Remaja Boleh Bisa Nyetir, tapi Risiko Kecelakaannya Jauh Lebih Tinggi

Author: Qoo Media

“Sudah bisa bawa motor” tidak otomatis berarti aman di jalan. Pada remaja, kemampuan teknis sering belum sejalan dengan kesiapan psikologis dan pengalaman menghadapi risiko.

Itulah alasan mengapa kecelakaan lalu lintas lebih sering menghantam kelompok usia muda. WHO menyebut kecelakaan jalan raya sebagai salah satu penyebab kematian utama pada usia 5-29 tahun, sementara CDC mencatat pengemudi usia 16-19 tahun punya risiko kecelakaan jauh lebih tinggi dibanding kelompok usia lain.

Masalahnya bukan sekadar bisa mengendalikan kendaraan

Dari sisi keselamatan, berkendara menuntut lebih dari sekadar bisa gas, rem, dan belok. Pengemudi harus mampu membaca situasi, menilai bahaya, dan mengambil keputusan cepat dalam kondisi yang sering berubah.

Pada remaja, bagian otak yang mengatur pengendalian diri, pengambilan keputusan, dan penilaian risiko masih berkembang. Akibatnya, mereka cenderung lebih impulsif, lebih mudah terdorong oleh imbalan instan, dan lebih gampang terpengaruh teman sebaya.

Kondisi itu membuat rasa percaya diri di jalan tidak selalu diikuti kemampuan mengantisipasi bahaya. Situasi seperti memperkirakan kecepatan kendaraan lain, menghadapi bahaya mendadak, atau menahan dorongan untuk ambil risiko masih menjadi tantangan besar.

Pengalaman singkat, risiko ikut naik

Risiko kecelakaan paling tinggi biasanya terjadi pada tahun pertama seseorang mulai mengemudi, terutama dalam beberapa bulan awal. Pada fase ini, pengalaman menghadapi macet, hujan, kondisi darurat, dan situasi tak terduga masih sangat terbatas.

CNN Indonesia juga menyoroti bahwa risiko itu naik ketika remaja berkendara bersama teman sebaya. Mengutip American Academy of Pediatrics, kehadiran satu penumpang remaja saja dapat meningkatkan risiko kecelakaan sekitar 40 persen.

Jika penumpangnya bertambah, risikonya bisa meningkat lebih jauh. Teman sebaya juga dapat memicu perilaku lebih berani, mulai dari ngebut, melanggar aturan, hingga mengemudi lebih agresif.

Faktor yang sering memperburuk kondisi di jalan

Ada beberapa kebiasaan yang kerap memperbesar risiko pada pengemudi muda. Di antaranya mengemudi malam hari, kurang tidur, terdistraksi ponsel atau obrolan, serta tidak memakai helm atau sabuk pengaman secara konsisten.

Faktor Risiko Dampak Utama Keterangan
Penumpang remaja Risiko kecelakaan naik sekitar 40 persen Satu penumpang saja sudah berdampak
Jumlah penumpang bertambah Risiko meningkat hingga beberapa kali lipat Tekanan sosial ikut membesar
Kurang tidur dan berkendara malam Konsentrasi menurun Faktor yang sering memperburuk situasi
Distraksi ponsel, ngobrol, musik keras Fokus terpecah Mengganggu respons saat bahaya muncul

Sepeda motor lebih rentan

Jika yang dikendarai adalah sepeda motor, risikonya bisa lebih tinggi lagi. Berbeda dengan mobil, pengendara motor lebih rentan terhadap benturan langsung di jalan.

WHO menyebut penggunaan helm yang benar bisa menurunkan risiko kematian hingga enam kali lipat dan risiko cedera otak hingga 74 persen. Namun, kepatuhan memakai helm di kalangan remaja masih sering rendah.

Karena itu, pembatasan usia, latihan bertahap, dan pendampingan bukan sekadar aturan administratif. Langkah-langkah itu dibuat untuk menekan risiko yang memang nyata, terutama saat kemampuan teknis sudah ada tetapi kesiapan mengambil keputusan aman belum sepenuhnya terbentuk.

Source: www.cnnindonesia.com
Terbaru