3 Pola Asuh yang Terlihat Sayang, tapi Bikin Anak Sulit Mandiri

Banyak orang tua ingin melindungi anak dari rasa kecewa, tetapi niat baik itu kadang justru membuat anak makin sulit mandiri. Saat semua hal diatur, anak juga kehilangan ruang untuk belajar mengambil keputusan sendiri.

Camilla McGill, pelatih pengasuhan anak sekaligus ibu dari empat anak, menilai hampir semua orang tua pernah melakukan kesalahan dalam mengasuh. Menurutnya, masalahnya bukan kurang sayang, melainkan cinta yang terlalu besar hingga membuat orang tua ingin memastikan anak selalu baik-baik saja.

Melansir My Parenting Solutions, ada tiga pola asuh yang sering terlihat seperti bentuk perhatian, tetapi diam-diam bisa menghambat kemandirian anak. Berikut penjelasannya.

Pola AsuhDampak pada AnakContoh Sikap
Terlalu mengontrolAnak mudah melawan atau bergantung pada keputusan orang tuaMengatur hampir semua hal, dari pakaian sampai cara bermain
Mudah terpancing emosiAnak tidak mendapat contoh cara mengelola emosi dengan tenangLangsung membentak atau menghukum saat anak kesal
Terlalu mengejar kepatuhan sesaatAnak patuh karena takut, bukan karena paham tanggung jawabMengancam atau memberi hukuman agar anak segera menurut

1. Terlalu mengontrol, bukan membimbing

Banyak orang tua merasa harus mengendalikan hampir semua hal yang dilakukan anak, mulai dari cara berpakaian, mengerjakan tugas, hingga bermain. Di balik itu, biasanya ada rasa takut anak gagal, terluka, atau dinilai buruk oleh orang lain.

Masalahnya, semakin besar kontrol yang diberikan, semakin besar juga kemungkinan anak melawan. Sebagian anak membangkang dan berdebat, sementara sebagian lain memang menurut tetapi perlahan kehilangan kepercayaan diri karena terbiasa bergantung pada keputusan orang tua.

Karena itu, orang tua disarankan berperan sebagai pembimbing, bukan bos. Memberi pilihan yang masih aman bisa membuat anak merasa dihargai sekaligus belajar mengambil keputusan.

2. Mudah terpancing emosi

Mengasuh anak memang melelahkan, terutama ketika anak membantah, merengek, atau tidak mau mendengarkan. Namun, respons yang dipenuhi amarah justru membuat situasi makin panas dan tidak membantu anak yang sedang kewalahan.

Ketika anak melempar mainan karena kesal, membentak atau menghukum sering jadi reaksi spontan orang tua. Padahal, berhenti sejenak, mengambil napas, lalu berbicara dengan tenang bisa membuat anak lebih mudah menerima arahannya.

Cara ini juga membantu anak belajar mengenali emosinya. Anak tetap memahami bahwa ada konsekuensi dari perilakunya, tanpa harus merasa dipermalukan.

3. Terlalu mengejar kepatuhan sesaat

Dalam rutinitas yang padat, banyak orang tua ingin semua selesai cepat, termasuk saat anak diminta memakai sepatu, membereskan mainan, atau masuk ke mobil. Untuk mengejar hasil instan, sebagian orang tua menggunakan ancaman atau hukuman.

Kepatuhan seperti ini belum tentu membentuk tanggung jawab. Anak mungkin akhirnya menurut, tetapi karena takut, bukan karena paham pentingnya menjaga kerapian atau menyelesaikan kewajiban.

Daripada hanya mengejar kepatuhan sesaat, orang tua bisa menjadikan situasi sehari-hari sebagai kesempatan belajar. Dengan begitu, anak lebih berpeluang tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mampu memecahkan masalah, dan lebih mandiri.

Source: www.cnnindonesia.com
Terkait