Di tengah percakapan soal keluarga, peran ayah tunggal sering luput dari perhatian. Padahal, mereka harus mengurus anak sambil menanggung penilaian sosial yang tidak ringan.
Stigma itu muncul dalam banyak bentuk, dari keraguan soal kapasitas mengasuh hingga gosip di lingkungan sekitar. Dalam kehidupan sehari-hari, beban psikologis ini kerap datang bersamaan dengan tuntutan ekonomi dan tanggung jawab rumah tangga.
Dicap gagal saat rumah tangga berakhir
Salah satu stigma yang paling sering melekat adalah anggapan bahwa perceraian selalu menandakan ayah bermasalah. Padahal, ada banyak situasi yang membuat anak justru berada dalam pengasuhan ayah, termasuk ketika ibu sakit, bekerja jauh, atau memang tidak memungkinkan tinggal bersama anak.
Pandangan seperti ini membuat banyak orang menutup mata pada fakta bahwa pengasuhan bisa jatuh ke tangan ayah karena kebutuhan anak. Bagi sebagian duda cerai, keputusan itu justru menunjukkan tanggung jawab, bukan kegagalan.
Kemampuan mengasuh sering diragukan
Single father juga kerap dianggap tidak luwes dalam mengurus anak. Anggapan ini tidak selalu benar, karena banyak ayah yang bisa belajar cepat dan menjalankan pengasuhan dengan baik.
Masalahnya, cap buruk sering membuat setiap tindakan mereka dinilai salah. Perbedaan cara mengasuh dengan ibu pun kerap dibaca sebagai kekurangan, padahal bisa jadi hanya gaya pengasuhan yang berbeda.
Selalu dianggap akan cepat menikah lagi
Di mata sebagian orang, duda dengan anak hampir pasti ingin segera punya pasangan baru. Mereka lalu diasumsikan butuh istri untuk mengurus diri sendiri sekaligus anak-anaknya.
Stigma ini meremehkan kemampuan ayah tunggal untuk menjalani hidup secara mandiri. Pandangan tersebut juga seolah menempatkan pernikahan hanya sebagai solusi praktis, bukan pilihan yang harus lahir dari relasi yang tulus.
Lebih sulit mencari pasangan baru
Ironisnya, banyak single father justru tidak mudah mendapatkan jodoh. Sebagian perempuan berpikir dua kali karena merasa harus ikut memikul tanggung jawab sebagai ibu sambung.
Ada pula anggapan bahwa menikah dengan ayah tunggal berarti menambah beban pengasuhan anak tiri. Akibatnya, pria yang membesarkan anak seorang diri bisa lebih lambat menikah kembali dibandingkan single mother.
Terbentur pekerjaan lapangan
Tantangan lain datang dari jenis pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi. Jika seorang ayah tunggal bekerja di lapangan, apalagi sampai malam atau tidak pulang setiap hari, pengasuhan anak menjadi jauh lebih rumit.
Kondisi itu membuat anak sulit dibawa ke mana-mana. Tempat pengasuhan pun umumnya tidak tersedia selama 24 jam, sehingga ayah tunggal harus mencari cara lain agar kebutuhan anak tetap terpenuhi.
Gosip saat memakai pengasuh perempuan
Ketika keluarga tidak bisa membantu, pilihan paling masuk akal sering kali adalah mencari pengasuh anak. Masalahnya, di Indonesia pengasuh anak rata-rata berjenis kelamin perempuan.
Situasi ini bisa memicu prasangka dari orang sekitar. Ada yang langsung menebak negatif dan menganggap keberadaan perempuan di rumah sebagai alasan untuk bermain mata dengan pengasuh.
Mengasuh anak perempuan punya tantangan tambahan
Jenis kelamin anak juga memengaruhi berat ringannya pengasuhan. Banyak ayah merasa lebih mudah membesarkan anak laki-laki karena mereka memahami pengalaman tumbuh sebagai pria.
Sebaliknya, membesarkan anak perempuan membawa pengalaman baru yang tidak selalu mudah dijelaskan. Saat anak mengalami pertumbuhan payudara atau menstruasi, ayah bisa kesulitan memahami rasa sakit, ketakutan, dan stres yang muncul.
Di balik semua itu, single father tetap menghadapi tekanan yang kerap tidak terlihat. Dukungan dari lingkungan menjadi penting agar mereka tidak terus dibebani stigma saat menjalankan peran sebagai orang tua tunggal.
Source: www.idntimes.com





