh memperingatkan bahwa keputusan ini sering kali menjadi kesalahan fatal yang dapat memperparah cedera lutut. Menilai hanya berdasarkan hilangnya rasa sakit tidaklah cukup; pemeriksaan yang mendetail dan pemahaman tentang proses pemulihan sangat diperlukan.

Lutut, pergelangan kaki, dan bahu adalah beberapa area tubuh yang rentan terhadap cedera berulang. Ketiga sendi ini sering digunakan dalam aktivitas olahraga intensif, sehingga berisiko tinggi mengalami kerusakan lebih lanjut jika pemulihan tidak dilakukan dengan benar. Zeth menyatakan, “Saya sering melihat pasien yang buru-buru kembali berolahraga begitu nyerinya hilang, padahal otot dan sendinya belum stabil.”

Pengobatan cedera tidak berhenti hanya pada hilangnya nyeri; terapi harus dianggap lengkap hingga semua fungsi kembali optimal. Masyarakat perlu memahami bahwa cedera sendi tidak boleh dianggap sepele. “Setelah selesai terapi, baru setelah itu lakukan penguatan otot,” tambahnya. Proses strengthening ini sangat penting untuk memulihkan stabilitas dan kekuatan area yang sebelumnya cedera. Jika otot di sekitar sendi lemah, risiko cedera ulang akan meningkat signifikan.

Salah satu kesalahan umum yang sering dilakukan adalah langsung kembali berolahraga dengan intensitas yang sama seperti sebelum cedera. Zeth memberi saran untuk memulai aktivitas fisik dengan beban yang lebih ringan, misalnya jika biasanya seorang atlet lari sejauh 15 kilometer, setelah cedera sebaiknya dimulai dari jarak 5 kilometer. Ini harus dilakukan secara bertahap dan memperhatikan respons tubuh.

Mengetahui bahwa proses pemulihan ke olahraga memerlukan waktu yang tidak sebentar adalah kunci untuk mencegah cedera lebih lanjut. “Return to sport itu butuh waktu, bisa lebih dari tiga minggu,” ujar Zeth. Oleh karena itu, sangat penting untuk menerapkan kesabaran dan mendengarkan sinyal yang diberikan oleh tubuh.

Selama proses pemulihan, penguatan otot harus dilakukan dengan terencana. Zeth menyarankan agar latihan dimulai dari 30 persen dari kapasitas normal, lalu meningkat menjadi 50 persen. Ini bertujuan untuk memastikan bahwa tubuh benar-benar siap sebelum kembali ke aktivitas yang lebih intens. Dengan cara ini, peluang untuk mendapatkan cedera lebih parah dapat diminimalisir.

Memahami mekanisme tubuh dan tidak terburu-buru adalah aspek penting dalam rehabilitasi cedera. Apabila disarankan untuk tidak langsung kembali ke intensitas penuh, maka itu harus diperhatikan dengan serius. Pasien cenderung merasa sudah pulih hanya karena nyeri telah hilang, tetapi ini bisa memicu cedera baru jika otot dan sendi belum sepenuhnya siap.

Zeth mengingatkan bahwa proses ini tidak hanya melibatkan penguatan otot tetapi juga terapi lengkap yang harus diikuti dengan baik. “Dengarkan tubuh sendiri dan jangan memaksakan diri agar tidak mengalami cedera yang lebih serius lagi,” tegasnya.

Dengan kesadaran yang tinggi mengenai kesalahan dalam proses pemulihan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam kembali beraktivitas dan menjaga kesehatan lutut mereka. Kualitas penyembuhan sangat bergantung pada kesabaran dan disiplin dalam mengikuti tahap-tahap rehabilitasi dengan baik. Masyarakat diharapkan juga untuk selalu berkonsultasi dengan profesional medis agar proses pemulihan berjalan dengan optimal dan aman.

Exit mobile version