Sembilan Tera memulai langkah penting di musik independen dengan merilis mini album perdana berjudul Sementara Itu. Rilisan yang hadir pada Mei 2026 ini menempatkan luka batin, rasa kehilangan, dan perasaan hampa sebagai inti cerita.
Band asal Bandung itu memilih membahas sisi rapuh yang sering disembunyikan banyak orang. Di tengah dominasi lagu bertema percintaan ringan, mereka justru menawarkan karya yang lebih personal dan dekat dengan realitas emosional sehari-hari.
Lima lagu dengan benang merah yang sama
Mini album Sementara Itu berisi lima lagu, yaitu “Luruh”, “Pergi”, “Akhir Cerita”, “Jujur Pada Luka”, dan “Sementara Itu”. Seluruh materi ditulis oleh Arie Axara dengan benang merah tentang fase hidup yang terasa menggantung dan penuh ketidakpastian.
Arie mengatakan penulisan lagu lahir dari pengalaman pribadi dan pengamatan terhadap orang-orang di sekitar. Dari panggung ke panggung, band ini melihat banyak orang tampak bahagia, padahal menyimpan lelah yang sulit diucapkan.
“Kami tidak ingin membuat lagu yang sekadar enak didengar. Kami ingin membuat lagu yang bisa menemani orang-orang ketika sedang merasa paling sendiri,” ujar Arie Axara dalam keterangan resmi.
Mengangkat luka tanpa menutupi sisi rapuh
Nuansa emosional menjadi identitas utama dalam mini album ini. Sembilan Tera sengaja tidak menutupi sisi rapuh lewat lirik maupun aransemen, dan memilih tampil apa adanya tanpa mencoba terdengar sempurna.
Arie menegaskan bahwa terlalu banyak orang sibuk terlihat kuat sampai lupa jujur pada diri sendiri. Melalui Sementara Itu, band ini ingin mengingatkan bahwa merasa hancur tetap manusiawi.
Sembilan Tera juga sadar karya mereka tidak harus diterima semua kalangan. Namun, sejak awal mereka memang ingin membuat musik yang relevan bagi orang-orang yang sedang berada di titik terendah dalam hidup.
Dibentuk dari pengalaman panggung kecil
Formasi Sembilan Tera diisi Arie Axara sebagai drummer sekaligus penulis lagu, Aditya pada gitar, Ricky di bass, Eza sebagai vokalis, Angga pada trombone, dan Taufik di keyboard. Keenam personel itu sebelumnya aktif bermusik di berbagai panggung kafe sebelum membangun identitas sendiri lewat proyek ini.
Latar tersebut ikut membentuk pendekatan musik mereka yang terasa dekat dan tidak berjarak. Kehadiran Sementara Itu kemudian menjadi cara pertama band ini memperkenalkan warna musik mereka kepada publik.
Musik sebagai ruang aman
Melalui mini album ini, Sembilan Tera berharap pendengar tidak lagi merasa sendirian menghadapi luka dan tekanan hidup. Mereka ingin musik menjadi ruang aman untuk mengakui rasa sakit tanpa harus berpura-pura kuat di depan orang lain.
Arie menutup dengan harapan sederhana: jika ada satu orang saja yang merasa ditemani setelah mendengar lagu-lagu mereka, itu sudah lebih dari cukup. Dengan tema yang dekat dengan realitas emosional anak muda, Sementara Itu diposisikan sebagai karya jujur yang membawa Sembilan Tera masuk ke percakapan musik independen tanah air.
