Waspada! Indonesia Peringkat 3 Dunia dalam Kasus Kusta Baru

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia mengungkapkan kekhawatiran terkait tingginya angka kasus kusta baru di tanah air. Berdasarkan data terbaru, Indonesia menduduki peringkat ketiga di dunia, dengan total 14.376 kasus kusta baru. Angka tersebut jauh di bawah India yang mencatatkan 107.851 kasus dan Brasil dengan 22.773 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi wilayah dengan tingkat penularan kusta yang signifikan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes, Ina Agustina, dalam konferensi pers daring, menyatakan bahwa meskipun banyak kabupaten dan kota sudah tidak mencatatkan kasus kusta dewasa, kasus kusta pada anak tetap menjadi perhatian serius. Hingga 31 Mei 2025, tercatat 484 kasus kusta anak, yang setara dengan 13% dari total kasus baru.

Kendati terdapat penurunan persentase dari tahun sebelumnya, di mana 1.420 kasus kusta anak tercatat pada 2024, angka ini masih memerlukan perhatian. Ina menekankan pentingnya deteksi dan penanganan dini, mengingat kusta termasuk dalam kategori penyakit tropis terabaikan (Neglected Tropical Diseases/NTDs). Kemenkes telah menjadikan penanggulangan kusta sebagai salah satu prioritas nasional, dengan harapan untuk menekan angka penyebaran dan mengurangi stigma terhadap para penderita.

Saat ini, hanya enam kabupaten atau kota di Indonesia yang memenuhi standar eliminasi kusta menurut World Health Organization (WHO). Standar tersebut adalah tidak adanya kasus kusta di kalangan anak selama lima tahun terakhir dan nihilnya kasus kusta dewasa selama tiga tahun berturut-turut. Meskipun sebagian besar daerah sudah tidak mencatatkan kasus kusta dewasa, kekhawatiran mengenai kasus kusta pada anak masih menjadi fokus utama.

Gejala awal kusta sering kali muncul berupa bercak putih atau merah pada kulit yang disertai dengan mati rasa. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala tersebut. Pelayanan pemeriksaan dan pengobatan kusta telah tersedia secara gratis di puskesmas, yang memudahkan akses bagi mereka yang membutuhkan perawatan.

Selain itu, Ina mengingatkan bahwa keterlambatan dalam pelaporan kasus dari beberapa daerah masih menjadi faktor yang memengaruhi akurasi data. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pelaporan dan kesiapsiagaan daerah dalam menangani kasus kusta perlu terus diperbaiki. Pihaknya menghimbau agar masyarakat tidak ragu untuk mencari pertolongan medis apabila merasa ada gejala yang mencurigakan.

Kemenkes tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga melakukan upaya sosialisasi untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pencegahan dan pengobatan kusta. Pengetahuan dan kesadaran masyarakat menjadi kunci dalam menanggulangi penyakit ini.

Dalam upaya mengurangi stigma terhadap penderita kusta, edukasi mengenai fakta-fakta penyakit kusta dan cara penularannya harus lebih giat dilaksanakan. Ini penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi penderita kusta, sehingga mereka tidak lagi merasa terasing dari masyarakat.

Pemerintah pun terus menggulirkan berbagai program untuk mendukung upaya tersebut, termasuk mengajak kolaborasi dengan berbagai lembaga dan organisasi non-pemerintah untuk memperkuat pencegahan dan penanganan penyakit kusta. Kesadaran kolektif dan tindakan proaktif dari seluruh elemen masyarakat menjadi sangat vital untuk menanggulangi masalah ini.

Masyarakat juga disarankan untuk secara aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sosial yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang penyakit kusta. Dengan langkah bersama, diharapkan angka kasus kusta di Indonesia dapat menurun sesuai harapan pemerintah dan masyarakat.

Sebagai bagian dari upaya untuk memenuhi standar eliminasi kusta, evaluasi terus menerus terhadap program-program yang ada diperlukan. Pihak terkait diharapkan dapat bekerja sama untuk menemukan solusi yang efektif dalam pengendalian penyakit ini, serta memberikan dukungan penuh kepada para penderita.

Exit mobile version