Rumah seharusnya menjadi tempat beristirahat setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, tumpukan pakaian, mainan, dan barang yang memenuhi sudut ruangan dapat mengubahnya menjadi sumber rasa kewalahan.
Masalahnya bukan hanya tampilan rumah yang terlihat berantakan. Setiap barang memerlukan ruang, perhatian, waktu untuk dibersihkan, serta energi untuk dicari dan ditata kembali.
Lingkungan yang terlalu penuh dapat membuat pekerjaan rumah terasa tidak pernah selesai. Rak yang sesak dan meja yang dipenuhi barang juga bisa menambah beban pikiran karena selalu ada hal yang perlu dibereskan.
Barang yang banyak dapat mengurangi rasa kendali
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology menemukan bahwa banyak orang memilih gaya hidup minimalis untuk memperoleh kendali lebih besar atas kehidupannya. Dalam wawancara penelitian tersebut, partisipan mengaku merasa terbebani oleh jumlah barang yang mereka miliki.
Setelah mengurangi kepemilikan, para partisipan melaporkan perasaan lebih bebas, lebih mampu mengatur keseharian, dan lebih fokus pada hal yang dianggap penting. Mereka juga merasakan kejernihan mental saat tinggal di lingkungan yang lebih sederhana dan minim barang.
Memiliki lebih sedikit barang dinilai membantu seseorang merasa lebih kompeten dalam mengelola lingkungan tempat tinggalnya. Sebaliknya, barang yang terus bertambah menuntut perhatian untuk disimpan, dibersihkan, dirapikan, dan diingat letaknya.
Kondisi ini kerap terjadi tanpa disadari, terutama di rumah keluarga yang memiliki anak. Mainan, perlengkapan sekolah, hadiah, pakaian, serta barang yang sudah jarang digunakan dapat terus menumpuk dari waktu ke waktu.
| Langkah | Fokus Utama | Tujuan |
|---|---|---|
| Decluttering rutin | Memilah barang yang tidak lagi digunakan | Mencegah barang terus menumpuk |
| Menyisakan ruang kosong | Tidak memenuhi rak, meja, dan sudut rumah | Menciptakan kesan lebih lapang |
| Membatasi penyimpanan | Mengevaluasi barang sebelum membeli rak atau kotak baru | Mengurangi kebiasaan menyimpan barang tak diperlukan |
3 Cara Mengurangi Beban Barang di Rumah
1. Lakukan decluttering secara rutin
Decluttering dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, misalnya memilah barang ketika membersihkan rumah pada akhir pekan. Barang yang sudah lama tidak digunakan tetapi masih layak pakai dapat dipertimbangkan untuk didonasikan kepada orang lain.
Langkah ini tidak mengharuskan seseorang membuang seluruh isi rumah. Tujuannya adalah menjaga agar barang yang tersimpan benar-benar dibutuhkan atau memiliki nilai bagi pemiliknya.
2. Tidak semua ruang harus diisi
Rak, meja, dan sudut ruangan tidak selalu harus dipenuhi dekorasi atau benda lain. Ruang kosong justru dapat membuat rumah terasa lebih lapang dan memberi kesan visual yang lebih tenang.
Kebiasaan mengisi setiap area sering membuat jumlah barang bertambah tanpa batas yang jelas. Menyisakan ruang dapat menjadi pengingat bahwa rumah tidak harus penuh untuk terasa nyaman.
3. Batasi penambahan tempat penyimpanan
Membeli kotak penyimpanan atau rak baru sering terlihat sebagai solusi cepat ketika rumah mulai sesak. Namun, semakin banyak tempat penyimpanan tersedia, semakin besar peluang barang yang sebenarnya tidak diperlukan tetap disimpan.
Sebelum menambah lemari, rak, atau wadah baru, pemilik rumah dapat mengevaluasi isi yang sudah ada. Cara ini membantu mengalihkan perhatian dari mencari ruang tambahan menjadi menilai kembali barang yang benar-benar perlu dipertahankan.
Minimalisme tidak harus ekstrem
Gaya hidup minimalis bukan berarti seseorang harus menyingkirkan hampir semua barang miliknya. Pendekatan ini lebih menekankan pada pilihan untuk menyimpan barang yang berguna atau bernilai secara pribadi.
Menurut laporan lifestyle.kompas.com, tujuan utamanya bukan sekadar membuat rumah tampak rapi dan estetik. Pengurangan barang dapat memberi lebih banyak waktu dan energi untuk hal-hal yang dianggap lebih bermakna.
Minimalisme juga bukan satu-satunya solusi untuk stres. Jika rasa stres telah mengganggu aktivitas sehari-hari atau berlangsung berkepanjangan, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental tetap disarankan.







