Dunia Digital Tak Bisa Dijauhkan dari Anak, Pendampingan Orang Tua Jadi Penentu

Dunia digital kian menjadi ruang belajar sekaligus taman bermain bagi anak-anak yang lahir di era teknologi. Karena itu, tantangan terbesar bagi keluarga bukan semata-mata menjauhkan anak dari layar, melainkan memastikan mereka mampu menggunakannya dengan aman.

Psikolog klinis anak Nisfie M. Hoesein menilai orang tua perlu mengubah cara pandang terhadap gadget dan media sosial. Perangkat digital tidak selalu harus diposisikan sebagai ancaman, tetapi sebagai media yang perlu diimbangi dengan bekal literasi digital anak.

Gadget Bukan Sekadar Perangkat Hiburan

Generasi terkini, terutama Gen Alpha, tumbuh sebagai digital native yang telah bersentuhan dengan teknologi sejak awal kehidupan. Buku pun bukan lagi satu-satunya sumber informasi karena anak dapat menemukan pengetahuan, hiburan, dan permainan melalui perangkat digital.

Menurut Nisfie, pertanyaan tentang kapan anak siap menggunakan gadget sebaiknya tidak hanya berfokus pada usia. Yang lebih penting adalah kesiapan keluarga menjadikan perangkat tersebut sebagai bagian dari proses belajar yang sehat.

“Anak kita siapkan untuk siap literasi digital, ya itu gadget menjadi media pembelajaran. Kalau jadi media, itu enggak lagi bicara kapan siap atau tidak,” kata Nisfie dalam perbincangan dengan www.cnnindonesia.com.

Pendekatan ini tidak berarti anak boleh bebas mengakses seluruh ruang digital tanpa batas. Orang tua tetap perlu mengenalkan aturan, jenis konten yang sesuai, serta cara merespons pengalaman yang membuat anak tidak nyaman.

Pendampingan Harus Menyatu dengan Gadget

Nisfie menekankan bahwa gadget dan pendampingan adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Memberikan perangkat kepada anak tanpa arahan dinilai berisiko, berapa pun usia anak tersebut.

Ia bahkan menilai anak sekolah dasar yang memakai gadget tanpa pendampingan dapat menghadapi risiko lebih besar dibandingkan anak berusia dua tahun yang mengaksesnya bersama orang tua. Perbedaannya terletak pada keberadaan orang dewasa yang membantu anak memahami apa yang dilihat dan dilakukan.

Dalam gambaran Nisfie, anak dapat diposisikan sebagai pilot yang memegang kendali, sementara orang tua menjadi co-pilot yang membantu membaca arah. Peran orang tua bukan mengambil alih seluruh pengalaman digital anak, tetapi menavigasi pilihan dan membuka ruang percakapan.

Orang tua dapat mengarahkan anak mengenai konten yang boleh atau tidak boleh diakses. Setelah anak menonton atau membuka situs tertentu, orang tua juga dapat meminta mereka menceritakan kembali isi konten serta pengalaman yang dirasakan.

Usia AnakBentuk PendampinganPeran Orang Tua
2-5 tahunPendampingan fisikBerada dekat dengan anak saat mengakses gadget
Di atas 8 tahunKepercayaan bertahapMengajak anak berbagi pengalaman setelah mengakses konten sendiri

Pada usia dua hingga lima tahun, kehadiran fisik orang tua disebut mutlak diperlukan saat anak memakai gadget. Orang tua perlu berada di dekat anak agar dapat langsung memberi penjelasan atau mengalihkan perhatian bila muncul konten yang tidak sesuai.

Ketika anak berusia di atas delapan tahun, orang tua dapat mulai memberi kepercayaan secara bertahap. Bekal yang diberikan sejak kecil dapat membantu anak memahami batasan saat mereka mengakses konten tanpa orang tua berada di sampingnya.

Di fase ini, komunikasi tetap menjadi bagian penting dari pendampingan orang tua. Anak dapat diminta bercerita tentang hal-hal menarik yang ditemui saat menggunakan perangkat digital ketika keluarga kembali berkumpul di rumah.

Risiko Konten dan Kemampuan Sosial

Lingkungan digital tidak dapat dibuat sepenuhnya steril bagi anak karena algoritma dapat memunculkan konten yang tidak sesuai usia. Namun, pembelajaran sejak awal dapat membantu anak mengenali rasa tidak nyaman dan mengetahui bahwa mereka perlu bercerita kepada orang tua.

Nisfie menyarankan orang tua mulai memperkenalkan peringatan ketika anak lebih besar. Anak perlu memahami bahwa tidak semua konten di internet menyenangkan, termasuk materi yang menampilkan perilaku tidak sopan atau tidak pantas.

“Tapi kalau nemu, ceritain ya,” menjadi pesan sederhana yang dapat membuka jalur komunikasi antara anak dan orang tua. Respons seperti ini membantu anak merasa memiliki tempat aman untuk membahas pengalaman digital yang mengganggu.

Selain paparan konten, penggunaan gadget tanpa pendampingan juga dikhawatirkan memengaruhi kepekaan sosial anak di dunia nyata. Anak berpotensi kurang terlatih membangun empati, menghadapi tantangan kehidupan, serta berkomunikasi secara verbal dan mengembangkan keterampilan sosial.

Interaksi digital yang terlalu sering juga dapat membuat gerak tubuh anak kurang terolah. Kondisi tersebut berpotensi berkaitan dengan gangguan perkembangan fisik dan metabolik, termasuk risiko obesitas.

Karena dunia digital akan terus hadir dalam keseharian anak, pengawasan tidak harus berarti mengintai setiap aktivitas mereka. Pendampingan yang konsisten, aturan yang jelas, dan komunikasi terbuka menjadi bekal agar anak dapat memakai teknologi secara lebih sehat.

Source: www.cnnindonesia.com
Terkait