Hubungan anak dan orang tua bisa renggang bukan karena kurang perhatian semata, tetapi karena pola asuh yang terasa seperti transaksi. Saat kasih sayang, ketenangan, atau penerimaan diposisikan sebagai sesuatu yang harus “dibayar” dengan balasan tertentu, anak cenderung merasa tidak aman.
Melansir www.beautynesia.id dan mengacu pada YourTango, pola seperti ini kerap membuat anak menjaga jarak. Tiga kebiasaan berikut menjadi ciri yang paling sering muncul dan bisa meninggalkan dampak emosional yang panjang.
1. Membuat Kebaikan Terasa Seperti Barter
Orang tua transaksional sering memberi bantuan atau perlakuan baik dengan syarat tertentu. Contohnya, anak diminta melakukan sesuatu agar orang tua tidak marah atau baru mendapatkan suasana rumah yang tenang setelah memenuhi permintaan tertentu.
Pola ini membuat anak merasa harus menukar kenyamanan dengan kewajiban. Alih-alih merasa dilindungi, anak justru belajar bahwa kasih sayang bisa berubah menjadi alat tawar-menawar.
| Kebiasaan | Bentuk yang Sering Muncul | Dampak pada Anak |
|---|---|---|
| Barter dalam pengasuhan | Kebaikan diberikan dengan syarat | Anak merasa tidak aman dan menjaga jarak |
| Merasa berhak atas respons anak | Ketenangan orang tua dikaitkan dengan imbalan | Anak terbebani untuk “membayar” penerimaan |
| Sikap pasif-agresif | Sindiran saat harapan tidak terpenuhi | Anak hidup dalam kewaspadaan |
2. Menganggap Segala Milik Anak Tetap Milik Orang Tua
Dalam pola transaksional, orang tua juga bisa merasa berhak atas apa pun yang dimiliki atau dicapai anak. Ucapan seperti mengingatkan bahwa suatu barang dibelikan oleh orang tua, atau menyebut anak tidak akan berhasil tanpa bantuan mereka, dapat membuat anak merasa pencapaiannya direbut.
Psikoterapis Sean Grover menilai pola tanpa batas seperti ini dapat memicu krisis kepercayaan yang terbawa hingga dewasa. Menurut www.beautynesia.id, sebuah penelitian di International Journal of Aging and Human Development juga menunjukkan trauma akibat pengkhianatan orang tua dapat berdampak pada kemampuan mengatur emosi, memicu ledakan emosi, dan membuat komunikasi menjadi buruk.
3. Menjadi Pasif-Agresif Saat Tidak Mendapat Balasan yang Diinginkan
Kebiasaan lain yang sering muncul adalah sikap pasif-agresif ketika orang tua merasa tidak memperoleh imbalan yang setimpal. Bentuknya bisa berupa sindiran terus-menerus atau perilaku seolah-olah orang tua adalah pihak yang paling terluka.
Akibatnya, anak belajar membaca ekspresi dan suasana hati orang tua agar bisa menebak keinginan mereka. Kondisi ini membuat anak berada dalam mode waspada dan dapat memicu kecemasan yang menetap saat dewasa.
Ketiga pola ini sama-sama memperlakukan relasi keluarga seperti pertukaran yang harus seimbang secara hitungan, bukan ruang aman untuk tumbuh. Saat anak terus diposisikan sebagai pihak yang harus membayar kasih sayang, jarak emosional sering kali muncul sebagai bentuk perlindungan diri.
***
Beauties, kebiasaan seperti ini terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa bertahan lama dalam cara anak memandang diri sendiri dan orang tuanya. Karena itu, memahami tanda-tandanya penting agar hubungan keluarga tidak terus dibangun di atas rasa berutang.







