
PT BPR Jatim (Perseroda) berhasil mencatat pertumbuhan laba sebelum pajak sebesar 31,29 persen pada tahun buku 2025. Laba tercatat Rp36,829 miliar, naik signifikan dari Rp28,051 miliar tahun sebelumnya.
Penguatan ini didukung oleh ekspansi kredit produktif yang terus berkembang, penghimpunan dana pihak ketiga yang meningkat, serta perbaikan kualitas pengelolaan risiko secara menyeluruh. Pencapaian ini menegaskan peran BPR Jatim sebagai BUMD yang berkontribusi langsung pada pembangunan ekonomi Jawa Timur.
Penguatan Kinerja melalui Tata Kelola Perusahaan
Menurut Direktur Kepatuhan PT BPR Jatim, Ir. Mohamad Amin, keberhasilan tersebut berawal dari penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG). Pada semester II tahun 2025, BPR Jatim mendapat predikat komposit “Baik” berkat perangkat tata kelola memadai dan pengawasan regulator yang efektif.
Perusahaan juga meraih sertifikasi ISO 27001 sebagai bukti pengelolaan data dan manajemen risiko informasi sudah sesuai standar keamanan global. Selain itu, BPR Jatim fokus memperkuat transparansi, akuntabilitas, serta sistem pengendalian internal untuk mengendalikan risiko secara optimal di seluruh organisasi.
Kualitas Aset dan Pengelolaan Risiko yang Membaik
Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) berhasil ditekan dari 9,94 persen menjadi 7,54 persen. Penurunan sebesar 2,4 persen ini menunjukkan efektivitas pengelolaan risiko kredit, mulai dari analisis pembiayaan yang lebih ketat hingga optimalisasi strategi penagihan dan restrukturisasi kredit.
Penguatan manajemen risiko kredit ini berdampak positif pada stabilitas keuangan dan kualitas portofolio kredit BPR Jatim. Dengan demikian, posisi kredit, dana pihak ketiga, deposito, dan total aset mampu melampaui target yang telah ditetapkan oleh manajemen.
Dominasi Kredit Produktif sebagai Motor Pertumbuhan
Sebesar 93,65 persen dari total portofolio kredit, yakni Rp3,109 triliun, disalurkan untuk kredit produktif kepada 54.697 nasabah. Kredit konsumtif hanya mencakup 6,35 persen atau Rp210,931 miliar untuk 4.806 nasabah. Keseluruhan debitur mencapai 59.503 orang, menandakan ekspansi pembiayaan yang luas di sektor usaha masyarakat dan UMKM.
BPR Jatim juga mengembangkan program pembiayaan unggulan yang mengedepankan inklusi ekonomi, seperti Kredit Prokesra dengan bunga ringan 3% per tahun untuk pelaku usaha ultra mikro dan Paket Kredit Petani Jawa Timur (PKPJ) dengan bunga 6% per tahun yang dapat dibayar setelah panen. Program-program ini membantu mendorong perekonomian lokal berbasis sektor produktif.
Transformasi Digital Mendukung Efisiensi dan Layanan Nasabah
Transformasi digital menjadi salah satu pilar keberhasilan BPR Jatim. Perusahaan mengembangkan aplikasi internal untuk monitoring transaksi dana pihak ketiga, layanan keluhan, asuransi kredit, serta sistem informasi sumber daya manusia secara real-time. Dokumen dan aktivitas penghimpunan dana serta kredit juga terdigitalisasi untuk efisiensi.
Untuk layanan nasabah, BPR Jatim menyediakan kanal digital yang memungkinkan transaksi mandiri melalui ponsel kapan saja dan di mana saja. Selain itu, nasabah dapat menggunakan layanan kartu di jaringan ATM bank lain yang tergabung dalam Artajasa, serta melakukan pembayaran angsuran kredit lewat berbagai loket payment point dan gerai Indomaret. Inovasi ini meningkatkan kemudahan dan aksesibilitas layanan perbankan.
Kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Pembangunan Daerah
Kontribusi BPR Jatim terhadap pembangunan daerah tercermin dari meningkatnya setoran PAD kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Dana PAD yang disetorkan naik dari Rp9,428 miliar pada tahun 2024, menjadi Rp13,072 miliar pada 2025, serta diperkirakan mencapai Rp9,616 miliar pada tahun berjalan. Realisasi setoran kepada seluruh pemegang saham juga meningkat signifikan, yakni Rp10,997 miliar pada 2024 dan Rp15,327 miliar pada 2025.
Sinergi antara tata kelola yang baik, manajemen risiko yang kuat, dan inovasi digital menjadikan PT BPR Jatim (Perseroda) sebagai bank BUMD yang mampu mencatat kinerja positif sekaligus mendukung inklusi keuangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat Jawa Timur. Upaya ini berkelanjutan dalam memperkokoh peranan bank sebagai penggerak perekonomian daerah yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Source: www.topbusiness.id




