4 Kebiasaan Kantor yang Terlihat Sepele, Padahal Sudah Termasuk Fraud

Kecurangan di kantor sering tidak muncul sebagai pelanggaran besar yang langsung terlihat. Banyak di antaranya justru berawal dari kebiasaan kecil yang dianggap wajar karena sudah terlalu sering terjadi di lingkungan kerja.

Masalahnya, saat perilaku seperti ini terus dimaklumi, batas antara kerja profesional dan tindakan curang ikut kabur. Empat kebiasaan berikut kerap terlihat biasa, padahal sudah masuk kategori fraud dan bisa merugikan perusahaan dalam jangka panjang.

Mengulur waktu demi lembur

Lembur memang seharusnya diberikan saat beban kerja benar-benar tinggi dan tidak selesai dalam jam normal. Namun, sebagian karyawan sengaja memperlambat ritme kerja agar bisa mendapat tambahan uang lembur.

Pola ini bisa terlihat dari kebiasaan menunda tugas yang sebenarnya selesai lebih cepat. Tugas baru dikerjakan saat jam kantor berakhir, lalu diajukan sebagai lembur.

Tindakan seperti ini tergolong manipulatif karena memakai waktu kerja secara sengaja untuk keuntungan pribadi. Dampaknya tidak hanya pada biaya perusahaan, tetapi juga pada budaya kerja yang menjadi tidak sehat.

Memilih vendor karena imbalan pribadi

Pemilihan vendor seharusnya didasarkan pada kualitas kerja dan standar perusahaan. Namun, ada oknum yang lebih memikirkan keuntungan pribadi saat menentukan vendor untuk kebutuhan kantor.

Dalam praktiknya, vendor tertentu terus dipertahankan meski kualitasnya menurun atau harganya tidak masuk akal. Usulan vendor lain pun bisa ditolak dengan berbagai alasan yang tidak transparan.

Jika keputusan dipengaruhi komisi pribadi, perusahaan yang menanggung kerugian. Praktik seperti ini tidak hanya tidak profesional, tetapi juga bisa memengaruhi efisiensi dan kualitas pengeluaran kantor.

Memanipulasi nota belanja

Manipulasi nota belanja menjadi salah satu bentuk kecurangan klasik di kantor. Modusnya sering dianggap kecil, mulai dari meminta bon kosong hingga menaikkan nominal pengeluaran untuk konsumsi rapat.

Selisihnya memang sering hanya belasan sampai puluhan ribu rupiah. Tetapi jika dilakukan terus-menerus, akumulasinya bisa membebani anggaran perusahaan secara perlahan.

Kebiasaan ini kerap lolos karena banyak orang menganggap selisih kecil sebagai hal sepele. Padahal, toleransi terhadap nominal kecil justru membuka celah untuk kecurangan yang lebih besar.

Memakai aset kantor untuk urusan pribadi

Aset dan fasilitas kantor dibuat untuk mendukung pekerjaan operasional. Masalah muncul ketika fasilitas itu dipakai untuk menekan pengeluaran pribadi atau bahkan bisnis sampingan.

Contohnya, menggunakan printer kantor untuk mencetak dokumen di luar pekerjaan. Contoh lain adalah memakai akun software premium kantor untuk mengerjakan project pribadi.

Karena fasilitas itu sedang tidak dipakai, sebagian orang merasa tindakan tersebut bukan masalah. Padahal, penggunaan aset perusahaan demi kepentingan pribadi tetap termasuk penyalahgunaan fasilitas kerja.

Empat kebiasaan ini sering bertahan karena dinormalisasi di banyak tempat kerja. Tanpa pengawasan yang cukup, perilaku yang terlihat kecil bisa terus tumbuh dan makin sulit dikendalikan.

Source: www.idntimes.com

Terkait