MSG selama ini sering ditempatkan sebagai bahan yang perlu dihindari di dapur. Namun, data ilmiah justru menunjukkan gambaran yang berbeda: penyedap rasa ini bisa membantu menekan penggunaan garam tanpa membuat makanan kehilangan rasa.
Di tengah tren hidup sehat dan perhatian pada asupan natrium, informasi ini menjadi penting bagi banyak keluarga. Penggunaan MSG yang tepat disebut mampu mengurangi kebutuhan garam hingga 30 persen, sambil tetap menjaga kelezatan makanan.
Data dari U.S. Food and Drug Administration (FDA) dan World Health Organization (WHO) menunjukkan kandungan natrium dalam MSG hanya sekitar 12 persen. Sebagai pembanding, garam dapur biasa mengandung sekitar 40 persen natrium.
Perbedaan ini membuat MSG dipandang sebagai salah satu cara untuk mengurangi asupan natrium dari garam. Dengan kata lain, persoalannya bukan sekadar soal rasa gurih, tetapi juga soal strategi mengatur komposisi bumbu dalam masakan.
Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Food Science memperkuat pandangan tersebut. Penggunaan MSG yang tepat dilaporkan dapat menurunkan kebutuhan garam sampai 30 persen tanpa mengorbankan cita rasa makanan.
Bahkan, MSG disebut dapat meningkatkan palatability atau penerimaan rasa. Ini berarti makanan tetap terasa enak meski kadar garamnya diturunkan.
Mengapa MSG Terus Diperdebatkan
Stigma negatif terhadap MSG telah berkembang selama puluhan tahun. Banyak orang mengaitkannya dengan berbagai gangguan kesehatan, meski anggapan itu tidak sepenuhnya didukung fakta ilmiah yang tersedia.
Persepsi inilah yang membuat MSG kerap diposisikan sebagai “musuh” di dapur. Padahal, ketika dilihat dari kandungan natriumnya, MSG justru menawarkan sudut pandang baru dalam upaya mengurangi garam.
Selain itu, MSG bukan bahan yang asing dari sisi komposisi dasar. Bahan ini berasal dari proses fermentasi, termasuk fermentasi tebu, yang menghasilkan glutamat.
Glutamat sendiri merupakan salah satu asam amino yang secara alami juga terdapat pada berbagai bahan makanan. Senyawa ini bisa ditemukan pada tomat, keju, dan jamur.
Fakta tersebut penting karena perdebatan soal MSG sering berhenti pada stigma, bukan pada penjelasan ilmiah. Dalam konteks konsumsi sehari-hari, pemahaman yang lebih utuh dibutuhkan agar masyarakat tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan asumsi.
Edukasi Publik dan Kampanye #MSGYangBenar
Masih kuatnya kesalahpahaman mengenai MSG mendorong lahirnya berbagai upaya edukasi. PT Sasa Inti menggelar kampanye bertajuk #MSGYangBenar melalui acara “MSG: Satu Sendok, Sejuta Mitos” di Alun-Alun Surabaya pada 30 Juni 2026.
Kampanye ini bertujuan mengajak masyarakat melihat kembali mitos yang melekat pada MSG dari sudut pandang ilmiah. Fokusnya bukan sekadar membela satu produk, melainkan meluruskan informasi agar publik bisa menilai berdasarkan data.
Head of Marketing PT Sasa Inti, Albert Dinata, menyatakan MSG bukan musuh, melainkan solusi memasak praktis bagi keluarga Indonesia agar makanan sehat dan bergizi semakin lezat. Ia juga menilai banyak mitos tentang MSG beredar secara keliru dan salah kaprah.
Sebagai bagian dari edukasi, masyarakat juga dapat mengakses situs msgyangbenar.sasa.co.id. Kanal ini disediakan untuk membantu memvalidasi berbagai mitos dan fakta seputar MSG.
Bukti dari Dapur Sehari-hari
Pendekatan edukasi itu tidak hanya dilakukan lewat diskusi panel. Sasa juga menggandeng sejumlah pedagang nasi goreng legendaris di Surabaya yang telah puluhan tahun menggunakan MSG dalam masakan mereka.
Kehadiran para pelaku kuliner ini menjadi gambaran praktis tentang penggunaan MSG di lapangan. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa MSG dapat dipakai dalam sajian yang tetap aman dan lezat.
Dalam kolaborasi tersebut, para pedagang disebut berhasil mengurangi penggunaan gula dan garam secara signifikan dengan bantuan MSG. Rasa gurih yang menjadi ciri khas sajian mereka pun tetap terjaga.
Upaya ini memperlihatkan bahwa peran MSG tidak selalu identik dengan penambahan rasa secara berlebihan. Dalam praktik memasak, bahan ini justru bisa dipakai sebagai alat untuk menyeimbangkan bumbu, terutama saat garam ingin dikurangi.
Acara edukasi itu juga menghadirkan dokter dan health expert Reisa Broto Asmoro, dietisien Mochamad Rizal, S.Gz., M.S., Chef Martin Praja, serta ikon kuliner Surabaya Bu Rudy. Diskusi dipandu oleh Indra Herlambang.
Selain sesi diskusi, pengunjung diajak menikmati instalasi interaktif, menyaksikan demonstrasi memasak, dan mengikuti uji rasa secara langsung. Format ini dirancang agar pembahasan MSG tidak berhenti pada teori, tetapi juga bisa dirasakan dalam pengalaman makan sehari-hari.
Perdebatan tentang MSG pada akhirnya semakin relevan ketika dikaitkan dengan kebutuhan mengurangi garam dalam pola makan modern. Sejumlah bukti menunjukkan bahwa dengan penggunaan yang tepat, MSG dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjaga rasa tetap nikmat sambil menekan asupan natrium dari garam dapur.
Source: www.suara.com






