Touring motor listrik untuk jarak jauh kembali mendapat sorotan setelah YouTuber otomotif Harald Arkan menuntaskan perjalanan hampir 600 kilometer dengan Polytron Fox 350. Rute yang ditempuh bukan sekadar perjalanan dalam kota, melainkan Jakarta-Merak-Lampung-Way Kambas-Bandar Lampung lalu kembali ke Jakarta dalam tiga hari.
Perjalanan ini menarik karena langsung menguji satu pertanyaan utama yang sering muncul di kalangan pengguna kendaraan listrik. Seberapa nyaman dan realistis motor listrik dipakai touring jarak jauh di kondisi jalan nyata.
Harald menilai pengalaman touring dengan motor listrik terasa berbeda dibanding motor bensin. Karakter berkendara yang senyap disebut membuat perjalanan lebih santai karena tidak ada suara mesin dan knalpot yang terus menemani sepanjang jalan.
Menurut Harald, salah satu nilai lebih terbesar justru datang dari kenyamanan. Polytron Fox 350 dinilai memberi posisi berkendara yang pas untuk postur tubuhnya yang memiliki tinggi sekitar 170 sentimeter.
Fitur yang terasa saat dipakai jauh
Polytron Fox 350 dibekali baterai 3,75 kWh dan tenaga maksimal 6,9 kW. Motor ini memiliki kecepatan puncak 95 km/jam dengan klaim jarak tempuh hingga 130 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Dalam praktik touring, fitur modern menjadi salah satu poin yang paling terasa manfaatnya. Cruise control disebut membantu saat melaju di jalan lurus karena pengendara tidak perlu terus menahan putaran gas.
Fitur lain yang ikut menunjang perjalanan adalah smart key system, hill start assist, regenerative braking, dan deck kaki yang lebih luas. Kombinasi fitur itu membuat motor ini tidak hanya fokus pada efisiensi, tetapi juga kenyamanan untuk perjalanan lama.
Saat touring, Harald dan rombongan sengaja lebih sering memakai mode D. Langkah ini diambil untuk menjaga efisiensi baterai selama perjalanan antarkota yang menuntut pengelolaan daya lebih disiplin.
Dalam mode tersebut, kecepatan maksimal dibatasi hingga 61 km/jam. Dengan pola berkendara seperti itu, baterai bisa menempuh sekitar 90 kilometer saat sisa daya berada di kisaran 20 persen.
Harald juga menyebut jika motor dibawa santai di sekitar 60 km/jam, jarak tempuhnya bisa berada di rentang 110 sampai 120 kilometer. Angka itu menunjukkan hasil riil sangat dipengaruhi gaya berkendara dan pemilihan mode.
Fast charging jadi kelebihan utama
Salah satu temuan penting dari perjalanan ini ada pada urusan pengisian daya. Harald mengaku cukup terkejut karena proses charging pertama di showroom Polytron Serang berjalan cepat, dari 27 persen hingga penuh dalam waktu sekitar satu jam lebih sedikit.
Selama perjalanan, rombongan juga memanfaatkan fast charging portable milik Polytron. Perangkat ini memiliki tiga mode pengisian, yaitu slow charging 7 ampere, normal 13,5 ampere, dan fast charging 25 ampere.
Dengan skema itu, pengisian dari kondisi belasan persen hingga penuh disebut bisa selesai sekitar satu jam. Untuk konteks touring, waktu tunggu seperti ini menjadi faktor penting karena menentukan ritme perjalanan dan titik istirahat.
Biaya charging juga menjadi poin yang dianggap unggul. Di SPKLU Cilegon, pengisian dari 86 persen ke 100 persen hanya sekitar Rp2.500.
Sementara itu, pengisian baterai dari kondisi hampir habis hingga penuh di Kalianda hanya memerlukan biaya belasan ribu rupiah. Di service center Polytron, pengisian daya bahkan disebut tidak dipungut biaya.
Kekuatan di tanjakan, catatan di infrastruktur
Kemampuan motor ini juga diuji di tanjakan Bukit Cindi, Bandar Lampung. Polytron Fox 350 disebut mampu melewati tanjakan curam dengan mudah saat menggunakan mode sport.
Harald juga mencoba hill start assist untuk skenario stop and go di tanjakan. Hasilnya berjalan baik, meski ia mengingatkan fitur tersebut memiliki batas waktu penggunaan dan tidak disarankan dipakai terus-menerus di tanjakan ekstrem.
Di sisi lain, perjalanan ini juga membongkar kekurangan utama motor listrik untuk touring jarak jauh. Tantangan terbesar bukan semata performa motor, melainkan ketersediaan infrastruktur charging yang belum merata.
Menurut Harald, pengguna motor listrik tetap harus merencanakan titik charging sebelum berangkat. Perencanaan ini penting agar perjalanan tetap aman dan tidak berisiko kehabisan baterai di tengah rute.
Catatan itu menjadi bagian paling krusial dari touring hampir 600 kilometer ini. Selama titik pengisian sudah diketahui sejak awal, perjalanan bisa berjalan lancar tanpa kendala berarti.
Rombongan memulai perjalanan dari kawasan Slipi, Jakarta Barat, menuju Merak melalui Serang dan Cilegon. Setelah itu mereka menyeberang ke Pulau Sumatera dan melanjutkan perjalanan menuju Way Kambas di Lampung.
Harald melakukan touring ini bersama tiga rekannya, termasuk pegiat motor listrik Om Tommy dan tim Kumparan. Perjalanan akhirnya ditutup dengan kepulangan selamat ke Jakarta setelah seluruh rute selesai dilalui.
Dari pengujian di jalan raya, jalan antarkota, titik charging, hingga tanjakan, Polytron Fox 350 memperlihatkan modal yang cukup kuat untuk kebutuhan harian sekaligus perjalanan jauh. Namun untuk touring yang benar-benar praktis bagi lebih banyak orang, perluasan infrastruktur charging tetap menjadi syarat yang paling menentukan.
