Tangisan anak di gerbang sekolah dapat membuat orang tua ragu untuk segera pergi. Namun, memperpanjang momen pamit justru berisiko membuat anak semakin sulit melepaskan diri.
Situasi ini umum terjadi pada hari-hari awal sekolah, terutama ketika anak belum terbiasa berpisah dari pengasuh utamanya. Anak membutuhkan pesan yang konsisten bahwa sekolah adalah tempat aman dan orang tua akan kembali menjemputnya.
Dalam psikologi, kecemasan saat berpisah ini dikenal sebagai kecemasan berpisah. American Academy of Pediatrics atau AAP menyebut menangis, menolak masuk kelas, dan ingin terus ditemani masih dapat menjadi respons wajar selama masa penyesuaian.
Setiap anak memiliki waktu adaptasi yang berbeda. Ada yang mulai nyaman dalam beberapa hari, sementara lainnya memerlukan beberapa minggu untuk terbiasa dengan lingkungan, guru, serta rutinitas baru.
7 cara membantu anak lebih tenang saat ditinggal di sekolah
1. Tetap tenang saat mengantar anak
Orang tua perlu berusaha menunjukkan sikap tenang meski anak sedang menangis. Anak sangat peka terhadap ekspresi cemas, ragu, atau sedih yang ditunjukkan ayah dan ibu saat berpamitan.
Jika orang tua tampak khawatir, anak dapat menangkap kesan bahwa sekolah adalah tempat yang menakutkan. Sebaliknya, sikap percaya diri dapat membantu anak merasa bahwa ia berada dalam situasi yang aman.
2. Buat rutinitas pamitan yang singkat
Rutinitas pamitan yang sederhana dan dilakukan berulang dapat memberi anak kepastian. Orang tua dapat memeluk anak, memberi ciuman, mengucapkan salam, lalu segera pergi.
Proses ini tidak perlu menunggu sampai anak berhenti menangis sepenuhnya. Pamitan yang terlalu panjang justru dapat membuat perpisahan terasa semakin berat bagi anak.
3. Jangan pergi diam-diam atau kembali setelah berpamitan
Meninggalkan anak tanpa berpamitan bukan cara yang dianjurkan. Anak dapat merasa orang tuanya menghilang tiba-tiba, sehingga rasa percaya dan rasa amannya justru berkurang.
Setelah pamit, orang tua juga sebaiknya tidak kembali hanya karena mendengar anak menangis. Bila hal itu terus terjadi, anak dapat belajar bahwa tangisan membuat orang tua tetap berada di dekatnya.
4. Alihkan perhatian ke kegiatan yang disukai
Tangisan umumnya muncul paling kuat pada momen perpisahan. Kecemasan dapat berkurang ketika perhatian anak beralih ke permainan, guru, atau teman-teman di kelas.
Orang tua dapat menyampaikan kepada guru kegiatan yang biasanya disukai anak. Guru kemudian dapat mengajak anak bergabung dalam aktivitas tersebut segera setelah ia tiba di sekolah.
5. Bangun komunikasi yang baik dengan guru
Masa adaptasi sekolah anak bukan hanya tugas orang tua, tetapi juga guru. Sambutan yang hangat dan pendekatan yang tidak memaksa dapat membantu anak merasa lebih diterima.
Komunikasi antara orang tua dan guru juga penting untuk memantau perkembangan anak selama masa penyesuaian. Informasi tentang kapan anak mulai tenang atau aktivitas yang membuatnya nyaman dapat menjadi bahan evaluasi bersama.
Menurut laporan www.cnnindonesia.com, penelitian mengenai kecemasan berpisah pada anak usia dini menunjukkan anak lebih mudah beradaptasi saat mendapat rasa aman dari guru. Pendampingan yang tepat membantu anak perlahan mengenali sekolah sebagai lingkungan yang dapat dipercaya.
6. Beri apresiasi untuk kemajuan kecil
Anak tidak harus langsung berhenti menangis dalam satu atau dua hari. Orang tua dapat memberi pujian ketika anak lebih cepat tenang, berani masuk kelas, atau mampu berpisah tanpa tangisan panjang.
Apresiasi sederhana dapat memperkuat rasa percaya diri anak. Fokusnya bukan pada kesempurnaan, melainkan pada kemajuan kecil yang terjadi dari hari ke hari.
7. Waspadai jika tangisan berlangsung terlalu lama
Orang tua perlu memperhatikan bila tangisan terus berlangsung selama berminggu-minggu, semakin berat, atau membuat anak menolak sekolah. Kondisi yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
AAP menyarankan orang tua berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog bila kecemasan berpisah tampak menetap dan menghambat keseharian anak. Langkah ini dapat membantu memastikan apakah anak memerlukan penanganan lanjutan.
Menangis saat ditinggal bukan berarti anak gagal beradaptasi di sekolah. Dengan rutinitas yang konsisten, kerja sama dengan guru, dan rasa aman yang terus dibangun, anak dapat belajar bahwa perpisahan di pagi hari hanya berlangsung sementara.
Source: www.cnnindonesia.com






